Tanaman jeruk dalam pot khas Cina berdiameter 20 cm itu memang menarik mata. Dua pohon setinggi 20 cm memamerkan buah sebesar bola tenis berwarna hijau. Torehan berbentuk “V” bekas okulasi di batang meyakinkan perempuan paruh baya, buah bukan tempelan. Tanpa sungkan warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu mengeluarkan Rp300.000 untuk 1 pot.
Wajar bila Lina mempertanyakan keaslian tabulampot mini itu. Pangkal tangkai buah diikat tali plastik sehingga berkesan buah ditempelkan di batang. Apalagi batang tanaman kelihatan ringkih dengan hanya beberapa lembar daun. Padahal, tali dipakai untuk menyangga bobot buah yang memberati tangkai. Berkat disambung dengan entres yang sedang berbunga, kecil-kecil tanaman bisa menghasilkan buah.
Teknik serupa diterapkan pada nangka oleh Mubin Usman, penangkar tanaman di Margonda, Depok. Tabulampot nangka setinggi 1,5 m menghasilkan buah. Biasanya bila ditanam di tanah buah muncul setelah tanaman setinggi 5 m berumur 4 tahun.
Pohon natal
Tabulampot jeruk kerdil berbuah jumbo itu diboyong Zulkarnain dari Guangzhou, Cina, untuk persiapan imlek. Si mungil itu sejak 3 tahun silam marak di Cina, Hongkong, dan Singapura. Itu lantaran penampilannya atraktif. Bahkan sakam—jenis jeruk yang ditabulampotkan itu—enak dimakan.
Dari Guangzhou, pemilik Nurma Bonsai itu juga memborong puluhan tabulampot jeruk beragam jenis yang berbuah lebat dan berkulit kuning. Maklum, jeruk memang identik dengan imlek. Lihat limau setinggi 2 meter dengan tajuk silinder dan bertrap-trap. Atau sejenis shantang setinggi 1 m yang banjir buah. Pun chin chi si, jeruk masam yang paling dikenal sebagai jeruk imlek memamerkan buah berwarna kuning keemasan. Tak ayal, tabulampot yang semarak itu menyedot perhatian pengguna jalan di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.
Pria yang lebih dikenal sebagai pebonsai itu memperkenalkan jenis-jenis baru tabulampot buah penyemarak imlek supaya konsumen mempunyai pilihan. Sebut saja tabulampot chu sa setinggi 70 cm yang dipenuhi buah seukuran apel fuji berwarna kuning emas. Waktu Trubus berkunjung buah-buah itu masih dibungkus jaring nilon halus dan diikatkan ke tiang bambu di tengah tajuk.
Tujuannya agar buah tidak rusak selama perjalanan dari Cina ke Indonesia dan ranting tidak patah menahan bobot buah. Selain indah dipandang, chu sa nikmat rasanya. “Manis sekali,“ ujar Zul, panggilan akrabnya. Penampilan chu sa di pot berdiameter 40 cm itu demikian nikmat rasanya. Lantaran istimewa, wajar jika dibandrol Rp4,5-juta.
Model baru
Model pembentukan tajuk yang tidak lazim membuat penampilan tabulampot impor itu tampak menarik. Tajuk she lie tse yang mirip limau disusun bertingkat. Ada 8 lempengan menyusun tajuk setinggi 2 m. Jumlah 8 terkait dengan angka favorit etnis Cina. Angka itu melambungkan rezeki yang tidak pernah putus seperti cara menulis angka 8.
Model lain tajuk she lie tse dibentuk menyerupai silinder setinggi 2 m. Biasanya jeruk yang berbuah sepanjang tahun itu Cuma ditumbuhkan setinggi kurang dari 1 m. Zul menduga untuk menghasilkan model silinder atau bertingkat ditanam di pot sejak awal hingga berbuah. Tujuannya supaya tidak mengalami stres. Di Indonesia, pekebun biasa membesarkan lebih dahulu di tanah atau polibag. Setelah siap berbuah baru dipindahkan ke pot.
Untuk memperkuat pohon tinggi itu, batang sebesar 5 cm ditopang 4 bambu berdiameter 1 cm. Cabang dan ranting dililitkan ke rangka yang melingkari tajuk sehingga tak ada ruang kosong.
Cara pembentukan model trap hampir sama. Hanya saja beberapa cabang dihilangkan hingga tanpa daun. Karena ada bagian yang kosong maka bentuk tajuk seperti bertingkat. Bila Anda tertarik, siap-siap merogoh kocek Rp6,5-juta untuk mendapatkannya. (Syah Angkasa)
