Buah tanpa biji kerap dianggap sebagai tanaman yang tidak lagi mampu berkembang biak. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar karena tanaman tetap memiliki mekanisme lain untuk bereproduksi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Sobir, menjelaskan bahwa buah tanpa biji dapat terbentuk secara alami maupun melalui perlakuan tertentu. Menurutnya, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak.
Salah satu contoh yang paling dikenal ialah semangka tanpa biji. Buah itu dihasilkan melalui persilangan tanaman tetraploid dengan tanaman diploid sehingga menghasilkan tanaman triploid.
Prof. Sobir menjelaskan bahwa tanaman triploid memiliki jumlah kromosom yang tidak seimbang saat pembentukan serbuk sari maupun sel telur. Akibatnya, proses fertilisasi tidak mampu menghasilkan biji yang berkembang secara normal.
Meski demikian, tanaman triploid tetap mampu menghasilkan buah. Penyerbukan dari semangka diploid tetap diperlukan untuk merangsang pembentukan buah, tetapi bijinya gagal berkembang sehingga buah tampak tanpa biji.
Selain melalui mekanisme genetik, buah tanpa biji juga dapat terbentuk ketika penyerbukan berlangsung, tetapi fertilisasi tidak terjadi. Kondisi itu membuat bakal buah tetap berkembang, sementara biji tidak terbentuk atau hanya menjadi biji kosong.
Cara lain untuk menghasilkan buah tanpa biji ialah melalui pemberian hormon tumbuhan, seperti auksin dan giberelin. Hormon tersebut mampu merangsang perkembangan bakal buah tanpa proses pembuahan.
Prof. Sobir mencontohkan teknik yang telah diterapkan di Jepang. Bunga yang belum mekar dicelupkan ke dalam larutan giberelin sehingga buah berkembang tanpa menghasilkan biji, dan metode serupa juga telah diterapkan pada tanaman tomat.
Lantas, bagaimana tanaman tanpa biji tetap dibudidayakan? Prof. Sobir menerangkan bahwa tanaman tetua diploid dan tetraploid tetap diperbanyak secara alami karena menghasilkan biji yang digunakan untuk memproduksi tanaman triploid.
Sementara itu, berbagai tanaman buah tanpa biji lainnya diperbanyak secara vegetatif. Teknik yang umum digunakan antara lain sambung pucuk, cangkok, maupun kultur jaringan sehingga tanaman tetap dapat diproduksi tanpa bergantung pada biji.
Dari sisi konsumen, buah tanpa biji memang menawarkan kepraktisan karena lebih mudah dikonsumsi. Namun, Prof. Sobir mengingatkan bahwa buah tanpa biji belum tentu memiliki cita rasa yang lebih baik dibandingkan buah berbiji.
Ia menjelaskan bahwa proses penyerbukan dan fertilisasi berperan dalam pembentukan berbagai senyawa yang melindungi embrio sekaligus memengaruhi rasa buah. Karena itu, pada beberapa jenis buah, rasa buah tanpa biji justru dinilai kurang optimal.
Sebagai contoh, semangka tanpa biji kurang diminati sebagian konsumen di Jepang. Salah satu alasannya ialah cita rasanya dianggap kalah dibandingkan semangka berbiji.
Menurut Prof. Sobir, pengembangan buah tanpa biji juga harus mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya genetik tanaman. Jika tanaman tanpa biji terlalu mendominasi, keragaman genetik dapat menurun sehingga tanaman menjadi lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, hama, maupun penyakit.
Oleh karena itu, tanaman tetua perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan. Ke depan, Prof. Sobir menilai inovasi tidak harus selalu menghilangkan biji, tetapi juga dapat diarahkan pada pengembangan buah dengan biji yang lebih kecil atau terkonsentrasi pada bagian tertentu agar tetap praktis dikonsumsi tanpa mengorbankan kualitas maupun kelestarian plasma nutfah
