Monday, August 15, 2022

Fakta Ilmiah Propolis Atasi Covid-19

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Lebah menghasilkan propolis untuk memproteksi sarang.

Senin itu Dewi Mayasari beraktivitas seperti biasa di kantor. Anehnya baru setengah hari perempuan berusia 36 tahun itu sudah merasa kelelahan. Sepekan sebelumnya ia memang sempat demam akibat radang tenggorokan. Setelah mengonsumsi obat dari dokter ia pun pulih. Karyawan swasta di Kota Depok, Jawa Barat, itu tak menaruh curiga saat demam kembali kambuh setelah obatnya habis.

Dewi juga sempat diare selama 3 hari. Ia mengira masuk angin. Namun, ia waswas karena gangguan itu merupakan gejala serangan virus korona. Itulah sebabnya ia menjalani tes usap (swab test) pada keesokan hari. Sehari kemudian hasil tes menunjukkan ia positif terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Dewi juga mengalami kehilangan kemampuan menghidu atau membaui—anosmia.

Bukti ilmiah

Hasil tes usap Dewi Mayasari menunjukkan nilai cycle threshold (CT) yang rendah yakni 21 mg-min/l. Nilai CT rendah menandakan tingginya kemungkinan virus dapat menyebabkan infeksi. Penelitian sebelumnya menyebutkan nilai CT lebih dari 34 mg-min/l menandakan virus tidak dapat menyebabkan infeksi.

Praktisi terapi komplementer di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dr. Royke Eduard Burhan.

Dokter di Klinik Medifarma di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dr. Royke Eduard Burhan, mengatakan bahwa gejala Covid-19 cenderung tidak khas sehingga tes usap atau antigen menjadi penting untuk diagnosis. Ia biasanya meresepkan pengobatan terstandar seperti antibiotik golongan makrolid bagi pasien bergejala anosmia seperti Dewi Mayasari.

Praktisi terapi komplementer itu turut meresepkan suplemen seperti vitamin C dosis tinggi 1.000—2.000 mg dan vitamin D 400 mg per hari. Herbal bersifat antiinflamasi seperti propolis juga diperlukan. Riset ilmiah membuktikan propolis manjur mengatasi virus korona seperti penelitian Muhamad Sahlan dan tim dari Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia. Muhamad Sahlan meneliti interaksi senyawa propolis asal Sulawesi terhadap virus SARS-CoV-2.

Itu merupakan studi pendahuluan untuk menemukan obat Covid-19. Tim riset menggunakan propolis yang diproduksi oleh lebah Tetragonula sapiens dari Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulaswesi Selatan. Hasil riset ilmiah menunjukkan adanya dua senyawa yaitu glyasperin A dan broussoflavonol F sebagai kandidat obat potensial untuk covid-19. Senyawa itu berpeluang menghambat aktivitas virus SARS-CoV-2 untuk menginfeksi sel inang.

Penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk menguji efektivitas dan keamanan dua senyawa itu sebagai obat Covid-19. Periset lain, dari Rumah Sakit Sao Rafael, Bahia, Brasil, Marcelo Augusto Duarte Silveira, menempuh uji klinis menggunakan subjek para pasien Covid-19 berusia lebih dari 18 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Sao Rafael. Seluruh subjek menerima perawatan standar.

Pasien di rumah sakit Brasil mengonsumsi kapsul propolis.

Marcelo membagi subjek dalam tiga kelompok. Kelompok pertama 40 pasien yang mengonsumsi sebuah kapsul propolis berdosis 400 mg per hari. Frekuensi konsumsi 4 kali sehari. Kelompok kedua (42 pasien) mengonsumsi propolis 800 mg per hari. Frekuensi konsumsi juga 4 kali sehari. Kelompok ketiga tanpa propolis. Penelitian tersebut dilaksanakan pada 2 Juni hingga 30 Agustus 2020.

Periset itu menggunakan ekstrak propolis hijau terstandar yang diproduksi di Brasil bagian tenggara. Riset Marcelo dan tim itu menunjukkan konsumsi propolis dapat mempersingkat masa rawat inap. Kelompok pertama berada di rumah rerata selama 7 hari dan kelompok kedua rerata 6 hari. Sementara itu kelompok ketiga dirawat di rumah sakit rerata selama 12 hari. Artinya proses penyembuhan pasien korona yang mengonsumsi propolis lebih cepat.

Disinfeksi tangan menjaga kebersihan dan mencegah penularan virus korona.

Menurut Marcelo reseptor Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dan enzim Transmembrane protease, serine 2 (TMPRSS2) berperan penting untuk invasi virus SARS-CoV-2 ke dalam sel inang. TMPRSS2 membelah lonjakan protein virus yang memfasilitasi bergabungnya virus dengan membran sel dan masuk ke dalam sel melalui ACE2. Di dalam sel, virus korona mendorong aktivasi Activated Kinase (PAK1) yaitu kinase yang dapat memediasi respons inflamasi, fibrosis paru, dan faktor kematian kritis lainnya. Tingkat PAK1 yang tinggi juga mengurangi respons imun adaptif sehingga dapat memfasilitasi replikasi virus. Berbagai komponen propolis dapat menghambat atau memodulasi target virus itu.

Selain itu, dosis propolis yang lebih tinggi dapat mengurangi gangguan ginjal. Dengan demikian terbukti propolis sebagai pilihan pengobatan tambahan yang aman dan mengurangi waktu rawat inap. Komponen propolis dapat menghalangi infeksi virus terhadap sel inang pada tubuh manusia.

Senyawa aktif

Pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang, Prof. Dr. Apt. Almahdy, mengatakan, “Propolis dapat menyembuhkan banyak kondisi sakit karena mekanismenya memungkinkan untuk itu.” Peneliti propolis sejak 2015 itu menyebutkan, setidaknya ada tiga mekanisme yakni sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antivirus.
Menurut Almahdy ketika tubuh terserang virus seperti Covid-19, hal terpenting adalah memperkuat sistem imun. Kebutuhan vitamin C dan E harian harus terpenuhi sebab itu adalah sumber antioksidan yang berperan meningkatkan imunitas. Guru besar bidang Ilmu Farmasi itu menuturkan antioksidan banyak terkandung dalam propolis.

Lebah menghasilkan propolis dari getah atau tunas tumbuhan untuk memproteksi sarang. Oleh karena itu, propolis memiliki kemampuan melawan bakteri, virus, cendawan, dan protozoa yang bisa membahayakan pupa lebah di dalam sarang. “Di mana pun propolis itu berada, prinsipnya sama yaitu untuk melindungi pupa dengan sifat antibakteri, antivirus, antifungi, dan antiprotozoa,” kata Almahdy.

Propolis asal Sulawesi sebagai bahan studi obat Covid-19.

Perbedaannya ada pada konsentrasi senyawa aktif. Doktor bidang Bioaktivitas alumnus Universitas Andalas itu menekankan setiap propolis memiliki konsentrasi minimal yang dapat melindungi lebah dari segala ancaman itu. Lantaran bersumber dari beragam tumbuhan, propolis dapat mengandung lebih dari 300 senyawa aktif di dalamnya.
Menurut dr. Royke Burhan propolis mengandung senyawa aktif berupa flavonoid kuersetin. Itu merupakan antioksidan dengan kemampuan antara lain sebagai antivirus, antiinflamasi, dan antikanker. Kuersetin termasuk tergolong antiinflamasi. Urgensi penelitian obat virus korona sangat tinggi karena virus sangat menular. Virus memasuki tubuh lewat mata, hidung, dan mulut.

Prof. Dr. Apt. Almahdy, pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Andalas.

Royke menuturkan, virus korona menyebar melalui aerosol dan droplet. Aerosol sangat ringan dan kecil sedangkan droplet berukuran lebih besar. “Walaupun kita sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, manusia bisa saja lengah,” kata Royke. Aerosol tidak ada di tempat umum tetapi di pusat kesehatan seperti rumah sakit. Royke menyebutkan, pasien Covid-19 yang menerima tindakan pemasangan ventilator atau pasien di ICU dengan ventilator dapat menyebarkan aerosol ke udara.

Sifatnya yang ringan dan berukuran kecil dapat bertahan lama di udara. Dokter dan petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap sehingga sangat minim tertular. Royke menduga penularan justru lebih mudah di tempat umum seperti tempat makan, kafe, mal, dan fasilitas umum lain. Jaga jarak 1,5 meter sebenarnya sudah cukup karena di ruangan umum adanya droplet, bukan aerosol.

Droplet yang berasal dari bersin yang tidak pernah mencapai lebih dari 1,5 meter, apalagi droplet dari orang yang berbicara pasti jaraknya tak lebih dari 30 cm. Itu selalu mengarah ke bawah karena molekuknya besar sehingga terkena gravitasi.

Disinfeksi tangan

Sebenarnya tidak ada droplet yang melayang di udara terutama di ruangan tertutup. Droplet akan jatuh di meja, sandaran kursi, pegangan pintu, dan permukaan benda lain. Saat beraktivitas tentu tangan menyentuh benda-benda tersebut. Sadar atau tidak, kita sering mengucek mata, mengorek hidung yang gatal, atau menyentuh pinggiran bibir.
Tangan menyentuh wajah terutama bagian mata, hidung, dan mulut. Itulah jalur penularan yang kemungkinan besar terjadi. “Kita yang mengantar virus itu dari permukaan benda ke tempat masuknya kuman yaitu mata, hidung, dan mulut,” kata Royke. Jangan biasakan memegang wajah. Kalaupun terpaksa, disinfeksi tangan terlebih dahulu sebelum menjamah wajah.

Tes usap atau antigen penting untuk diagnosis Covid-19.

Royke menuturkan, banyak hal terkait korona yang masih diperdebatkan. Penelitian lanjutan tentu harus dilakukan. Setidaknya beberapa riset itu menunjukkan propolis dapat digunakan sebagai adjuvan—obat yang bekerja membantu berkhasiatnya obat lain—terapi penyembuhan Covid-19. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img