Saturday, August 13, 2022

Gazan Azka Ghafara: Omzet Besar dari Keripik Pisang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Omzet Gazan Azka Ghafara berjualan keripik pisang amat fantastis, Rp400-juta per bulan.
Omzet Gazan Azka Ghafara berjualan keripik pisang amat fantastis,Rp400-juta per bulan.

Omzet Gazan Azka Ghafara berjualan keripik pisang amat fantastis, Rp400-juta per bulan.

Ruangan 100 m2 itu hampir setiap hari penuh kesibukan. Ada yang mengupas buah pisang dan merajang dengan mesin khusus sehingga berubah bentuk menjadi pipih. Yang lain menggoreng pisang menjadi keripik, menaburkan serbuk tertentu, serta mengemas dalam plastik dan kardus. Di ruangan itulah bisnis Gazan Azka Ghafara bermula. Anak muda berumur 20 tahun itu memproduksi 12.000 kg keripik pisang per bulan.

Menurut Gazan Azka Ghafara sebetulnya permintaan mencapai 3,5—4 ton per pekan. Namun, ia belum mampu memenuhinya karena keterbatasan bahan baku. Pemuda kelahiran Bandung 17 Juli 1995 itu menjual keripik itu kepada 65 penjual di berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Surakarta, Tangerang, dan Depok. Gazan mengemas keripik berbobot 200 gram.

Pisang nangka bahan baku keripik.
Pisang nangka bahan baku keripik.

Bumbu keripik
Gazan Azka Ghafara menjual Rp20.000 per 200 gram sehingga omzetnya mencapai Rp400-juta per bulan. Kini terdapat lima citarasa, yakni cokelat, susu krim, teh hijau, daging panggang, dan rempah-rempah. Menurut Gazan konsumen menggemari citarasa cokelat. Itulah sebabnya rasa itu mendominasi produksi, yakni 80%. Adik dari model Sarah Azka itu memilih pisang nangka dan kapas menjadi bahan baku keripik.

Menurut bungsu dua bersaudara itu pisang kapas bertekstur spesial, yakni lembut dan manis. Ia memerlukan 0,8—1 ton pisang segar sebagai bahan baku keripik per pekan. Selain itu ia juga bekerja sama dengan produsen keripik pisang tanpa bumbu di Bandung, Sumedang, dan Ciamis—semua di Jawa Barat. Mereka mencari bahan baku dan mengolahnya menjadi setengah jadi.

Setiap hari Gazan menerima keripik dengan perbandingan 80% pisang nangka dan 20% pisang kapas. Ia lantas mengolah keripik setengah jadi dengan menambahkan bumbu lalu mengemasnya. Menurut pemuda berkacamata itu tidak mudah untuk mendapatkan bumbu yang pas sesuai selera konsumen. Pada awal usaha ia menemui banyak masalah, seperti bumbu yang sulit menempel di permukaan keripik.

“Akhirnya saya tanya ke teman-teman yang kuliah dan beberapa dosen untuk mendapatkan solusinya,” ujar pria kelahiran Bandung 20 tahun silam itu. Gazan mengemas keripik pisang dengan wadah yang mudah dibuka tutup, lebih kecil, sehingga mampu memperpanjang daya simpan. Ia mendesain bentuk kemasan yang dilengkapi informasi keripik, seperti nilai gizi dan nomor Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT).

“Kemasan rencananya kami ganti menjadi lebih baik sebelum diekspor ke Eropa,” ujar pemuda yang mempekerjakan 12 karyawan di rumah produksinya itu. Ia memang berencana mengekspor keripik pisang ke Eropa pada awal tahun depan. Produsen itu memperoleh pasar mancanegara setelah mengunggah beragam produk di dunia maya. Itulah sebabnya ia berupaya memperbaiki kemasan dan pemasaran yang lebih meluas menjadi target bisnisnya saat ini.

Rasa brown chocolate, creamy milk, green thai tea menjadi best seller keripik pisang Zanana Chips.
Rasa brown chocolate, creamy milk, green thai tea menjadi best seller keripik pisang Zanana Chips.

Semula lamunan
Gazan mengatakan, “Kalau bisa saya juga berencana memiliki perkebunan pisang sendiri agar bahan baku selalu tersedia dengan kualitas yang baik.” Harap mafhum selama ini ia menghadapi hambatan yakni kesulitan mencari bahan baku terutama saat Ramadan. Ketika itu permintaan buah Musa paradisiaca melonjak drastis. Masyarakat menikmati pisang dalam bentuk kolak yang menjadi salah satu menu favorit dan khas bulan Ramadan.

Ia kekurangan bahan baku hingga 50% dari bulan-bulan biasanya. “Jenis pisang lain pun susah didapatkan,” ujarnya. Gasan menjadi pengusaha muda bermula dari sebuah lamunan pada sebuah rembang petang. Ketika tengah beristirahat, ia membayangkan keripik pisang sebagai camilan. Namun, pemuda asli Bandung itu kebingungan cara mendapatkan camilan khas itu. Dari kebingungannya itulah ia mulai berpikir sebagai peluang bisnis.

“Jika ada masalah maka solusinya adalah peluang bisnis maka bisnis adalah solusi dari masalah,” ujarnya. Ia lantas melakukan survei kecil-kecilan dengan menanyakan kepada teman-temannya apakah mereka juga gemar menyantap keripik pisang. Dari jawaban mereka, ia memutuskan berniaga keripik pisang sejak 28 November 2013. Ia memulai bisnisnya dengan membuat keripik berbagai macam jenis pisang, seperti raja, nangka, kapas, dan tanduk. Itu dilakukan untuk mendapatkan tesktur dan rasa yang pas.

Target pasarnya adalah adalah perempuan berusia 17—25 tahun, suka ngemil, dan golongan menengah ke atas. “Kita perlu tahu tempat ngumpul target pasar kita. Ternyata sosial media seperti instagram adalah tempat berkumpul target pasar saya,” ujarnya. Setelah tiga pekan berselang 90% teman-temannya ketagihan sampai akhirnya ada yang menawarkan untuk menjadi reseller.

Kini dua tahun sudah ia menggeluti bisnis keripik pisang. Pemuda yang bercita-cita menjadi artis itu mulai memasarkan produknya ke teman, keluarga, dan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Berbagai komentar seperti bubuk cokelat kurang manis, terlalu manis, dan kurang banyak menjadi masukan yang positif baginya. Sampai akhirnya terasa pas di lidah konsumen. Dari sebuah lamunan di ambang senja, Gazan muwujudkannya menjadi bisnis menggiurkan. (Ian Purnama Sari)

Rasa brown chocolate, creamy milk, green thai tea menjadi best seller keripik pisang Zanana Chips.
Rasa brown chocolate, creamy milk, green thai tea menjadi best seller keripik pisang Zanana Chips.

Nama lengkap:
Gazan Azka Ghafara

Tempat Tanggal Lahir:
Bandung, 17 Juli 1995

Pendidikan:
– SDN Merdeka 5 Bandung
– SMPN 38 Bandung
– SMAN 17 Bandung

Jejak Bisnis:
– Warung Makan Ayam Razet (Ayam Penyet) (2011—2012)
– Resoles La Gazka (Roti Risol) (2013)
– Zanana (Keripik Pisang) (2013— sekarang)

Aktivitas:
– Mengisi kelas di Young Entrepreneur Academy di Bandung
– Narasumber Acara Komunitas Bisnis di berbagai kota di Indonesia
– Mengurus bisnis Zanana Chips sebagai Owner

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img