Fi Asia Indonesia 2026 Siap Digelar, Dorong Standar Pangan Lebih Sehat

Rekomendasi
- Advertisement -

Kabar baik bagi pelaku industri pangan tanah air. Fi Asia Indonesia 2026 kembali digelar dengan mengusung standar pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan sebagai tema utama. Pameran ini berlangsung pada 16—18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Pameran internasional ini mengusung tema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future”. Fi Asia Indonesia 2026 menargetkan lebih dari 24.000 pengunjung dan sekitar 700 jenama berskala internasional.

Regional Portfolio Director ASEAN Informa Markets, Rose Chitanuwat, selaku penyelenggara, mengatakan tahun ini paviliun negara bertambah jadi lebih dari 10. Lima negara baru bergabung yaitu Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

“Fi Asia Indonesia 2026 hadir sebagai platform strategis yang menghubungkan inovasi, kepemimpinan industri, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem pangan,” ujar Rose saat konferensi pers pertama Fi Asia Indonesia 2026 pada 2 Juli 2026 di Westin Hotel Jakarta.

Paviliun Spesialis dan Isu Halal

Tahun ini pameran juga membuka tiga paviliun spesialis baru yakni Beverage Ingredients, Natural Ingredients, dan New Business. Ketiganya menjawab minat pasar terhadap minuman dan bahan baku alami. Dalam paparannya, Rose turut menyinggung rencana zona bertema food tech yang menyoroti teknologi fermentasi, freeze-dry, hingga suplemen atau functional ingredient.

Isu kepatuhan halal turut jadi sorotan. Produk luar negeri dikenai kewajiban sertifikasi halal paling lambat pertengahan Oktober 2026, sesuai amanat PP Nomor 42 Tahun 2024. Selain pameran dagang, digelar pula forum ilmiah lewat kerja sama dengan SEAFAST Center IPB dan jaringan peneliti pangan se-Asia Tenggara, FIPSTA, serta sesi business breakfast bagi pelaku usaha berbagi tren terbaru.

Industri Merespons Tren Pangan Sehat

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menuturkan, pergeseran ke pangan sehat kini nyata terjadi. Generasi muda,makin kritis membaca label dan kandungan produk. “Pangan itu harus aman, itu syarat mutlak tidak bisa ditawar,” kata Adhi.

Menurut Adhi reformulasi produk—mengurangi gula, garam, dan lemak tanpa mengorbankan cita rasa—menjadi kunci industri menjawab tuntutan itu. Ia pun mengajak pelaku usaha memanfaatkan pameran untuk berburu bahan baku fungsional terbaru langsung dari sumbernya.

Pandangan Ilmiah soal Pangan Ultraproses

Dari sisi keilmuan, Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, mengingatkan agar masyarakat tidak buru-buru menstigma pangan olahan sebagai sesuatu yang tidak sehat. Ia menjelaskan definisi ilmiah “pangan ultraproses” sejatinya belum baku. Bahkan di level badan pangan dunia sekalipun. “Tidak bisa kita bilang makanan itu tidak menyehatkan hanya dari segi prosesnya,” kata Puspo.

Yang lebih penting adalah transparansi produsen soal bahan dan proses produksi. Mulai dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan, termasuk yang punya alergi atau mengonsumsi pangan halal.

Bagi pelaku usaha pangan dan minuman di Indonesia, Fi Asia Indonesia 2026 layak masuk agenda. Selain jadi etalase inovasi bahan baku dari puluhan negara, forum ini juga jadi ruang bertemu antara periset, regulator, dan industri. Tujuannya, merumuskan arah pangan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan ke depan.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Harga Pangan 11 September: Cabai Rawit Merah Tembus Rp90.050 per Kg

Trubus.id — Harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang pasar tradisional mengalami perubahan pada 11 September 2026. Berdasarkan data...

More Articles Like This