Friday, August 12, 2022

Fantastis Bobot Naik 4 Kali

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bagi Soesiadi jamur merang ibarat telur angsa emas. Sosok Volvaria volvacea itu bongsor seperti telur angsa-berbobot 100 gram per buah atau sekilo isi 10 buah-dan memberi pendapatan Rp10.800.000 per bulan.

Bobot jamur merang yang dipanen Soesiadi di Desa Jatiroto, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, itu benar-benar fantastis. Setia Hadi Purnomo, pekebun di Kampung Pulomangga, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, rata-rata memanen jamur cawan (volva dalam bahasa Yunani berarti cawan) berbobot 43-55 g per buah atau 18-23 buah per kg. Hasil panen rata-rata pekebun lain paling hanya 25-33 g per buah alias 30-40 buah per kg.

Bobot fantastis itu mengatrol produksi rumah jamur Soesiadi. Harap mafhum persentase jamur bongsor mencapai 75-80% dari total panen. Sisanya berbobot dan berukuran normal. Dengan begitu peraih gelar pembudidaya pertanian terbaik dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005 itu mampu memanen 140-170 kg per periode tanam selama 15 hari dari rumah tanam berukuran 4 m x 3 m x 4,5 m. Kumbung lain di Karawang, Jawa Barat, yang berukuran lebih besar (4 m x 6 m x 4,5 m) “hanya” menghasilkan 150-200 kg per periode panen.

Soesiadi kini mengelola 6 kumbung dengan luasan sama. Setiap bulan, 4 kumbung memproduksi jamur merang. Rata-rata produktivitas 150 kg per kumbung alias total jenderal produksinya 600 kg jamur merang per bulan. Dengan harga jamur merang segar di tingkat petani Rp18.000 per kg, pensiunan perusahaan produsen gula itu menangguk omzet Rp10.800.000 per bulan.

Pundi-pundinya kian menebal dari pesanan bibit jamur merang dari para pekebun lain sebanyak 20.000 baglog dan 300 liter bibit cair per bulan. Harga masing-masing Rp3.500 per baglog dan Rp100.000 per liter.

Pakai miselium

Panen jamur merang raksasa itu berkat pemilihan bibit dan pemberian nutrisi tepat. Soesiadi menggunakan bibit F3. Bibit itu diperoleh dengan cara memperbanyakan biakan murni (F1). Menurut Prof Dr Ir Meity Suradji Sinaga, MSc, ahli jamur dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, indukan berukuran besar dan padat mampu menghasilkan bibit jamur merang berkualitas: ukuran besar dan produktivitas tinggi. “Proses perbanyakan sebaiknya menggunakan miselium (kumpulan benang halus penyusun tubuh buah jamur, red) agar sifat bibit seperti induk. Bila diperbanyak dari spora hasilnya tidak seragam,” ujar dosen dan peneliti di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, itu.

Itu yang dilakukan oleh Soesiadi dan putrinya, Erlita Susi Handani. Menurut NS Adiyuwono, ahli jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dalam pembibitan faktor terpenting ialah menjaga miselium pada suhu optimal yakni 32-35°C. Erlita memproduksi bibit asal miselium induk dalam bentuk padat (bermedia jerami) dan cair (dalam cairan nutrisi dan vitamin). “Per liter bibit cair setara dengan 40 log bibit. Itu membuat proses pengiriman bibit ke luar daerah lebih ringkas. Aplikasinya pun lebih mudah tinggal semprot ke media,” tutur Erlita.

Bibit harus segera ditanam, kalau pun disimpan paling lama 3 minggu. Penggunaan bibit stok lama menyebabkan kualitas jamur merang jelek, produksi juga turun 50-75%. Soesiadi menanam di atas media tanam berupa daun tebu hasil fermentasi selama 7 hari.

Hasil riset Soesiadi selama 30 tahun menunjukkan proses penyiapan media tanam daun tebu lebih ringkas dibandingkan jerami. “Proses sterilisasi lebih cepat yakni 3 jam pada suhu 60°C, sementara sterilisasi jerami butuh waktu 5 jam,” tutur Erlita. Proses sterilisasi lebih cepat karena pada media daun tebu risiko tumbuhnya cendawan liar yang tidak diharapkan lebih kecil.

Menurut Adiyuwono, dalam proses pengomposan ampas dan daun tebu lambat terurai sehingga cendawan liar lambat tumbuhnya. Kalaupun petani menggunakan jerami risiko tumbuh cendawan lain bisa ditekan dengan cara menggunakan jerami sehat, berwarna kuning, dan kering disertai proses pengomposan yang sempurna selama 6-7 hari.

“Intinya harus disesuaikan dengan potensi media tanam di lokasi kumbung. Di sini (Lumajang, red) ampas tebu melimpah, di Kalimantan ada tandan kosong sawit. Sementara di Jawa Barat melimpah jerami,” tutur Soesiadi. Menurut NS Adiyuwono pemanfaatan media tanam sesuai dengan potensi daerah masing-masing menyebabkan media menjadi murah, mudah, dan selalu tersedia.

Nutrisi tambahan

Faktor lain yang menjadi kunci menghasilkan jamur merang berukuran bongsor ialah nutrisi. Soesiadi dan Erlita mencampurkan beberapa bahan organik mengandung protein, vitamin, dan unsur mikro hingga membentuk cairan kaya nutrisi. Kemudian mereka menepungkan cairan itu menjadi tepung bertekstur halus, lalu mencampur pada saat persiapan media tanam.

Menurut Meity jamur merang membutuhkan kalsium, protein, fosfat, zat besi, vitamin B, vitamin B12, vitamin C, dan unsur hara lain dalam pertumbuhan. Bila seluruh nutrisi terpenuhi pertumbuhan dan perkembangan jamur pun akan lebih baik.

Tepung nutrisi itu sebagai pengganti dedak yang biasa dipakai pekebun jamur merang. Komposisi dedak dengan media tanam 10%. Masalahnya, “Harga dedak kian mahal,” tutur Erlita. Pada 2009 harga dedak menjadi Rp3.000 per kg dari semula Rp1.500-Rp2.000. Menurut Meity dedak merupakan sumber unsur hara mikro, sekaligus mempercepat proses pengomposan. Soesiadi dan Erlita mengklaim nutrisi yang mereka pakai harganya lebih murah separuh daripada harga dedak. Persentase penggunaan tepung nutrisi dibanding media tanam sama dengan dedak.

Carmin, pekebun di Indramayu, Provinsi Jawa Barat, juga bergantung pada pemberian nutrisi untuk mendongkrak bobot jamur merang. Carmin membuat mikroorganisme lokal (MOL) asal buah-buahan busuk tak termanfaatkan seperti nanas, kulit pisang, pepaya, jambu air, dan mangga. Kulit pisang, misalnya, dipakai lantaran kaya fosfor, sulfur, dan magnesium sebagai sumber hara mikro penting bagi tanaman.

Erlita mengomposkan campuran media dan nutrisi selama 3 hari. Lalu membalik media dan diamkan kembali 3 hari. “Pengomposan media berlangsung sempurna bila suhu di media mencapai 50°C dan pH media netral 6,5-7. Cirinya terasa panas jika tersentuh tangan,” tutur Erlita. Keesokan harinya masukkan media dalam kumbung.

Selanjutnya siram media dengan air bersih sehingga menjadi lembap. Penyiraman perlu karena selama fermentasi dalam suhu tinggi kadar air media berkurang drastis. Lalu tutup kumbung dan lakukan sterilisasi dengan uap panas selama 5 jam, suhu 60°C. “Bila menggunakan media daun tebu cukup 3 jam,” ujar Erlita. Selanjutnya tebar bibit jamur merang. Biarkan jamur tumbuh dalam kondisi kumbung berkelembapan 80%. Cara mencapainya dengan menyiram lantai kumbung. “Penyiraman ke media menyebabkan calon pin head (kepala jamur, red) yang halus patah,” ujarnya.

Semakin tepat komposisi media dan aliran uap sterilisasi, kian seragam ukuran jamur merang yang dihasilkan. Menurut Meity, faktor lingkungan seperti aliran oksigen dalam kumbung sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur merang. Itu sebabnya doktor alumnus University of The Philippines, Los Banos, itu menyarankan agar saat jamur mulai membentuk tubuh buah beri sedikit cahaya dan udara dengan cara membuka jendela kumbung.

Soesiadi biasanya membuka lubang udara di bagian tengah dinding kumbung, yaitu 30 menit setelah menebar bibit dan pada hari ke-5 setelah penanaman selama 10-20 menit. Kekurangan oksigen menyebabkan tubuh buah jamur menjadi kempis. Suhu dalam kumbung diusahakan 30-32°C.

Sepuluh hari setelah tebar bibit, jamur merang siap dipanen. Frekuensi panen setiap hari. Pada panen pertama Soesiadi menuai 3 kg jamur per kumbung. Lantas meningkat hingga mencapai puncak pada hari ke 7-8 sebanyak 35 kg per kumbung per panen. Setelah itu produksi menurun hingga habis pada hari ke-15. Setia Hadi Purnomo menuturkan panen jamur merang tergantung kondisi cuaca. Pada musim hujan produktivitas cenderung turun.

Soesiadi memanen jamur merang saat masih berbentuk kancing sehingga tahan simpan 3 hari pada suhu ruang. Itu tentu menguntungkan sebab waktu penjualan menjadi lebih lama. Kualitas jamur merang jelek jika dalam sehari tubuh buah mengembang dan membentuk payung sehingga tidak disukai konsumen. Setelah panen usai, bersihkan kumbung dan sikat dengan air. Semprotkan formalin agar tidak ada bakteri dan cendawan tumbuh. Tutup kumbung selama sehari. Kumbung pun siap memproduksi jamur-jamur merang jumbo kembali.

Media kapas

Nun di Cilandak, Jakarta Selatan, Lenny Meliani juga mampu menghasilkan jamur merang berukuran jumbo hingga hampir sekepal tangan orang dewasa. Menurut pemilik 15 kumbung masing-masing seluas 50 m2 itu penggunaan bibit berkualitas, pengomposan, dan pasteurisasi berperan penting dalam produksi jamur.

Lenny menggunakan bibit F3 asal pembibit di Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Satu baglog digunakan untuk 1 m2 luasan media. Pengalaman Lenny membina para petani di Karawang, mereka kerap membeli bibit jamur merang oplosan. “Harganya memang lebih murah, tetapi produksi jamur anjlok dan ukurannya kecil hingga sebesar kelereng,” ujar ibu 2 anak itu.

Setiap periode produksi alumnus Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, itu mampu menuai 150-250 kg jamur merang per kumbung. Bobot rata-rata 40 g per buah yang dijual Rp22.000-Rp25.000 per kg yang dikemas dalam plastik berjaring. “Bila dibiarkan, sebanyak 50% produksi bisa mencapai hampir 100 g, tetapi kurang disukai pasar,” ujar Lenny yang menjual jamur ke pasar tradisional di Pasarminggu, Jakarta Selatan. Kebutuhan jamur merang sangat tinggi. Permintaan pedagang di pasar Pasarminggu mencapai 600-700 kg per hari dan baru bisa terpenuhi 150 kg per hari.

Lenny dan suami, Rully Roedjito, menggunakan media limbah kapas murni di kumbung berdinding styrofoam, plastik transparan, dan rangka baja ringan. Media limbah kapas murni dipilih sebab pasokan jerami kian menipis. Lagipula, media limbah kapas lebih bersih dan tidak berbau.

Menurut Adiyuwono penggunaan media kapas murni mampu meningkatkan bobot jamur merang hingga 75%. Sebab dalam limbah kapas masih terkandung nutrisi yang bermanfaat bagi pertumbuhan jamur. Limbah kapas mengandung 44,79 g selulosa, dua kali lebih besar dibanding jerami, dan 14,28 g hemiselulosa pada tiap 100 g berat kering.

Sebelum penanaman suami-istri itu mengomposkan 850 kg kapas dengan 85 kg dedak dan 25 kg kapur selama 5 hari lalu memasukkan ke kumbung pada hari ke-6. Ketebalan media kapas 13-15 cm. Setelah bibit ditebar lakukan pasteurisasi menggunakan uap panas bersuhu 65-70°C selama minimal 6 jam. “Bila suhu tidak tercapai dan waktu kurang, rentan tumbuh cendawan liar dan penyakit penyebab jamur merang gagal tumbuh,” kata Lenny.

Setiap pukul 05.30 Lenny membuka pintu dan jendela kumbung lantas menyiram lantai kumbung. Bila matahari mulai terik, jendela dan pintu ditutup. Pada hari ke-3 setelah tebar bibit, lakukan penyiraman media menggunakan spray bukaan paling halus. Pada hari ke-10 jamur merang siap panen dengan pertumbuhan yang merata. Periode panen 10-14 hari. Jamur merang jumbo pun siap mengisi pasar. (Tri Istianingsih]


 

Keterangan Foto :

  1. Bibit berkualitas, nutrisi, dan budidaya tepat menghasilkan jamur merang berukuran dan berbobot besar
  2. Pertumbuhan jamur merata sehingga 75-80% produksi masuk kelas jumbo
  3. Soesiadi dan Erlita produksi bibit dan nutrisi rekayasa untuk hasilkan jamur merang jumbo
  4. Nutrisi rekayasa (kanan) buatan Soesiadi dan Erlita memiliki unsur hara lebih lengkap dibandingkan dedak (kiri)
  5. Alat pembuat nutrisi rekayasa disertai dengan pengatur suhu, pH, dan aerasi
  6. Ir NS Adiyuwono, “Media kapas mampu meningkatkan bobot jamur merang hingga 75%”
  7. Lenny Meliani, “Bibit tepat disertai pengomposan dan pasteurisasi media yang sempurna kunci jamur merang berukuran besar dan merata.”
  8. Jamur hasil budidaya Lenny Meliani berukuran besar
  9. Pasar lebih banyak menyerap jamur berukuran sedang
Previous articleMelesat Tiga Jam
Next articleDemi Cawan Bermutu
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img