Thursday, December 8, 2022

Gantikan Kina Atasi Malaria

Rekomendasi

Karena terjadi resistensi, quinine dan chloroquine, senyawa aktif dalam kina tak lagi tokcer mengatasi serangan malaria. Oleh karena itu pasien malaria tetap banyak. Pada 2006 di Indonesia terdapat 2-juta pasien malaria; pada 2007 menurun 1,75-juta pasien. Ahli penyakit tropis Rumahsakit Hasan Sadikin, dr Primal Sudjana SpPD mengatakan Plasmodium falciparum spesies paling membahayakan lantaran menyebabkan infeksi akut pemicu kematian.

Tiga spesies lain penyebab malaria adalah Plasmodium vivax, P malariae, P ovale. Di luar itu masih ada parasit yang menyerang kera. Nyamuk anopheles betina menularkan parasit itu ketika menggigit tubuh manusia. Parasit lantas masuk ke aliran darah. Setengah jam kemudian tiba di sel hati dan berbiak cepat. Setiap sporozoit menghasilkan hingga 40-ribu merozoit.

Satu sampai 6 pekan kemudian parasit kembali ke aliran darah dan masuk ke sel darah merah. Sel darah merah kemudian pecah karena aktivitas parasit dan melepaskan 6-24 parasit baru. Celakanya setiap parasit baru itu mampu mengulangi siklusnya di dalam sel darah merah lain. Ketika sel darah itu pecah, tubuh pasien menggigil karena racun yang dikeluarkan parasit. Rusaknya sel darah merah berdampak pada anemia, limpa, dan hati membesar.

Artemisin

Aryanti MSi, periset bagian Pertanian Badan Tenaga Nuklir Nasional, membuktikan artemisia efektif mengatasi malaria. Ia meriset tumbuhan anggota famili Asteraseae itu karena mengandung zat antimalaria bernama artemisin. Alumnus Bioteknologi Institut Pertanian Bogor itu mengumpulkan 3 jenis artemisia: cacing kayu Artemisia annua, mungsi arab Artemisia cinna, dan sudamala Artemisia vulgaris. Ketiga tanaman itu mengandung artemisin dengan kadar berbeda.

Masing-masing daun tanaman itu ia cuci bersih, diblender, dan diekstrak dengan pelarut heksan. Perempuan kelahiran Lubuk Linggau, Sumatera Barat, itu kemudian mengisolasi senyawa aktif artemisin. Aryanti menginjeksi 3 µl ekstrak ke alat HPLC. Hasil uji menunjukkan daun artemisia rata-rata mengandung 89% artemisin. Senyawa itu tersebar masing-masing di sepertiga daun bagian atas (41,7%); 1/3 bagian tengah (25%), dan bagian bawah (22,2%).

Kandungan artemisin pada Artemisia annua 4,99 ppm, Artemisia cinna 1,98 ppm, dan Artemisia vulgaris 2,55 ppm. Minyak asirinya mengandung 40 komponen yang mudah menguap. Salah satu komponen utamanya adalah thujone (70%) yang bersifat sebagai antioksidan, antimikroba, dan antijamur.

Musnahkan malaria

Artemisia annua dari China mengandung artemisin tertinggi. ‘Namun, bukan berarti daya bunuh terhadap virus plasmodiumnya juga tertinggi,’ kata Aryanti. Uji daya hambat artemisin terhadap virus diuji menggunakan serum darah, eritrosit tanpa parasit, dan eritrosit diinfeksi Plasmodium falciparum. Setelah itu ditetesi 100 µg, 10 µg, 1 µg , dan 0,1 µg/ml artemisin dari ketiga jenis artemisia. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oc selama 30 jam.

Hasil uji daya antimalaria itu, A annua nilai IC-50 atau kematian 50% plasmodium terjadi pada konsentrasi 0,38 µg/ml. Nilai itu lebih rendah dibanding penggunaan senyawa kimia antimalaria yang selama ini digunakan. Misalnya sulfadoksin-pirimetamin, yang membutuhkan konsentrasi 300 µg/ml untuk membunuh virus plasmodium.

Sedangkan Artemisia cinna nilai IC50nya atau kematian 50% plasmodium pada konsentrasi 6,31µg/ml itu lebih baik dibandingkan A. annua. Selain itu ekstrak air tanaman yang sedang berbunga mematikan larva nyamuk Culex pipiens, vektor penyakit filaria atau kaki gajah dan dirofilaria alias cacing jantung dengan nilai IC50 4 g/l setelah 24 jam perlakuan. Annua juga membunuh nematoda Meloidogyne incognita, penyebab penyakit pada tumbuhan dengan konsentrasi 40 ppm.

Nun di Papua, pengidap malaria secara tradisional diobati dengan daun artemisia. Caranya, 5-9 g daun artemisia diseduh dengan seliter air. Minum beberapa kali sehari sampai habis. Hasilnya, 3 hari kemudian suhu tubuh pasien kembali normal. Dosis itu sesuai anjuran The State Pharmacopoeia Commission of People’s Republic of China: 50-70 mg/kg bobot tubuh, dikonsumsi dua kali sehari.

Budidaya

Mekanisme penghambatan artemisin terhadap virus plasmodium dengan mencegah produksi enzim PfATP6-mirip enzim ATPase yang tersebar dalam sitoplasma. Artemisin yang terbungkus gelembung membran masuk ke dalam sel parasit dan diaktifkan ion besi dekat enzim PfATP6 dalam retikulum endoplasma. Di dalam sel itu, artemisin terlibat reaksi reduksi hemikatalisis untuk menghasilkan senyawa sitotoksik. Senyawa itu mengikat dan menghambat PfATP6 dan akhirnya membunuh plasmodium. Artemisin tidak menimbulkan racun sehingga tidak berbahaya bagi organ tubuh lainnya.

Sebagai obat malaria, artemisia dipanen saat berbunga lantaran kandungan artemisinnya tertinggi. Daun kering artemisia dapat disimpan selama 6-12 bulan. Namun, pengeringannya hanya boleh diangin-anginkan. Sebab, proses pengeringan dengan suhu tinggi bisa merusak kandungan artemisin. Ketika ciri-ciri malaria menjangkit, seduh 3-4 lembar daun kering. Dengan menanam artemisia sendiri, ketergantungan terhadap obat-obatan kimia antimalaria dapat dikurangi. (Vina Fitriani).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img