Thursday, August 18, 2022

Enggano Simapan Harta Karun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kepiting capit merah yang dijumpai tim LIPI.
Kepiting capit merah yang dijumpai tim LIPI.

Hujan belum lama reda dan langit masih berawan. Mendadak suara mirip tiupan seruling tetapi berat dan dalam terdengar. Warga desa Banjarsari, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, sontak datang dan berkumpul di depan kediaman kepala desa. Kepala desa memerintahkan warga agar mewaspadai datangnya gelombang tinggi. Maklum, desa di sisi utara pulau itu menghadap langsung ke Samudera Hindia.

Suara panggilan yang mengumandang ke seluruh desa itu berasal cangkang kerang atau kamiung. “Jika di Jawa orang menggunakan kentongan sebagai alarm, masyarakat Enggano menggunakan kamiung. Tapi tidak semua orang boleh meniupnya, hanya kepala desa dan kepala suku,” kata Dr Amir Hamidy, koordinator tim peneliti Ekspedisi Bioresources Pulau Enggano Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2015.

Tiupan kamiung berarti akan ada berita dari tetua kampung. Berita itu bisa perintah kerja bakti, pengumuman akan datangnya bahaya, atau berita dukacita lantaran salah satu warga meninggal. Semasa hidupnya, kamiung itu merayap di permukaan karang dan memangsa bintang laut. Penggunaan cangkang moluska sepanjang 10—50 cm itu sebagai alat musik tiup sohor hampir di seluruh dunia, sampai-sampai ia dinamai triton’s trumpet.

Dr Amir Hamidy, “Enggano mempunyai keragaman tinggi dan berperan penting secara politis.”
Dr Amir Hamidy, “Enggano mempunyai keragaman tinggi dan berperan penting secara politis.”

Selain untuk alat musik tiup, cangkang kamiung Charonia tritonis itu juga banyak dijual bebas sebagai cinderamata, terutama di daerah wisata pesisir. Komoditas utama Enggano antara lain melinjo dan pisang. Melinjo enggano, meski dinyatakan sebagai spesies sama Gnetum gnemon, berukuran lebih besar. Dr Andria Agusta, periset Kimia Bahan Alam Pusat Penelitian Biologi LIPI, menyatakan bahwa perbedaan ukuran semata tidak bisa menjadi tolok ukur yang sahih untuk mendefinisikan spesies berbeda.

Sejatinya ekspedisi pada 1937 oleh ilmuwan Belanda Johann RE Lutjeharms menyebutkan adanya kerabat melinjo dari spesies berbeda, yaitu Gnetum loerzingii. Menurut Andria, jenis itu disebutkan dalam literatur sebagai melinjo rambat lantaran batangnya tumbuh menjalar seperti liana. Sayang, ekspedisi selama 12 hari oleh hampir 60 peneliti dan tim pendukung tidak menjumpai melinjo rambat itu.

Temuan yang cukup menarik adalah perbedaan komposisi satwa di Enggano dibandingkan dengan pulau-pulau lain di barat Sumatera seperti Mentawai, Nias, atau Siberut. Kelompok burung elang dan paruh bengkok tidak dijumpai, tetapi capung di Enggano lebih banyak kemiripan dengan capung asal Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Padahal Enggano menjadi kajian ilmiah penting lantaran secara geologis pulau itu tidak pernah menyatu dengan daratan Sumatera.

Spons dari perairan pulau Enggano.
Spons dari perairan pulau Enggano.

Enggano adalah pulau samudera yang berasal dari patahan kepulauan Mentawai. “Buktinya adalah absennya mamalia kecil yang hidup di pohon (arboreal) seperti bajing atau primata,” kata Amir Hamidy. Di daratan utama seperti Sumatera atau Jawa, mamalia arboreal lazim dijumpai. Meskipun kelimpahan burung rendah, pulau berjarak 40 menit penerbangan dari Bengkulu itu menyimpan beberapa burung endemik.

Lembaga swadaya masyarakat Burung Indonesia mencatat ada 14 spesies burung endemik di sana. Salah satunya adalah burung hantu Otus enganensis. Selain itu, jenis burung rajaudang alias kingfisher pun berbeda dengan di Sumatera. Menurut Hidayat Ashari, ornitolog di Puslit Zoologi LIPI, kingfisher di Enggano mempunyai paruh merah dengan sayap lebih kehitaman.

Sementara burung sama yang ia jumpai di Sumatera berparuh hitam dengan sayap biru. Meski demikian, Hidayat belum berani menyatakan kingfisher Enggano sebagai jenis baru. Pasalnya, “Dalam spesies yang sama bisa muncul beberapa variasi,” kata Hidayat. Untuk mengetahui penyebab terjadinya variasi itu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pulau Enggano juga menyimpan krustasea unik. Salah satunya kepiting darat Discoplax magna yang baru dideskripsikan oleh periset asal Singapura dan Taiwan pada 2014. Kepiting itu mudah dikenali lantaran warnanya yang mencolok, tetapi taksonom terdahulu menggolongkannya sebagai D. hirtipes. “Penemuan kepiting itu di Enggano menjadi catatan baru yang menambah data persebarannya,” kata Amir Hamidy.

Perjalanan dengan perahu cukup memakan waktu.
Perjalanan dengan perahu cukup memakan waktu.

Hewan berkaki perut alias moluska darat di Enggano pun beragam jenis dan ukurannya, mulai dari yang terkecil hanya 2 mm hingga yang berukuran hampir 7 cm. Keong mungil Diplommatina ceuli dengan cangkang hanya sepanjang 2 mm, sementara keong Amphidromus engganoensis berukuran hampir 7 cm. Keong A. engganoensis mudah dikenali lantaran corak cangkangnya yang indah.

Tanaman di pulau seluas 402,6 km2 itu pun banyak yang endemik. Salah satunya soka Ixora engganensis. Sepintas sosoknya mirip dengan I. indica dengan bunga merah atau jingga yang lazim ditanam di pekarangan rumah. Bedanya soka enggano tumbuh mengelancir dengan daun berukuran lebih besar. Tanaman endemik lain yang ditemukan tim LIPI adalah Zingiber engganoense.

Tanaman itu lebih dekat dengan jahe hias Z. spectabile ketimbang jahe dapur Z. officinale. Menurut Dr Marlina Ardiyani, periset di Puslit Botani LIPI, masyarakat Enggano belum memanfaatkan jahe hias itu. Ia tengah meneliti potensi kerabat jahe itu. Tidak hanya tanaman atau satwa kasat mata saja yang menjadi objek penelitian tim ekspedisi LIPI. Makhluk mikroskopis seperti bakteri, cendawan, khamir, dan alga pun disasar.

Nyamplung tumbuh di pantai Enggano.
Nyamplung tumbuh di pantai Enggano.

Menurut Dr Andria Agusta, kekayaan mikrob tanahair berlimpah tetapi nyaris belum tersentuh. “Padahal potensi yang tersimpan luar biasa. Contohnya bakteri Aktinomisetes yang mempunyai nilai komersial tinggi sebagai produsen antibiotik,” kata Andria. Itu belum termasuk potensi mikrob lain, seperti dari golongan kapang atau ragi.
Besarnya potensi Enggano menjadikan pulau itu subjek penelitian penting. Sayang, jalannya penelitian tim beranggotakan 60 orang peneliti dan personil pendukung itu tidak mulus. Dari total waktu yang tersedia sebanyak 20 hari, hanya 10 hari yang efektif. Sisanya terkuras untuk perjalanan dan pengurusan izin. Sudah begitu, ketika di lapangan, hujan badai menyambut. Akibatnya kegiatan pengumpulan sampel pun kurang maksimal.

Keong bercorak indah di Enggano.
Keong bercorak indah di Enggano.

Enggano sebagai pulau yang dekat dengan pulau besar menghadapi tekanan yang cukup kuat. Contoh kerusakan yang sudah terjadi adalah terumbu karang tempat hidup kamiung. Semula kamiung bisa dijumpai hidup di daerah terumbu karang di sisi barat daya pulau seperti di tanjung Labuha atau Tanjung Keramai.

Tiupan kamiung mengundang masyarakat berkumpul.
Tiupan kamiung mengundang masyarakat berkumpul.

Sayang, eksploitasi tanpa aturan merusak terumbu karang. Penangkapan ikan dengan racun atau bahan peledak membuat sebagian terumbu mati. Itu diperburuk dengan gempa tektonik yang melanda pulau itu pada 2000. Sudah begitu, penggunaan karang sebagai material untuk konstruksi jalan atau bangunan semakin memperburuk kondisinya. Data Direktorat Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2015 menyebutkan tutupan karang hidup berkisar 5—20% atau dalam kategori sangat buruk.

Peneliti mikrobiologi mengumpulkan sampel dari pantai.
Peneliti mikrobiologi mengumpulkan sampel dari pantai.

Akibatnya kamiung pun tidak pernah lagi dijumpai di sekitar Enggano. Kerusakan karang itu membawa akibat lain. Ikan yang biasanya berlindung di terumbu karang pun turut lenyap. Efeknya masyarakat Enggano berpaling dari profesi nelayan menjadi petani atau pekebun sehingga luas hutan yang dikonversi menjadi kebun pun bertambah.
Padahal Enggano mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang unik. Sudah begitu, sebagai salah satu pulau terluar yang jaraknya relatif dekat dari ibukota negara, pulau itu pun berperan penting dari segi politis. Eksplorasi potensi sumber daya biologi berpacu dengan dinamika masyarakat dan ancaman perubahan iklim.

Peneliti mengambil sampel spons dari perairan Enggano.
Peneliti mengambil sampel spons dari perairan Enggano.

Ekspedisi LIPI pada 16 April—5 Mei 2015 silam itu baru langkah awal. Penelitian lanjutan untuk menguak potensi yang tersimpan masih memerlukan waktu, biaya, dan tenaga. Semua demi terwujudnya bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaulat. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img