Wednesday, August 17, 2022

Gebang Mulia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tiang alang atau lumbung padi khas Tanatoraja bisa menggunakan gebang
Tiang alang atau lumbung padi khas Tanatoraja bisa menggunakan gebang

Pagi masih diliputi kabut ketika pohon-pohon gewang menyambut terbitnya matahari. Indonesia sedang merayakan Tahun Baru. Namun, bagi banyak warga Pulau Timor, antara November hingga Februari bisa menjadi bulan-bulan berat. Terutama pada saat paceklik dan gagal panen. Saat itulah pohon-pohon gewang Corypha utan, menunjukkan jasanya. Gewang—sejenis palem cantik biasa tumbuh di tempat yang tandus, kering, berbatu karang.

Pelepahnya bisa dianyam sebagai dinding rumah. Daunnya atap rumah. Batangnya? Dimakan! Tangkai bunganya disadap, diambil niranya. Oleh karena itulah di Timor, gewang dianggap pohon serbaguna yang membantu rakyat bertahan hidup dari generasi ke generasi. Kita yang hidup di kawasan subur makmur, mungkin jarang melihat pohon gewang atau gebang.

Tinggal cerita?
Kita mengenal tempat bernama Bantargebang–yang dijadikan pembuangan sampah di timur Ibukota Jakarta. Kalau pergi ke Banten Selatan, di tepi pantai mengarah ke Ujungkulon, kita bisa melihat mereka. Di kawasan wisata Tanjunglesung, jajaran pohon gewang itu nyaris tak berguna, mati satu per satu dalam sunyi. Dua dasawarsa yang lalu, sebelum krisis moneter melanda Indonesia, hutan gewang masih lebat.

Di balik kabut pagi tampak mistis, seakan menghadirkan kembali aura zaman purba. Pemandangan alam jurasik – ketika dinosaurus masih menghuni planet kita yang makin tua ini. “Sampai 2010 ayah saya masih berburu menjangan di Tanjunglesung,” kata seorang staf pengembang di sana. “Ayah mendapat 3 rusa—kepalanya untuk hiasan di kamar tamu.” Seorang karyawan lain mengaku melihat burung merak masih berseliweran hingga 2003.

Sekarang hutan gewang makin gundul. Tinggal babi hutan sesekali melintas bersama anak-anaknya. Batang gewang yang disukai babi itu dengan sedikit diolah, ternyata bisa menjadi makanan pokok bagi manusia. Terutama di Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Bukan di Provinsi Banten dan pantainya yang banyak dikunjungi wisatawan dari sudut-sudut dunia itu. Namun, apa salahnya mengenalkan gewang dan menyajikan puta—makanan dari tepung gewang?

Gula merah dari nira gewang juga bukan hal baru. Sejak masa lalu kalau kita berada di Kupang, bisa membelinya di Pasar Kasih dan Pasar Oeba. Ukurannya macam-macam, lempengan-lempengan kecil dijual Rp1.000 sepotong. Namun, di Pulau Jawa, hanya biji-biji gewang yang dijual mahal, dijadikan tasbih. Di Cirebon bisa laku Rp250.000 sebuah. Di daerah Yogyakarta, serat tangkai daun gewang dijadikan tali yang disebut agel.

Dengan keterampilan khusus, agel bisa dianyam menjadi tikar, tas, atau keranjang, dan bermacam kerajinan tangan. Cendera mata agel inilah hasil utama pohon gewang. Sayang belakangan semakin sulit ditemukan–semakin jarang. Adapun di Tanatoraja, batang gewang yang lurus itu menopang tongkonan dan lumbung-lumbung padi.

Tanaman gebang multiguna sebagai sumber pangan
Tanaman gebang multiguna sebagai sumber pangan

Enak Sekali
Populasi pohon gewang yang semakin berkurang tidak hanya terjadi di pantai barat dan selatan Pulau Jawa. Di Timor – ketika warga memerlukan batang gewang untuk diambil sagunya, dahulu gratis. Sekarang harus dibeli atau ditukar dengan anak babi. Sebatang pohon gewang muda bisa dikonsumsi untuk satu keluarga dengan 7 anggota dan hewan ternak peliharaan mereka.

“Babi yang diberi makan putak biasanya lebih cepat besar dan gemuk,” cerita wartawan senior Peter A. Rohi. Ia menyayangkan ketika terjadi penebangan pohon gewang besar-besaran di Kupang Timur. Putak adalah lempengan batang gewang yang sudah disayat-sayat. Yang keras diberikan untuk binatang, sedangkan yang lunak bisa dikonsumsi manusia. Biasanya dipotong kecil-kecil dan direbus dengan daun asam.

Yang paling disukai adalah tepungnya yang dibuat bubur. Bubur putak dapat mengenyangkan perut hingga lima jam. Itulah yang diceritakan oleh Peter Rohi yang banyak meliput kawasan Timor, Flores, dan Rote. Wartawan andal berusia 72 tahun itu melihat manfaat ekonomi tertinggi gewang adalah untuk makanan ternak. Cukup banyak sahabat kita dari Nusa Tenggara Timur yang bangga pada manfaat gewang.

Raja Bana Naineno II mengirim SMS, “Pohon gewang atau tune ada di kawasan Oenunmutis. Waktu terjadi kelaparan besar 1965, kami makan dan enak sekali. Silakan datang ke Banamataus Timor. Bawa modal dan kita usahakan.” Di daerah itu puta pohon gewang disebut teras tune. Belum ada yang mengembangkan secara komersial, meski sering dimanfaatkan secara pribadi. Padahal, bukan tidak mungkin putak, teras tune dan nira gewang bisa dikembangkan menjadi makanan eksotis. Kekayaan khas daerah itu pernah dipromosikan di Ambon, Maluku.

Pohon kehidupan
Orang Dayak Ngaju menyebutnya pohon gabang. Di tempat lain juga dianggap lontar hutan dan sangat disukai burung. Tingginya bisa mencapai 15 hingga 20 meter. Daunnya besar berbentuk kipas dengan garis tengah 2 sampai 3 meter. Kalau dihitung dengan tangkai daunnya, panjang seluruhnya bisa 7 meter. Pohon yang cantik itu hanya berbunga sekali, yaitu pada masa akhir hidupnya.

Setelah seluruh daunnya mati, muncul bunga berbentuk malai yang panjangnya hingga 5 meter dan berbau harum. Karangan bunga itu muncul dari puncak batangnya. Inilah pemandangan terindah yang dipersembahkan oleh pohon gewang. Selayaknya kalau dijadikan atraksi wisata alam. Gewang Corypha umbraculifera semakin jarang karena belum pernah ada usaha untuk menanam dan membuat perkebunan. Padahal, manfaatnya lebih dari sekadar memberikan pemandangan.

Eka Budianta
Eka Budianta

Helai-helai janur (daun muda) gewang pada masa lalu banyak dijual di pasar-pasar Sulawesi Selatan. Tangkainya bahan serat, umbutnya dimakan. Sagunya dipercaya dapat mengobati usus dan disentri. Satu batang pohon gewang secara tradisional menghasilkan hingga 90 kg tepung sagu. Dengan mesin yang sederhana, pengolahan bisa diperbaiki. Setiap pohon gebang berbobot 1—1,5 ton dapat menghasilkan 150 kg sagu yang dijual sampai ke Surabaya dan Semarang untuk dijadikan bahan sohun sejenis bihun.

Bupati Kupang, Paul Lawarihi, mendukung upaya pemuliaan tepung sagu gewang. Pelopornya adalah Ibrahim Agustinus Medah. Ternyata dengan mesin sederhana, pemanfaatan pohon gewang dapat diefisienkan. Sagunya untuk manusia, ampasnya untuk ternak, kulit batang, daun dan tangkainya untuk kerajinan tangan. Bijinya juga banyak dicari karena kalau dijadikan tasbih cukup mahal harganya.
Jelas sudah, kita tidak boleh memandang gewang dengan sebelah mata. Penanaman dan pelestariannya sudah mendesak. Selamat menyambut fajar Tahun Baru 2015 dengan kesadaran bahwa setiap pohon yang paling lama berjasa untuk kehidupan patut dilestarikan dan dimuliakan. Gewang adalah pohon yang mulia.(Eka Budianta*)

*) Pencinta lingkungan, kolumnis Trubus, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Senior Living.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img