Monday, November 28, 2022

Episode Baru Keprok Garut

Rekomendasi

Pada 1950-1964 adalah masa kejayaan jeruk garut. Luas areal tanam ketika itu mencapai 2.661 ha. Dengan jarak tanam 5 m x 5 m, total populasi mencapai 1,06-juta pohon. Dari lahan seluas itu dihasilkan 54.000 ton jeruk/tahun. Jeruk keprok dan siem garut menjadi buah tangan wajib bila singgah di kabupaten di selatan Bandung itu.

Jeruk keprok lebih disukai konsumen lantaran bersosok bongsor. Rasanya manis menyegarkan. Kulitnya pun regas sehingga mudah dikupas. Pantas bila penghasilan pekebun di sentra-sentra produksi seperti Kecamatan Wanaraja dan Karangpawitan ikut terdongkrak. ‘Dari hasil 2 kali panen, pekebun bisa berhaji,’ kata Hendi.

Serangan penyakit

Sayang, pada 1964, manisnya perniagaan jeruk mulai surut lantaran mewabahnya serangan penyakit. Gejalanya daun tumbuh tegak dan menguning. Ukuran buah mengecil lantaran minim kadar air. Pada 1968, Universitas Padjadjaran mengungkap penyakit itu, citrus vein phloem degeneration (CVPD). Penyebabnya, mikroorganisme mirip bakteri. Perawatan tidak intensif menjadi salah satu pemicu.

Akibatnya, populasi jeruk di Kabupaten Garut menurun. Pada 1970, areal tanam jeruk hanya tersisa ratusan hektar dengan hasil ratusan ton. ‘Pada 1974, jeruk keprok masih ditanam tapi hanya di pekarangan,’ ujar Dede Rustandi penangkar bibit di Desa Karangpawitan Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Di daerah sentra seperti Karangpawitan dan Tajur, serangan penyakit terus mendera hingga 1980. Sentra produksi beralih ke Garut bagian selatan seperti Cikelet dan Pameungpeuk.

Keberadaan jeruk garut kian terancam setelah meletusnya Gunung Galunggung pada 1982. Ketika itu banyak pekebun gulung tikar lantaran kesulitan modal untuk kembali mengebunkan jeruk. Mereka pun beralih membudidayakan sayuran yang jangka waktu pengembalian modalnya lebih singkat. Populasi jeruk di Kabupaten Garut terus anjlok. Pada 1992, yang tersisa hanya 52.000 pohon. Hasilnya, 520 ton jeruk/tahun, atau 100 kali lebih rendah ketimbang produksi pada 1950.

Bangkit

Tak ingin kebanggaan warga Garut itu pudar, Departemen Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Garut bahumembahu menggelar program rehabilitasi jeruk. Seluruh tanaman sakit di daerah endemik serangan seperti di Wanaraja dan Karangpawitan dibabat habis. Untuk mempertahankan galur murni keprok garut, tanaman yang selamat diboyong ke Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika di Tlekung, Jawa Timur.

Di sanalah tanaman ‘dibersihkan’ dari kontaminasi penyakit. Mata tunas diperbanyak dengan kultur jaringan. Hasilnya menjadi sumber bibit yang kelak diberikan ke Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) Garut untuk diperbanyak. Dari sana bibit disebar ke penangkar.

Berkat program itu, populasi jeruk mulai bangkit. Menurut data UPTD Data dan Informasi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, pada 1993 populasi jeruk 140.584 pohon. Namun, jenis yang dikembangkan sebagian besar siem.

Menurut Ir Arry Supriyanto, MS kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pekebun lebih memilih siem lantaran genjah. Pada umur 2,5 tahun tanaman mulai belajar berbuah. Sedangkan keprok butuh waktu 3-3,5 tahun. ‘Pascaserangan penyakit para pekebun menginginkan perputaran modal yang lebih cepat,’ ujarnya.

Selain itu, produktivitas siem lebih tinggi. Sejak itulah populasi keprok garut kian tenggelam. ‘Pada 2006, dari populasi jeruk 384.599 pohon, hanya 17-20% di antaranya keprok garut,’ ujar Ir Beni Yoga Gunasantika MP, kepala Bagian Tanaman Buah dan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Garut.

Kondisi itu mendorong Departemen Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Garut mencanangkan program penanaman kembali keprok garut. Dinas Pertanian bekerja sama dengan kelompok tani penangkar menyediakan bibit. ‘Pada 2011, Dinas Pertanian menargetkan penanaman 1-juta pohon keprok garut, seperti pada era 1950-an,’ kata Beni.

Laba tinggi

Menurut Arry, program serupa tak hanya digelar di Kabupaten Garut, tetapi juga di sentra-sentra keprok lain seperti Brastagi, Sumatera Utara; Magelang (Jawa Tengah), dan Malang (Jawa Timur). ‘Program penanaman keprok merupakan program nasional untuk menekan populasi siem yang mencapai 85% dari populasi jeruk di Indonesia,’ ujarnya. Maraknya populasi siem di berbagai daerah menyebabkan hancurnya tataniaga jeruk di tanahair. ‘Pada saat panen raya harga jeruk siem bisa di bawah Rp1.000/kg,’ lanjut Arry.

Toh berkebun keprok garut sejatinya menjanjikan keuntungan. ‘Permintaan keprok garut tak terbatas,’ ujar Hendi. Pendapat serupa dilontarkan Dede. ‘Permintaan pasar Bandung saja mencapai 100 ton/hari, baru terpenuhi 20%,’ ujarnya. Meski keprok masih pentil, pengumpul antre memesan. Pantas bila harganya senantiasa melambung. ‘Sekarang harga di tingkat pekebun Rp15.000/kg,’ ujar Hendi. Bandingkan dengan harga siem yang hanya Rp2.000-Rp2.500/kg. Dengan harga itu pekebun memperoleh laba berlipat.

Itulah yang dirasakan Hendi. Pria asli Garut itu mengebunkan 1.000 pohon ke Rp720-juta/tahun. Biaya produksi Rp100.000-Rp150.000/pohon/tahun, sehingga ia masih mengantongi laba Rp570-juta-Rp620-juta/tahun.

Membangkitkan kembali kejayaan keprok garut bukan berarti tanpa kendala. Ancaman CVPD masih menghantui para pekebun. Oleh sebab itu, Dinas Pertanian mengawasi ketat peredaran bibit. ‘Bibit mesti bersertifikat,’ ujar Beni.

Para pekebun juga dianjurkan menjaga kebersihan kebun dengan membabat kemuning Muraya paniculata, tanaman inang Diaphorina citri. Dengan begitu, mimpi buruk 42 tahun silam itu tak lagi terulang. (Imam Wiguna/Peliput: Hermansyah)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img