Friday, December 2, 2022

Gandakan si Putih 2—3 Tahun Berbuah

Rekomendasi

Dua keranjang bambu yang tersampir di bagian belakang disarati bibit manggis setinggi 50 cm. Pria paruh baya pengendara kereta angin itu hendak menjajakan bibit Garcinia mangostana ke desa sekitar.

Maklum penduduk Lombok memang tengah giat menanam si ratu buah. Anggota famili Guttiferae itu ditanam di pekarangan rumah, tegalan, dan sawah. Supaya saat berbuah nanti tidak kecewa, bibit yang ditanam tak boleh sembarangan. Pantas bila mereka memilih menanam bakal tanaman asal Desa Batukumbung, sentra penghasil bibit berkualitas.

Di sana manggis putih—sebutan untuk manggis asal Lingsar—diperbanyak dengan 3 cara. Pertama, menggunakan biji. Cara ini sudah turun-temurun dilakukan. Biji-biji manggis terpilih dibersihkan dari daging. Lalu diangin-anginkan selama setengah hari dan disemai dalam polibag berdiameter 5 cm.

Saat setinggi 3—4 cm dengan 1—2 helai daun—ini kira-kira berumur 5—6 bulan dari semai—dipindah ke polibag berdiameter 20 cm. Pada umur 1,5 tahun bibit siap ditanam. Selama masa pembibitan, bakal tanaman diletakkan di tempat ternaungi.

Genjah

“Mulai 4—5 tahun silam, bibit hasil perbanyakan dengan cara sambung pucuk mulai dimanfaatkan,” kata Ir Wardi, koordinator sertifi kasi benih Balai Pengawasan dan Sertifi kasi B e n i h Ta n a m a n P a n g a n dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat. Keunggulan bibit itu, umur berbuah lebih cepat. Kalau bibit asal biji belajar berbuah umur 4—5 tahun setelah tanam; bibit sambung pucuk; umur 2—3 tahun.

Trubus melihat pohon setinggi 1 m di kebun Ahmad Fauzi—salah seorang penangkar di Batukumbung. Pada penghujung 2004, 30 buah muda bergelayut di ujung pucuk pohon asal bibit sambung pucuk berumur 2,5 tahun itu. Di kebun sama ada pohon lain yang berbuah untuk kali kedua. Panen pertama dipetik 30—40 buah; panen ke-2 sekitar 60 buah.

Batang bawah yang dipergunakan boleh sembarang. Pada umur 1 tahun batang bawah siap untuk disambung batang atas manggis putih. Ahmad Fauzi mengambil entres dari pohon induk di Pura Lingsar dan Taman Air Narmada. Lantaran sumber entres terbatas, produksi bibit asal sambung pucuk baru 10% dari total produksi.

Susuan

Penangkar lain ada yang memperbanyak dengan cara susuan. Tanaman asal bibit susuan berbuah lebih cepat ketimbang bibit graft ing. Maklum batang atas yang digunakan sudah lebih dewasa. “Begitu bibit diturunkan ke tanah dan sehat, langsung keluar pentil ketika memasuki musim buah,” ujar Wardi.

Bentuk tajuk bibit susuan pun lebih cantik—melebar. Sementara bibit asal sambung pucuk nglancir. Makanya pada ketinggian 1 m ujung pucuk dipangkas supaya membentuk percabangan dan kompak. Hanya saja membuat bibit susuan lebih repot karena mesti menyiapkan kayu penyangga untuk polibag batang bawah supaya bisa disusukan di pohon induk. Lagipula jumlah bibit yang dihasilkan lebih sedikit ketimbang graft ing.

Saat akan disusukan, kelupas kulit batang bawah dan batang atas sepanjang 3 cm sampai terlihat kayunya. Batang atas yang baik, tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Cirinya, batang lentur. Pohon induk mesti pernah berbuah sebelumnya. Batang yang sudah dikelupas dilekatkan menggunakan plastik agar terikat kencang dan terhindar dari susupan air hujan.

Selang sebulan, batang sudah saling melekat. Bibit siap diturunkan dari pohon induk. Potong setengah bagian batang atas di bawah susuan. Seminggu kemudian potong setengah bagian lagi sehingga bibit terpisah dari pohon induk. Lalu simpan di tempat ternaungi. Setelah terlihat sehat, bibit siap ditanam. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img