Monday, November 28, 2022

Firdaus bagi Kerajaan Pandan

Rekomendasi

Harap mafhum, selama 130 tahun spesies itu bagai menghilang sejak ditemukan pertama kali oleh Odoardo Beccari, ahli botani kelahiran Italia, di Pulau Yapen, Papua Barat.

Anak yatim piatu kelahiran 16 November 1843 itu mengunjungi Yapen pada 4-28 April 1875. Ia mendarat di Ansus, dekat Sarawandori, bagian barat pulau seluas 2.050 km2 itu. Beccari membawa spesimen-contoh bagian tumbuhan yang diawetkan-hanya berupa daun yang hingga kini tersimpan di Herbarium Frienze, Italia. Tujuh bulan berselang, saat usianya 32 tahun, ia kembali lagi ke Yapen untuk melengkapi spesimen lain berupa bunga atau buah.

Sayang, saat itu hingga awal abad ke-21 sararanga tak pernah ditemukan lagi. Pandan yang oleh masyarakat setempat disebut kayari itu seperti musnah. Itulah sebabnya Puslit Biologi pun semula tak mempunyai koleksi spesimen sararanga. Lembaga riset itu baru mempunyai koleksi spesimen sararanga belum lama ini. Pantas ketika melihat Sararanga sinuosa para peniliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu takjub.

Pohon kayari tumbuh tunggal, tinggi seperti pohon kelapa. Tanaman dengan lingkar batang 67 cm itu tanpa akar tunjang. Daun memanjang bagai pedang sepanjang 3 m dan lebar 11 cm. Buah berair, bentuknya mirip ginjal, hijau saat muda, dan berubah merah ketika matang. Dalam satu buah terdapat 60 biji. Rasanya asam menyegarkan persis ceremai saat buah muda dan manis setelah matang. Bobot tandan mencapai 10-20 kg. Sebuah pohon menghasilkan 2-8 tandan.

Penelitian tentang kandungan nutrisi buah kayari sedang dilakukan. Potensi kayari sebagai buah khas Yapen sangat besar. Ia dapat dikonsumsi segar atau dibikin asinan. Komoditas itu belum diperniagakan di Yapen, tetapi masyarakat mengkonsumsinya. Penduduk Yapen memanfaatkan daun kayari sebagai bahan baku tikar. Eksplorasi LIPI dan Yayasan Kehati ke Yapen tentu saja bukan sekadar napak tilas perjalanan Beccari. Spesies-spesies pandan baru juga ditemukan.

Sebut saja, misalnya, pandan rambutan. Disebut demikian lantaran buah pandan itu bentuk dan warna persis rambutan Nephelium lapaceum. Spesies itu pertama kali ditemukan oleh Ryozo Kanehira saat ekspedisi di Nabire pada 1940. Spesimen pandan rambutan tersimpan di Herbarium Fukuoka, Jepang. Sebelumnya ada anggapan, pandan rambutan endemik Nabire. Namun, ekspedisi LIPI membuktikan bahwa pandan rambutan Pandanus pseudosyncarpus bukan jenis endemik karena ditemukan juga di Yapen.

Tim juga menemukan sosok pandan baru lain: pandan durian. Bila dilihat sekilas penampilannya persis buah durian Durio zibethinus. Namun, jika diamati detail, buah pandan durian justru seperti susunan pisang kepok. Pandanus dubius berupa pohon tunggal setinggi 10-15 m. Spesies itu biasanya tumbuh berkelompok di sekitar pantai.

Sebuah pohon yang belum dibudidayakan itu menghasilkan 2-5 buah. Masyarakat Yapen memanfaatkan daun sepanjang 93 cm untuk memepes ikan serta anyaman tikar dan topi. Pulau yang dulu bagian dari Kapubaten Yapen Waropen itu juga menyimpan raintui, ditengarai sebagai temuan baru. Sekilas bentuknya mirip buah merah Pandanus conoideus yang sohor pada 2004-2006. Tinggi tanaman raintui kira-kira 3 meter, berumpun, dan berakar tunjang. Populasi pandan raintui di Yapen amat melimpah. Habitat anggota famili Pandanaceae itu di tepian pantai hingga ketinggian 100 m dpl.

Tanaman yang dapat diperbanyak dengan tunas anakan itu menghasilkan 1-3 buah. Masyarakat setempat memanfaatkan buah Pandanus krauelianus sebagai pangan tambahan.

Hingga kini belum ada riset kandungan nutrisi dan kimia buah pandan raintui. Daun berbentuk lanceolate alias pedang sepanjang 2,5 m dan lebar 6-7 cm. Daun berujung runcing dan sepanjang tepian berduri itu berfaedah antara lain sebagai bahan baku tikar dan beragam wadah untuk perlengkapan sehari-hari.

Pandan rekaman baru-sebelumnya tak pernah ditemukan di lokasi itu-di Pulau Yapen adalah waywin yang menjulang hingga 20 m. Dulu ia dikenal sebagai jenis endemik di Biak. Itulah sebabnya St John memberikan nama ilmiah Pandanus biakensis. Daun waywin memanjang bak pedang berwarna hijau terang di permukaan atas dan hijau kekuningan di permukaan bawah. Buah tunggal sepanjang 37 cm dan berlingkar 67 cm itu belum diketahui faedahnya.

Boleh jadi lantaran sekujur batang keras dan berduri sehingga penduduk setempat sulit memetiknya. Ketika matang buah berubah warna menjadi kuning. Meski demikian daun Pandanus papuanus itu bermanfaat sebagai bahan baku tikar dan anyaman kerajinan lain. Akar juga bermanfaat sebagai bahan serat antara lain dimanfaatkan untuk tali dan anyaman tas. Penemuan waywin di Yapen mematahkan keendemikan spesies itu di Biak.

Ekspedisi selama 21 hari itu juga mencatat ‘penemuan’ baru: pandan buah banyak Pandanus kaernbachii. Spesies itu semula hanya ditemukan di Kepulauan Bismarck dan Papua Nugini bagian timur. Pandan ‘baru’ itu berupa pohon tunggal, tinggi 10 m, dan ditopang akar setinggi 2-5 m. Buahnya yang bulat belum dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Namun, daun yang memanjang hingga 2,5 meter, berlilin putih, sebagai bahan baku anyaman tikar.

Keragaman pandan di Yapen tampaknya memang sangat tinggi. Selain pohon tunggal dan merumpun, tim ekspedisi juga menemukan pandan merambat Freycinetia elliptica. Batang hijau keabu-abuan berdiameter 0,5 cm itu merambat hingga ketinggian 10 m. Sepintas sosoknya mirip Freycinetia beccari yang berukuran daun 8 cm x 1,8 cm; Freycinetia elliptica 15 cm x 4 cm. Untuk memastikan, saat ini tim Herbarium Bogoriense masih mengidentifikasi.

Tim sulit mengidentifikasi di lapangan lantaran tanaman sedang tak berbuah. Apa pun hasilnya, temuan Freycinetia elliptica di pulau yang pernah menjadi pembuangan Dr GJJ Sam Ratulangi itu tetap merupakan cacatan baru. Pandan-pandan temuan baru bergenus Freycinetia juga ditemukan di Yapen. Ada yang bercuping bergerigi mengingatkan kita akan pandan Freycinetia pectinata yang endemik Kepulauan Solomon.

Hingga kini tim Puslitbang Biologi masih mengidentifi kasi beberapa spesies preycinetia yang ditemukan di wilayah Kabupaten yang beribukota di Serui itu. Beragam buah merah-berkulit merah dan kuning-juga terdapat di Yapen. Itu bukti pulau di utara Biak itu menjadi fi rdaus bagi kerajaan pandan. (Dr Y Purwanto, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img