Monday, August 8, 2022

Garasi untuk Lobster

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Setiap 2 bulan dari masing-masing kolam dipanen 200 redclaw senilai Rp1,5-juta per kolam. Usaha ini sungguh menjanjikan, sehingga Risfan pun keluar dari pekerjaan tetapnya sebagai supervisor di perusahaan otomotif.

Padahal luasan yang dipakai sekitar 12 m2 atau hanya sekitar 41% dari luas garasi. Itu lantaran Ivan – panggilan akrab Risfan – menggunakan teknik rumah susun (rusun) 3 tingkat. Setiap kolam bisa diisi 250 yabby – nama lain lobster – ukuran burayak sampai 2 inci. Peternak lain dengan luasan yang sama hanya menebar 75 – 100 ekor.

Kelebihan lain rusun itu, dapat menekan tingkat kanibalisme hingga 20%. ‘Kanibalisme masalah klasik peternak lobster. Gagal produksi sering terjadi karena tingkat kanibalisme tinggi,’ ungkap Ivan. Menurut pria kelahiran Jakarta 21 September 1971 itu, ide rusun muncul karena pemeliharaan di bak kecil dengan populasi padat sangat riskan.

Tiga tingkat

Disebut 3 tingkat lantaran setiap kolam diisi dengan roster dan genting berlapis 3. Roster disusun berjajar sepanjang pinggiran kolam. Jarak antarroster 4 cm. Di atas setiap 3 roster diletakkan 1 genting tanah liat. Sengaja dipilih model genting yang bergelombang di tengahnya agar lobster yang sedang berganti kulit atau moulting bisa bersembunyi di cekungan. Genting juga berfungsi memisahkan roster tingkat 1 dan 2. Lazimnya peternak menggunakan roster 2 tingkat tanpa selingan genting.

Sarjana Teknik Mesin itu menghindari penggunaan PVC di kolam kecilnya. Alasannya saat siang suhu di sekitar PVC cenderung meningkat, lobster akan turun dan menumpuk di bawah. Akibatnya potensi kanibalisme makin tinggi. Di samping itu pemakaian PVC akan memperkecil pengumpulan lobster di satu area.

Dengan menyelipkan genting di antara 2 tingkat Ivan bisa menambah tempat persembunyian bagi redclaw. Populasi bertambah dan kanibalisme pun berkurang. Untuk setiap m2 dibutuhkan 50 roster dan 16 genting. Jarak antarrusun 10 – 15 cm. Dari 250 burayak yang dicemplungkan, jumlah yang bisa dipanen sekitar 70 – 80%.

Untuk menunjang keberhasilan pembesaran, Ivan melengkapi diri dengan sumber air yang terus bergerak. Berbeda dengan peternak lain yang mewajibkan penggunaan air sumur, Ivan cukup memakai air PAM. Cara itu memang sedikit merepotkan. Pemilik harus rajin mengecek kadar kaporit. Jika tercium bau kaporit terpaksa urung digunakan. ‘Untuk lebih pasti, air bisa ditampung sehari semalam,’ ujarnya. Air dialirkan melewati bak penyaring, baru dicurahkan ke dalam kolam melalui pipa PVC.

Pulau terapung

Sistem roster bertingkat memang bisa dijadikan solusi bagi mereka yang berniat beternak dengan luas lahan terbatas. Hal ini diamini Cuncun Setiawan, peternak lobster di Bintaro, Tangerang, Banten. Menurut pemilik Bintaro Fish Center itu, sistem 3 tingkat bisa dijadikan solusi untuk menekan tingkat kanibalisme. ‘Lobster bisa leluasa memilih tempat untuk moulting, penumpukan di dasar kolam bisa dihindari,’ ujar Cuncun. Selama ini lobster cenderung memilih tempat di dasar kolam yang dingin dan terhindar paparan cahaya. Dengan adanya celah di antara genting, lobster punya banyak alternatif untuk tempat ‘berganti baju’.

Cuncun juga menerapkan sistem tingkat dalam skala besar. Hanya saja ada sedikit variasi di sana sini. Kolam seluas 1.250 m2 dan tinggi 30 cm itu hanya terisi roster 2 tingkat, tanpa selingan genting. Peneduh itu baru dipasang di bagian paling atas. Untuk menjaga kelangsungan hidup Cherax quadricarinatus, Cuncun menyarankan penambahan jaring peneduh di atas roster teratas. Bahannya seperti jaring yang lazim dipakai oleh pekebun anggrek.

Jaring peneduh itu berfungsi seperti pulau terapung. Jika kebetulan aliran listrik padam dan suplai oksigen berkurang, lobster bisa memanjat dan bergantung di sela-sela jaring. Ide ini muncul setelah Cuncun menelan pengalaman pahit awal 2005 lalu. Dua ratus redclaw ukuran 2 inci mati lantaran secara tak sengaja kabel pompa tercabut. Suplai oksigen terhenti lebih dari 5 jam.

Untunglah setelah mengamati perilaku lobster yang gemar memanjat dinding kolam muncul ide pulau terapung. ‘Penghuni kolam bisa bertahan hingga sehari semalam, asal akses ke permukaan ada,’ ujar alumnus Institut Teknologi Indonesia, Tangerang, Banten, itu.

Pulau terapung bisa diterapkan untuk kolam besar. Namun, bagi Ivan, kolamkolam kecilnya belum memerlukan sistem seperti itu. ‘Untuk skala rumah tangga pengawasan sistem rusun lebih mudah, seluruh anggota keluarga bisa ikut serta,’ ujarnya. Ini juga salah satu kelebihan rusun 3 tingkat ala Ivan, mudah dalam pengawasan dan perawatan (Laksita Wijayanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img