Monday, November 28, 2022

Gagah Karena Sumpit

Rekomendasi

“Seribu” kakinya begitu kokoh dan rapi mencengkeram media. Raja gurun yang gagah mempesona pun jadi juara.

Bagi Yustinus Polana, hobiis adenium di Kelapagading, Jakarta Utara, hal penting saat jajan mi ayam atau mi bakso bukan citarasa kudapan itu, tapi sumpit yang disediakan si penjual. Bukan buat dipakai sebagai alat makan, tapi sumpit-sumpit itu ia kumpulkan untuk dibawa pulang. Di rumah puluhan pasang sumpit gratis itu ia pakai untuk menata perakaran sang mawar gurun.

Yustinus mengoleksi adenium thai soco yang bersosok gagah dengan kaudek kokoh. “Tapi saya kurang puas bila keindahan akar tersembunyi di dalam media,” kata kelahiran Semarang itu. Impiannya menghadirkan akar sang mawar gurun yang kokoh dan tertata apik seperti mencengkeram media.

Tiga tahun

Pria 36 tahun itu mulai memprogram akar pada adenium berumur 6 bulan pascasemai. Bila umur tanaman terlalu muda, risiko kegagalan yaitu tanaman mati tinggi. Yustinus pernah mencoba menata akar pada 200 tanaman berumur 1,5 bulan. Hasilnya hanya 4-5 tanaman yang bertahan hingga sekarang. Sisanya mati.

Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Tarumanagara, Jakarta, itu menata akar adenium dengan meniru pola penataan cabang tanaman buah, yaitu pola 1:3:9. Layaknya cabang, akar adenium idealnya terdiri dari akar utama, anak akar, dan cucu akar. Untuk mendapatkannya mula-mula Yustinus memotong satu akar utama adenium. Dari situ muncullah sejumlah akar serabut. Selanjutnya ia hanya memilih 2-3 akar yang arahnya selaras dan ukurannya proporsional. Sisanya dipangkas.

Begitu seterusnya, dari setiap pemangkasan hanya 2-3 “cabang” akar yang dipertahankan. Jika letak akar terpilih kurang tepat, saatnya sumpit “turun tangan”. Yustinus mengarahkan akar supaya selaras, lalu menancapkan sumpit untuk menahan akar agar tidak kembali ke posisi semula. Sumpit bisa juga digantikan dengan tusuk satai. Untuk mencegah penguapan berlebih yang bisa menyebabkan akar kisut kekurangan cairan, akar yang sudah ditata diselimuti shading net hitam.

Agar pertumbuhan akar optimal, Yustinus menanam adenium pada media tanam berupa campuran sekam bakar, pasir malang halus, dan pupuk organik rumput laut dengan perbandingan 2:1:1. Ia juga menambahkan segenggam pupuk organik granular yang diperkaya bakteri baik. “Dulu pernah mencoba komposisi yang sama dengan perbandingan 0,5:3:0,5 supaya akar serabut tumbuh cepat,” kata Yustinus. Sayang proporsi pasir terlalu banyak justru membuat media tanam bersifat “panas” sehingga menyebabkan akar yang tumbuh menjadi terbakar dan mengisut.

Setiap fase pemotongan akar, penanaman untuk menunggu akar baru keluar, dan seleksi membutuhkan waktu 6-8 bulan. Oleh karena itu menurut Yustinus, perlu waktu minimal 2-3 tahun hingga diperoleh adenium dengan perakaran lengkap yakni terdiri dari akar utama, anak akar, dan cucu akar.

Pilih jenis

Menurut Andi Solviano Fajar, pemain adenium di Klaten, Jawa Tengah, teknik penataan akar ala Yustinus tergolong baru. “Selama ini pemrograman akar dilakukan dengan memotong pangkal batang utama. Dari batang utama muncul akar-akar yang siap ditata,” kata Andi. Pada teknik itu akar yang diekspos sebatas akar utama. Anak dan cucu akar dibiarkan terpendam. Yang penting kaki terlihat kokoh dan alamiah (baca: Bentuk Kaki ala Sang Juara, Trubus edisi Maret 2007).

Pada 2010 Frans Sujono, pemilik nurseri Sabda Palon di Tangerang, Provinsi Banten, memperkenalkan teknik kaki gurita pada adenium. Ia menggunakan tali dan stirofoam untuk menata akar (baca: Kaki Gurita ala Negeri Siam, Trubus edisi Maret 2010). Sayang, para hobiis  pemula sulit meniru teknik itu karena rumit. Para pemula juga kerap menuai kegagalan karena akar muda yang muncul mati. Penyebabnya antara lain akar terpapar sinar matahari langsung sehingga terbakar dan mati. “Itu disiasati Yustinus dengan menyelimuti akar dengan shading net,” kata Andy.

Menurut Supriyanto, pemain adenium di Ponorogo, Jawa Timur, penyebab lain akar muda mati karena media tanam terlalu kasar. Misalnya pasir malang berukuran besar dan tajam. “Akar muda tumbuh ‘menabrak’-nya sehingga luka yang menyebabkan akar mati,” kata Supriyanto. Oleh karena itu Yustinus menggunakan pasir malang halus hasil ayakan.

Yustinus menuturkan upaya mengekspos akar adenium sebenarnya juga sudah dilakukan para pemilik nurseri di Thailand. Sayang di tangan mereka akar yang terekspos di atas media itu tidak ditata sehingga terkesan semerawut. Sumpit gratis dari penjual mi menjadi modal Yustinus menata adenium “berkaki seribu” nan apik.

Namun, tak semua jenis adenium cocok dibentuk “berkaki seribu”. “Pilih arabicum hibrida seperti thai soco,” kata Yustinus. Batang thai soco yang cenderung pendek dan membesar serta karakter kulit yang terkesan tua akan terlihat selaras dengan kaki seribunya. Pantas jika thai soco kaki seribu milik Yustinus pernah meraih gelar juara pada kontes nasional di Bekasi, Jawa Barat (2011 dan 2012) dan di Lapangan Banteng, Jakarta (2011).

Pilihan lain ialah arabicum spesies. Sementara pada Adenium obesum dan Adenium somalense teknik kaki seribu kurang cocok. Batang obesum kurang berkesan tua, sementara somalense batangnya cenderung meninggi sehingga kesan kaki seribu pun kurang kokoh.  (Ridha YK)

Keterangan Foto :

  1. Akar thai soco asal Thailand tertata apik dengan bantuan sumpit dan tusuk satai
  2. Gunakan sumpit atau tusuk satai untuk mengarahkan posisi akar
  3. Pola 1:3:9 meniru penataan cabang tanaman buah
Previous articleSenja Gaduh di Krakatau
Next articleJuara Dua Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img