Monday, August 15, 2022

Gebrakan Buah-buahan Pendatang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Udara Nakhonpathom panas benar. Ketinggiannya kurang dari 100 m dpl. Waktu Trubus datang ke sana pada 2003 mesti berlindung di bawah topi supaya tidak kepanasan. Toh, Dimocarpus longan jumbo itu justru rajin berbuah. Araya Ngamleatkul, si empunya kebun, bisa panen raya 2 kali setahun: Januari dan Juni. Di luar bulan itu, buah muncul tapi jumlahnya sedikit.

Pada 2003 itu pingpong tengah naik daun di Thailand. Maklum pingpong varietas pertama yang bisa berbuah di dataran rendah. Segera saja berita istimewa itu menyebar ke pencinta buah di tanahair. Di Singkawang, Mulyono Tejakusuma memborong bibitnya lalu menanam di kebun. Baru 8 bulan, bibit asal cangkok mulai belajar berbuah. Di Demak ada Prakoso Heryono dan Mubin Usman di Depok.

Pingpong juga yang membuat Suko Budi Prayogo mantap undur diri dari PT Jawa Muna Agro, eksportir mete. Padahal ketika itu jabatannya general manager, dengan gaji sangat cukup untuk menghidupi istri dan 2 anak. Toh Budi keukeuh keluar. Tujuannya: supaya menekuni bisnis bibit buah-buahan.

Dari Vietnam

Sarjana ekonomi dan hukum dari Universitas Stikubank, Semarang, itu bergeming meski anak dan istri ‘protes.’ Pria 52 tahun itu saban hari memperbanyak bibit lengkeng pingpong asal Vietnam. Perjalanan waktu membuktikan keputusannya tepat. Pingpong yang diperbanyak menggelontorkan rupiah. Total jenderal 20.000 bibit asal cangkok dan okulasi ludes terjual hingga 2008. Dengan harga minimal Rp20.000 per bibit, omzetnya selama 7 tahun-sejak 2001 sedikit-sedikit Budi sudah menjual bibit- Rp400-juta.

Padahal harga bibit bervariasi tergantung ukuran: Rp35.000, Rp40.000, dan Rp75.000 per bibit. Artinya omzet didapat lebih besar. Pantas dari perniagaan pingpong Budi bisa membeli sebidang tanah seluas 700 m2 tepat di depan kediaman di Perumahan Pasadena dan 4.000 m2 di Gunungpati, Semarang. ‘Saya yakin bisnis ini menjanjikan,’ tuturnya.

Kini setiap bulan terjual 2.000 bibit. Itu terdiri dari 2 komoditas utama: lengkeng pingpong dan jambu kristal. Yang disebut terakhir jambu sukun asal Taiwan yang produktif dan cepat berbuah. Dengan harga jual Rp20.000 per bibit-merujuk nilai jual terendah pingpong-didapat omzet Rp40-juta/bulan. Padahal bibit kristal minimal Rp75.000 per bibit.

Resep jitu

Pendapatan tinggi juga dibukukan Eddy Soesanto. Selama 2,5 tahun terakhir ia menjual 500 bibit tin hijau, 200 tin ungu, 250 tin white genoa, 80 tin libya, dan 100 tin negrone beragam ukuran. Masing-masing menyumbang pendapatan Rp60-juta, Rp40-juta, Rp62,5-juta, Rp16-juta, dan Rp35-juta.

Artinya total pendapatan dari tin selama 2,5 tahun Rp213,5-juta. Itu masih ditambah pendapatan dari perniagaan bibit miracle fruit senilai Rp75-juta dan srikaya new varietas Total jenderal biaya per bibit per tahun-termasuk biaya tenaga kerja-paling Rp10.000. Pantas bila pembibit yang sempat berjualan di kakilima itu kini punya kebun sendiri seluas 3.000 m2 di Parung, Bogor. (baca: Dari Juragan sampai Doktor Bibit, halaman 28)

Sukses Budi dan Eddy patut diacungi jempol. Maklum 10 tahun terakhir bisnis tanaman buah adem ayem. Perniagaannya melempem di tengah gempuran bisnis tanaman hias yang ingar-bingar. Budi dan Eddy sukses karena punya kunci tepat: memilih memperbanyak buah pendatang dari mancanegara dan unggul.

Pingpong genjah dan adaptif di dataran rendah. Kristal, produktif dan cepat berbuah. Tin-kebanyakan berasal dari Yordania dan California- bentuk dan warna unik serta punya citarasa enak. Lagi pula ia buah yang disebut-sebut dalam 2 kitab suci sehingga mendapat julukan buah religi. Miracle fruit, dari Thailand, punya keistimewaan mengubah rasa asam jadi manis. Sementara srikaya new varietas, asal Australia tapi juga dikembangkan di Thailand, berukuran jumbo-bobot antara 600-800 g per buah, manis, dan produktif.

Proses panjang

Resep ala Budi dan Eddy juga diterapkan Ricky Hadimulya di Bogor, Prakoso Heryono (Demak), Tryman Sutandya (Blitar), Mulyono Tejakusuma (Singkawang), dan Lutfi Bansir (Bulungan)- sekadar untuk menyebut contoh.

‘Kehadiran bibit introduksi sangat penting bagi kelangsungan usaha tanaman buah,’ kata Ricky. Itu karena penelitian buah unggul di tanahair lamban. ‘Bila hanya mengandalkan penjualan buah lokal, usaha tidak akan berkembang,’ imbuh alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Itu diamini Prakoso Heryono. Kehadiran buah new comer bisa mendongkrak penjualan. ‘Konsumen penasaran dengan hal baru,’ tutur pemilik nurseri Satya Pelita itu.

Data yang Trubus peroleh, selama 10 tahun terakhir hanya ada 100-200 varietas baru yang dirilis Departemen Pertanian. ‘Kebanyakan durian,’ tutur Prof Roedhy Poerwanto, ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas Hortikultura Badan Benih Nasional. Wajar saja karena durian asal biji banyak ditanam sejak lama. ‘Di setiap daerah punya durian khas sendiri,’ imbuh Roedhy. Sebut saja tong medaye dari Lombok, simas dari Balaikarangan, dan kumbokarno, Kendal.

Lebih dari 80% varietas buah unggul yang dirilis berasal dari proses seleksi. Harap mafhum, keragaman jenis buah dan variasinya secara alami memang banyak. ‘Yang berasal dari pemuliaan misalnya pepaya,’ kata Roedhy. Maklum untuk mendapatkan varietas baru dari hasil pemuliaan butuh waktu lama.

Dr Ir Sriani Sujiprihati, MS, ketua Divisi Pemuliaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB menghabiskan waktu 8 tahun untuk mendapatkan varietas baru pepaya. Maka mendatangkan buah dari mancanegara jadi alternatif mendapatkan jenis baru. Tentu yang didatangkan tidak sembarang. Menurut Eddy ada 3 syarat tanaman buah jadi buruan hobiis, pekebun, dan masyarakat umum. ‘Buahnya istimewa-rasa enak, sosok menarik; cepat berbuah; dan produktif,’ ujar alumnus Institut Seni Indonesia itu.

Dua kali sukses

Resep itu terbukti manjur. Banyak tanaman buah imigran yang sukses di pasaran. Selama 2005-2008 minimal 5.000 bibit srikaya new varietas keluar dari nurseri Hara, kebun Ricky. Harganya Rp100.000 per bibit.

Annona squamosa itu juga jadi salah satu tambang rupiah di Toko Trubus. Pada bulan pertama penjualan-Mei 2008-400 bibit setinggi 40-50 cm ludes. Harga sama seperti di kebun Ricky. Artinya omzet dari new varietas pada bulan itu mencapai Rp40-juta. Bulan-bulan selanjutnya rata-rata 300 bibit terjual.

Prakoso, yang memulai bisnis tanaman buah sejak 1980 mencatat, 2 kali bisnis bibit buah gegap-gempita karena para pendatang. Pertama, pada kurun 1983-1985. ‘Ketika itu jambu biji bangkok ramai dicari konsumen,’ tuturnya. Sosok buah spektakuler karena berukuran jumbo. Euforia ke-2 pada 2003 ketika lengkeng yang genjah dan adaptif di dataran rendah-terutama pingpong-ramai diincar. Pantas dari pingpong omzet Sarjana Hukum dari Universitas Islam Sultan Agung, Semarang itu mencapai Rp800-juta- Rp1,2-miliar/tahun pada 2006-2008.

Harus baru

Oleh karena itu, wajar jika para penangkar tidak bosan-bosan mendatangkan jenis baru. Bekerja sama dengan seorang kolega, Prakoso mendatangkan white sapote, mamey sapote, biriba, barbados cherry, murbei amerika, araza, abiu, dan burucuma alias strawberry guava dari Florida, Amerika Serikat. Selain Thailand dan Taiwan, Florida-dan California-jadi surga perburuan buah introduksi. (baca: Gudang Buah Eksotis halaman 30)

Di Florida, ada Maurice Kong, kolektor buah yang ketua perkumpulan penggemar buah langka dunia-Rare Fruit Society. Pria berdarah Jamaica itu gemar mengumpulkan buah-buahan dari berbagai penjuru dunia. Koleksi di kebunnya jadi incaran kolektor.

Nun di Wonosobo, Jack E Craigh, pria berkebangsaan Amerika yang berbisnis furnitur, mengumpulkan buah-buah eksotis dari berbagai negara. Di kebunnya, wartawan Trubus, Imam Wiguna mencicipi jus lulo. Keluarga terung-terungan asal Kolumbia itu rasanya asam manis. Jack juga punya cherimoya-buah asal Peru yang didatangkan dari Florida. Di Kediri ada kolektor yang mendatangkan lengkeng daging hitam, kesemek dataran rendah, dan pir dataran rendah. Sementara Eddy sedang mengembangkan natsume-putsa merah dan beach cherry.

Nama dan sosok buah-buah itu masih asing. Pantas jadi menarik. Toh bukan berarti buah-buah yang biasa ditanam hobiis dan pekebun jadi kehilangan daya pikat. ‘Itu pun menarik, tapi harus ada sesuatu yang baru dan unggul,’ tutur AF Margianasari, kepala Bagian Kebun, Produksi, dan Penelitian Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor.

Terbukti bibit jambu air tun klaw di TWM dicari pembeli. Anggota family Myrtaceae itu berkulit putih bersih, besar, dan rasanya manis. Ia pun rajin berbuah dan produktif. Hampir sepanjang tahun buahnya muncul. Wajar bila pada sebuah pameran di Jakarta Pusat 300 bibit tun klauw di stan TWM tandas meski harga dibandrol Rp150.000.

Permintaan mandek

Namun, perniagaan bibit introduksi bukan cerita manis semata. Pengalaman para pembibit butuh 1-2 tahun untuk menciptakan permintaan jenis baru. Ricky pertama kali mendatangkan jambu air mutiara dari Bangkok pada 2004. Jumlahnya hanya 500 bibit. Itu pun penjualannya seret karena konsumen ragu mutiara bisa dibuahkan di tanahair. Baru pada 2006 permintaan melonjak. Ketika itu bibit-bibit awal yang beredar sudah berbuah. Pada 2006-2008 terjual 5.000 bibit.

Musim pun sangat berpengaruh. Lazimnya permintaan bibit buah tinggi menjelang musim hujan. Ketika itu hobiis dan calon pekebun siap-siap menanam karena ketersediaan air melimpah. Di musim kemarau, kondisinya terbalik.

Beberapa jenis buah permintaannya mandek. Sebut saja mayongchit-gandaria manis dari Thailand-yang malas berbuah di tanahair. Prakoso mesti bersabar memperbanyak bibit mamey sapote. Entres sawo jumbo itu hanya mau disambung dengan batang bawah mamey sapote sendiri. Celakanya untuk mendapatkan batang bawah mesti menunggu biji. Jumlahnya hanya 1-2 biji per buah. Dari bunga hingga siap panen butuh waktu 9 bulan.

Kerugian karena salah penanganan bibit selama perjalanan kerap tak terelakkan. Sebanyak 1.000 bibit diamond river asal Thailand tak satu pun selamat tiba di nurseri Hara. Eksportir mengemas bibit dengan menyertakan media sekam bakar. Bibit mati kekeringan karena media itu tidak menyimpan air. Sekam bakar dipilih semata-mata karena murah.

Kebunkan!

Toh, para penangkar tak kapok. Untung yang ditawarkan dari bisnis bibit buah introduksi memikat. Buah-buah itu tak sekadar sebagai tanaman koleksi, tapi potensial dikebunkan. Permintaan bibit lengkeng itoh ke kebun Ricky sempat merosot setahun silam. Pada 2008 permintaan kembali naik. Ketika itu mulai banyak pekebun yang sukses membuahkan itoh skala massal. Sebut saja Budi Dharmawan dan Lie Ay Yen di Kendal.

Budi juga serius menggarap srikaya new varietas. Total jenderal ada 6.000 tanaman di kebunnya. Ada 2 penyebab pemilik perusahaan perkebunan cengkih itu memilih new varietas. Kerabat sirsak itu berbuah terus-menerus dan ukurannya jumbo. ‘Harga buahnya di pasar swalayan pun bagus,’ tutur Budi. Purnawirawan perwira Angkatan Laut itu melihat new varietas dibandrol Rp100.000 per kg di Jakarta. Itu buah impor asal Australia.

Di toko Total Buah Segar, Jakarta setiap minggu terjual 10 dus setara 90 kg new varietas. Menurut Eka, supervisor toko, buah nona itu digemari konsumen karena daging lembut dan manis. Yang juga tengah mengebunkan new varietas adalah Tryman Sutandya dan seorang kolektor di Bangka. Tak heran bila buah-buah introduksi akan terus berdatangan. ‘Pokoknya yang aneh dan peluang pasarnya bagus pasti bakal dicari,’ ujar Gunadi, manajer Toko Trubus. (Evy Syariefa/Peliput: Ari Chaidir, Destika Cahyana, Karjono, Nesia Artdiyasa, dan Sardi Duryatmo)

Butternut

Penampilan butternut pasti membuat orang segera tergiur untuk mencicipi. Kulit buah matang merah terang. Ada sedikit aroma harum tercium. Sayang, daging buah yang manis dan lembut itu tipis sekali. ‘Di luar negeri yang banyak dimanfaatkan justru bijinya. Biji disangan lalu dimakan seperti mengudap kacang,’ kata AF Margianasari dari Taman Wisata Mekarsari.***

Cecropia

Sosok buahnya antik. Mirip nangka tapi menjari. Panjang masing-masing ‘jari’ kira-kira setelapak tangan. Tebalnya 1,25-1,50 cm. Rasanya? ‘Sangat manis,’ ujar Maurice Kong, kolektor buah di Florida. Menurut Maurice ada 75 spesies cecropia. Semua dari Amerika Tengah. Di Miami, Amerika Serikat, Maurice melihat pohonnya sarat buah.***

Tunjuklangit

Namanya mirip dengan pisang tonggaklangit yang tandannya menunjuk ke atas. Manfaatnya pun sama, tak hanya enak dimakan, tapi juga berkhasiat terhadap kesehatan. Pisang tonggaklangit kaya antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. Di Malaysia, buah tunjuklangit potensial jadi obat antidiabetes.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img