Thursday, December 8, 2022

Galeri Pohon Industri

Rekomendasi

Pengenalan dan pemahaman yang lebih baik pada sumber-sumber alam membantu kita untuk hidup lebih mandiri. Sekarang kita tahu, alasan Frankie Welirang dari Indofood giat melakukan penelitian dan pengembangan ubi untuk mencari bahan pembuat mi. Mengapa Martha Tilaar berani membuka 10 hektar kebun tanaman obat di Cikarang, Jawa Barat?

Kita memerlukan masyarakat yang lebih peduli, lebih paham, dan lebih mencintai pohon, sehingga lebih inovatif dan produktif. Mungkin juga lebih arif, reflektif, dan bijaksana. Kalau tidak, untuk apa ditanam kurma Phoenix dactylifera , bodhi Ficus religiosa , dan beringin Ficus benjamina di mana-mana. Pohon-pohon bernuansa religius itu diharapkan membuat masyarakat menjadi refl ektif, kontemplatif, berjiwa dewasa, dan penuh takwa.

Sedangkan pohon-pohon industri, memupuk cinta pada ilmu pengetahuan, inovasi, kebebasan, dan kemakmuran. Itulah yang mulai digemari. Mau contoh nyata? Tengok saja Kebun Raya Chicago di Amerika Serikat. Ongkos masuknya saja bisa US$12 setara Rp100.000. Meski relatif mahal, mengapa padat pengunjung dan digemari? Karena banyak acara diadakan di sana, dengan satu tujuan: meningkatkan cinta masyarakat pada tanaman. Kecintaan suatu bangsa pada tumbuh-tumbuhan berbanding lurus dengan martabatnya di mata internasional. Bangsa-bangsa yang tidak mencintai pohon, suka menebangi hutan, dan jarang menanam cenderung menjadi bahan pelecehan. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengubah lahan tandus menjadi kebun dan taman yang subur, akan dikagumi bahkan disegani.

Diplomasi pohon

Jepang adalah contoh bangsa yang menghormati pohon. Sampai-sampai ada dua hari libur dalam setahun untuk menonton kembang atau O hana mi. Pohon-pohon cherry blossom alias sakura menjadi kebanggaan nasional. Setiap warga negara yang baik, menyempatkan duduk-duduk minum teh minimal sekali dalam setahun di bawah pohon sakura. Bisa dipahami, perawatan dan perlakuan warga terhadap pohon-pohonnya sangat istimewa. Untuk menebang sebatang pinus di Jepang, nilainya sama dengan menebang 70 pohon di tempat lain.

Secara ekstrim bahkan muncul perhitungan, lebih murah mendatangkan 200 batang kayu dari hutan Kalimantan, ketimbang menebang satu batang di taman kota Tokyo. Dalam percaturan industri kayu, bangsa Jepang termasuk konsumen paling besar di dunia. Namun, dalam kehidupan budaya, Jepang juga memberi apresiasi paling tinggi pada pohon. Di taman-taman Washington DC, misalnya, kita bisa melihat pohon-pohon sakura besar yang dihadiahkan bangsa Jepang untuk Amerika, pada 1930-an.

Pohon hias dan pohon industri memang telah lama menjadi alat diplomasi. Pada abad ke-17, sultan-sultan Turki mengirim bibit sycamore untuk raja-raja Inggris. Sampai sekarang, setiap tahun Inggris masih menerima kiriman pohon terang ? sejenis pinus besar -sebagai tanda persahabatan dari rakyat Finlandia. Ada juga bangsa yang memasang daun, pohon, atau tanaman sebagai lambang negara dan bendera nasional. Mereka ingin jadi bangsa besar yang lembut hati. Bangsa yang punya visi sejarah panjang seperti Libanon, dengan pohon cedar pada benderanya. Atau Kanada dengan daun maple , yang selalu segar, memandang ke depan.

Sebelum ditemukan lambang negara Garuda Pancasila, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia juga mengusulkan pohon kelapa sebagai lambang kebesaran bangsa Indonesia. Maksudnya jelas, kita bangsa agraris, pencinta tanaman. Bisa memanfaatkan semua bagian dari pohon kelapa untuk meneruskan kehidupan.

Peran pendidikan

Kecintaan dan pemahaman pada manfaat pohon-pohon itu perlu ditumbuhkembangkan terus. Di kompleks industri Jababeka, kawasan Cikarang, Jawa Barat, akan segera dibuka galeri tanaman industri. Setelah belasan tahun berkembang, kawasan yang dulu panas, gersang dan relatif miskin, telah berubah total. Bekas-bekas galian tanah untuk kerajinan lio (batu merah) berikut sawah dan padang ilalang telah berubah menjadi pabrik-pabrik, universitas, jalan-jalan bagus, lapangan golf, perumahan, dan perkantoran.

Pohon-pohon pun mulai meneduhi jalan-jalan besar yang dikenal masyarakat internasional sebagai boulevard dan avenue (dengan pulau-pulau di tengahnya). Pertanyaannya tentu:sejauh mana kawasan industri mampu memperbaiki kehidupan masyarakat di sekitarnya? Jawabnya terpulang, sejauh mana kita mampu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat. Dunia pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan (kota) berpotensi besar untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan warga. Salah satu yang tidak bisa disangsikan adalah maraknya bisnis pertamanan, tanaman hias, dan peluang agribisnis maupun agroindustri.

Masalahnya, sekali lagi adalah bagaimana memperkenalkan pohon-pohon industri dan menyiapkan bibit-bibitnya. Pohon-pohon akasia, kayuputih, kelapasawit, kayumanis, damar, dan pinus banyak ditanam di jalan-jalan kota besar, termasuk Jakarta. Namun, pemanfaatan dan sosialisasinya untuk masyarakat perlu lebih ditingkatkan. Warga di seputar Polonia, Medan, misalnya, perlu disadarkan bahwa pohon kepuh Sterculia foetida adalah bahan baku biodiesel yang baik.

Begitu juga di Jawa. Pohon kepuh biasanya hanya tumbuh sendiri, merana, dan meranggas di seputar kuburan tua. Pohon yang semestinya disayangi dan dihormati karena banyak jasanya, jadi ditakuti dan dijauhi. Begitu juga pohon kapuk atau randu, yang menjadi andalan ekspor Nusantara sebelum Perang Dunia II. Menjelang akhir 1930-an, ekspor kapuk randu dari tanahair kita mencukupi 80%dari kebutuhan kapuk dunia. Hebatnya, 60%dari ekspor itu berasal dari Pulau Jawa.

Sekarang, industri kayu kapuk terlunta-lunta. Pohon-pohonnya terancam punah. Persatuan Perusahaan Kapuk Indonesia mendesak Gubernur Jawa Tengah agar melarang penebangan pohon-pohon kapuk. Produksi yang semula mencapai 30-juta kg per tahun, kini merosot hingga tinggal kurang dari sepertiganya. Ini hanya salah satu contoh, bagaimana nasib satu jenis pohon industri. Hal yang sama dapat kita lihat pada kayu cendana Santalum album , aren Arenga pinata , dan jambu mete Anacardium occcidentale. Padahal pohon-pohon itu mempunyai nilai ekonomi dan produktivitas yang tinggi. Mereka tidak hanya menghidupkan ekonomi, tapi juga menyibukkan dan menyerap banyak tenaga kerja.

Panen getah

Para pengunjung kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, biasanya terpesona pada hutan dan danau-danaunya. Kalau kita perhatikan, di setiap pohon karet, ada potongan botol plastik, penampung getah yang ditakik. Dua kali seminggu getah dikumpulkan oleh para penyadap. Kalau harga karet mentah sedang bagus, lumayan juga hasil panennya. Berbagai kampus di Indonesia mulai menikmati penghasilan dari hutannya. Termasuk di antaranya hutan wisata Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dengan berbagai koleksinya.

Di UI, kita bisa melihat pohon-pohon karet yang sangat lebat, selain tanaman baru: jati, damar, serta beragam buah. Ada hutan pohon lengkeng Euphoria longan , jambu bol Eugenia malaccensis , dan matoa Pometia pinata. Termasuk sebatang pohon ketapang Terminalia catappa yang dilengkapi puisi untuk mengenang Saijah dan Adinda, tokoh novel terkenal Max Havelaar karya Multatuli.

Peran pohon selain menjadi alat pendidikan, adalah juga menumbuhkan semangat filantropi. Banyak pohon telah menjadi sumbangan, kado, bahkan diadopsi untuk mendapat santunan ?semacam pohon asuh. Orang tua angkat pohon bisa perusahaan, organisasi, atau pribadi yang peduli berat pada pohon. Di Bali ada hotel yang berjuang menyelamatkan sejumlah besar pohon, dengan cara mengontrak atau menyewanya, untuk mencegah agar tidak ditebang.

Singkat kata, tanpa harus ditebang, pohon dapat mendatangkan uang. Penghasilan dari hutan kota London yang paling besar setiap musim gugur, adalah berton-ton daun kering yang diolah menjadi briket arang, kompos, dan bermacam produk lainnya. Sedangkan di negeri kita, ada cengkih, pala, kenari, bahkan mangga, yang menghias tepi jalan sambil terus menghasilkan buahnya. Bahkan biji-biji ganitri (sepanjang jalan dari Bandung menuju Lembang) bisa menghasilkan tasbih.

Sudah lama biji-bijian terutama benih bunga dan sayuran merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi untuk ekspor maupun impor. Biji-biji tanaman keras juga demikian. Bukan hanya kemiri dan keluwak yang diperdagangkan sebagai bumbu masak, tetapi juga biji pohon hias dan pohon langka. Tahukah Anda berapa jenis dan berapa kuintal biji palem telah diimpor dari Afrika?

Bisnis pohon antarnegara tetap berkelanjutan dan selalu memberi harapan. Di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, kita melihat pohon-pohon emas Tabebuya chrysantana yang datang dari Meksiko dan Argentina. Pohon-pohon berdaun rapi itu biasa disebut tree of gold , karena bila berbunga warnanya akan kuning merata, seperti hujan emas disiramkan dari langit.

Sudah waktunya masyarakat, pemerintah, maupun swasta menggali lagi dan menampilkan harta karun ? pusaka bangsa yang berkelanjutan – yaitu pohon-pohon yang telah membuat negeri ini dikenal di berbagai penjuru bumi. Itulah yang akan menyadarkan generasi penerus, bahwa kita pernah sejahtera karena pohon kapuk, pala, cengkih, kelapa, bahkan jarak pagar. Sudah waktunya kita membangun galeri-galeri tanaman industri, sebagai bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang kreatif, inovatif, dan menyukuri kekayaan tumbuh-tumbuhannya. ***

*)Eka Budianta, sastrawan, direktur eksekutif Tirto Utomo Foundation, kolumnis majalah Trubus

Previous articleSuperred Anda Berdarah Murni?
Next articleBerkat Lumpur
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img