Friday, December 9, 2022

Gebrakan Caladium Thailand

Rekomendasi

Itu harga keladi impor yang dominan hijau dengan motif bercak-bercak merah. Padahal di antara 800 pot itu ada juga yang berwarna kombinasi merah-hijau seharga Rp60.000 per pot. Jenis berwarna merah solid dengan daun besar lebih mahal lagi: Rp225.000 per pot. Bila jenis-jenis itu yang terjual, pundi-pundi Eddy dipastikan kian membengkak.

Januari itu kali ke-3 Eddy memboyong caladium dari negeri Siam. Pada September, pengusaha restoran makanan Jepang itu membeli 15.000 umbi. Sayang, 10.000 umbi di antaranya mati. Tak mau menyerah, 2 bulan kemudian, jumlah sama kembali diimpor. Dari 15.000 umbi hanya 1,5% yang mati. Jumlah yang tersisa-total sebanyak 19.700 umbi-dirawat di 2 tempat: Darmo dan Tretes. Hasilnya, sampai akhir 2006 terjual 10.000 pot dengan nilai omzet minimal Rp350-juta. Pantas pada Januari, pemilik nurseri dan petshop itu berani mengimpor 15.000 umbi lagi.

Varietas baru

Bukan tanpa alasan Eddy mendatangkan caladium dari Thailand. Negeri Gajah Putih itu memang dikenal sebagai produsen bonsi-sebutan di sana. ‘Ada 14 provinsi di Thailand selatan yang mengembangkan keladi,’ kata Chaowalit Sampaopanit, wakil presiden Asosiasi Caladium Thailand. Chaowalit menyebut Chumporn, Pracuab Kirikhan, Narathiwat, Songkhla, Satul, Pattalung, Pattani, dan Yalaa.

Sentra lain di bagian tengah dan utara seperti di seputaran Bangkok, Pathum Thani, Samuth Prakan, Ayutthaya, Nonthaburi, Lamphun, dan Chiangmai. Total jenderal produksi pada 2006 sebanyak 300.000 tanaman pot yang dijual ke pasar tanaman hias Chatuchak, Min Buri, dan Senam Luang. Sebanyak 200.000 umbi diekspor dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, Belanda, dan Indonesia.

Pada Sabtu, 27 Januari 2007, wartawan Trubus Onny Untung, Evy Syariefa, Karjono, dan Lastioro Anmi Tambunan berkunjung ke nurseri milik Jenderal Payont Cheuban di kawasan Chatuchak, Bangkok. ‘Ini jenis baru,’ kata jenderal polisi yang gemar menyilang-nyilangkan caladium sejak 35 tahun silam itu. Jenis yang masih tanpa nama itu juara pertama untuk kelas silangan baru di kontes di Chiangmai pada Juli 2006.

Presiden Asosiasi Caladium Thailand untuk Promosi dan Konservasi itu juga punya 2 jenis baru berdaun tumpuk. Yang satu, warna dasar daunnya putih susu dengan tulang merah dan semburat hijau di bagian tepi. Satu lagi bergaris merah tebal dari batang hingga daun bagian atas. Varietas baru lain, berwarna hijau kekuningan polos dengan bintik merah di pangkal daun. Jenis baru juga Trubus temukan di nurseri milik Tawee Prasit dan Wichian Soodtoop di Pathum Thani, Pichai Manichote di Nakhon Pathom, Chaowalit Sampaopanit di Ayutthaya, dan Saiyut Noi Cha Roen di Chachoengsao.

Ratu Sirikit

Kehadiran jenis-jenis baru itu jadi lokomotif bisnis caladium negeri Siam yang sempat surut. ‘Keladi hingga kini sudah mengalami 2-3 kali periode pasang-surut,’ tutur Vitoon Techacharoensukchera, pemain ekspor-impor tanaman hias kawakan. Sejarah pengembangan bonsi di Thailand memang membilang hingga 700 tahun silam (baca: Sejarah Bonsi dalam Primbon 75 tahun, halaman 18)

Bisnis anggota famili Araceae itu mencapai puncak sekitar 20 tahun lalu. ‘Waktu itu yang tercatat 1.000 pemain menjadi anggota,’ kata Chaowalit. Belakangan kehadiran tanaman hias lain seperti aglaonema, euphorbia, dan adenium membuat pamor kerabat talas itu surut. Lagi pula banyak yang gagal merawat bonsi supaya tetap rimbun. Harga pun melorot.

Beruntung Ratu Sirikit terpikat kecantikan sayap bidadari-angel’s wing, begitu keladi disebut di Eropa dan Amerika. Sang Ratu sendiri yang membentuk Caladium Project di lingkungan Istana Thaksin Ratchaniwet, istana peristirahatan ratu di Provinsi Narathiwat. Di sana pegawai istana dan masyarakat umum yang tertarik belajar merawat dan menyilang caladium boleh ikut serta.

Permaisuri Raja Bhumibhol Adulyadej itu juga menjadi promotor penyelenggaraan ekshibisi dan lomba caladium. Kontes tahunan setiap September di provinsi Narathiwat menjadi ajang buat para penyilang di 14 provinsi di Thailand selatan. Pemenang kontes mendapat hadiah dan penghargaan langsung dari sang Ratu. Sementara buat para penyilang di sentra bagian tengah seperti Bangkok, Pathum Thani, dan Samuth Prakan ada lomba lain.

Tida sawan

Gara-gara lomba kembali marak, para penyilang bergairah lagi. Tercatat 4.000 varietas baru dihasilkan. Sebut saja tida sawan. Silangan Payont Cheuban itu sosoknya pendek dan kompak. Warna dasar daun merah pekat dengan tulang nyaris kehitaman yang tegas. Sosoknya terlihat macho. Itulah salah satu jenis yang tengah populer. Tanaman setinggi 30 cm dengan 10-15 daun di pot 20 cm harganya 30.000 baht setara Rp7,8-juta.

Trubus melihat sosoknya yang cantik tanpa penyangga di antara koleksi Pichai Manichote. ‘Saya memang sedang mengumpulkan jenis-jenis yang batangnya kuat dan daunnya kekar. Ini yang punya potensi baru,’ ujar salah seorang pengusaha pestisida terbesar di Thailand yang kepincut keladi sejak 10 tahun silam itu. Jenis lain yang juga populer chao ying, artinya putri. Sosoknya mirip tida sawan tapi lebih memanjang. Warnanya merah muda, dengan tulang daun merah tua. ‘Keunggulan chao ying, daunnya lebat dan sosok kompak,’ kata Payont.

Pantas, bisnis pun kembali terdongkrak. Nilai penjualan di kios Chaowalit di Kasetsart Fair mencapai 10.000 baht setara Rp2,6-juta pada hari biasa. Sabtu dan Minggu, jumlahnya berlipat 2. Dalam pameran tahunan di Kasetsart University itu, Trubus menghitung minimal 6 stan melulu menjajakan keladi. ‘Sehari ini saja-minggu, 28 Januari 2007, red-saya bisa menjual 600-1.000 pohon kecil,’ kata Puangtong Yimruan, pemilik nurseri caladium di Bangwae, Bangkok. Padahal Kasetsart Fair yang diikuti pria berambut panjang itu berlangsung selama 11 hari.

Itu tidak termasuk penjualan rutin 5.000 pohon per 4 bulan. Yang paling laris, muang mong kol, yuta hatti, dan ong ku li man. Muang mong kol berwarna hijau mengkilap dengan merah di bagian tengah. Tulang-tulangnya juga merah. Keladi yang namanya berarti si ungu pembawa hoki itu jadi salah satu juara di kompetisi Royal Flora Ratchaphreuk, Chiang Mai.

Yuta hatti alias pom geaw warna dasarnya kombinasi hijau dan merah muda. Tulang dan batang daun berwarna hitam dan kokoh. Ong ku li mal, berdaun paduan merah tua dengan hijau tua. Tulang dan batang juga merah. Semuanya rimbun.

Terjangkau

‘Kalau kelemahan caladium selama ini tidak bisa kompak bisa diatasi, bagus itu. Pasti lebih banyak orang yang suka,’ tutur Husny Bahasuan, pengusaha tekstil di Surabaya yang hobi mengoleksi tanaman hias. Apalagi keladi punya corak dan warna lebih variatif ketimbang tanaman hias daun, dibanding aglaonema sekalipun.

Kerabat alokasia itu pun tidak rewel. Di Thailand, dari 12 pekebun yang Trubus sambangi semua menyandarkan pasokan nutrisi dari media humus daun-daunan anggota famili Leguminoceae. Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor, mengandalkan humus andam yang dipakai untuk media dasar.

‘Caladium seperti anggota famili Araceae lain tidak membutuhkan banyak pupuk,’ kata Lanny Lingga, pekebun di Cisarua, Bogor. Keluarga Araceae suka di tempat teduh, biasanya proses fisiologinya rendah sehingga tidak perlu banyak pupuk. Pupuk berlebih justru menyebabkan keracunan. Kalau pun memupuk, Lanny menyarankan pemberian pupuk lambat urai.

Buat pebisnis, caladium pun menggiurkan. Tanaman asal Amerika Selatan itu gampang diperbanyak dengan cara mencacah umbi dan memisah anakan. Dari umbi berdiameter 2 cm, Tawee mendapat 40-50 calon anakan. ‘Setengah mata saja sudah bisa menumbuhkan tunas baru,’ katanya. (baca: Umbi Dicangkel Dapat 40 Anakan, halaman 28). Dengan induk berumur 1 tahun, Ulih mendapatkan 7 anakan hasil pemisahan. Di Bogor, Mandiri Jaya Flora mulai merilis anakan-anakan hasil kultur jaringan.

‘Harga pun terjangkau, jadi cepat perputaran uangnya,’ imbuh Very A Sulaiman, pemilik Vertin Flora di Bogor. Very menjual keladi asal Thailand dengan harga mulai Rp25.000 per pot umur 6 bulan dari cacahan. Jenis lokal lebih murah, Rp10.000 per pot dengan 4 daun. Penjualan-kebanyakan untuk kulakan-ajek di angka 150-200 pot per bulan. Malah waktu awal-awal menjajakan jenis asal Thailand pada pertengahan 2005; 400-500 pot per bulan keluar dari nurserinya. Itu diamini Luhut Sihombing di Medan dan Syaiful Umar di Ambarawa.

Berkaca pada bisnis tanaman hias lain, jenis-jenis yang punya pasar luas bukan yang harganya jutaan rupiah. ‘Pasar kelas menengah bawah adalah pasar yang realistis,’ ujar Ukay Saputra, pemain aglaonema di Sawangan, Depok. Omzet terbesar Annisa Flora-nurseri miliknya-didapat dari aglaonema berharga Rp100.00-Rp300.000 per pot. Pun yang terjadi di bisnis anthurium dan adenium. Penjualan termarak justru pada tanaman kecil berbandrol Rp50.000-Rp100.000 perpot.

Sri Lanka

Thailand bukan satu-satunya sumber. Dr Benny Tjia lebih memilih caladium asal Florida, Amerika Serikat. ‘Batangnya lebih kuat dan sosoknya rimbun,’ tutur ketua Forum Florikultura Indonesia itu. Dari 100 jenis komersial yang beredar, Benny memboyong 12 jenis sejak 3 tahun silam. Sebanyak 8 jenis di antaranya diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Sebut saja florida sweetheart, june bride, blace, dan candidum. Trubus melihat di nurserinya ada sepot florida sweetheart berwarna kombinasi merah muda di tengah dan hijau di tepi daun. Sosok rimbun dengan 40-an daun setinggi 50 cm tanpa penyangga.

Sumber lain Sri Lanka. Wartawan Trubus, Rosy Nur Apriyanti berkunjung ke sebuah nurseri di Colombo. Di sana ada keladi berwarna merah berbatang pendek, kuning berbatang pendek, dan putih berbatang pendek. ‘Ini datang dari Thailand,’ kata si empunya. Jenis-jenis asli Sri Lanka mirip keladi lokal tanahair, daunnya lebar dengan motif hijau berbercak merah. Itu yang terlihat dijajakan di 2 stan di sebuah pameran tanaman hias di Colombo. Tetangga Sri Lanka-India-juga memproduksi kerabat talas itu. Mukundan Madras, kenalan Trubus di sana, mengembangkan caladium untuk pasar ekspor.

Napas baru

Kehadiran jenis-jenis itu jadi napas baru buat para pemain caladium. Dua varietas hasil kultur jaringan di Mandiri Jaya Flora sudah dikembangkan di nurseri milik Ulih Sunardi di Bogor. Trubus melihat hortulanum berdaun putih dengan tulang merah dan tepi hijau berumur 4 bulan dari keluar botol mulai mengeluarkan anakan. Harga yang belum beranak dengan 4-5 daun di pot 10 cm dijual Rp40.000. Itu hasil pembesaran dari bibit botolan setinggi 1 cm seharga Rp200 per bibit. Dari total 400 pot, sebagian sudah terjual.

Bisnis Abdul Kadir kian moncer setelah menampilkan jenis-jenis baru asal Thailand dan Florida. Setiap 2 bulan, dosen di Jurusan Teknologi Informasi, UGM, itu mengimpor 1.000 umbi dari negeri Siam. ‘Dari 1.000 umbi, didapat 10-20 jenis baru,’ kata Kadir. Setahun lalu, 10 pot per bulan saja sudah bagus. Jenis yang diminati bernuansa merah asal Thailand. Maklum, menurut ilmu feng shui, warna merah membawa energi penuh semangat, mencerminkan gairah hidup, dan visi ke depan. (baca: Mau Bisnis Lancar? Pilih Bon Bai Kab, halaman 30)

Bonsi asal Thailand juga jadi sandaran bisnis Ino Tomasouw di Jakarta Timur dan Gunawan Wijaya. Dari Sentul, setiap bulan terjual 500-1.000 pot untuk konsumen di Jakarta dan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang sekarang tengah banyak dicari, caladium berdaun tumpuk. Di nurserinya, Trubus melihat tape pituck berdaun merah dengan tulang merah, jenis seperti daun pisang tercabik-cabik dengan paduan warna merah di tengah dan hijau di tepi, dan jenis berwarna merah polos. Harga bao bai kab-si dobel-Rp100.000 per pot kecil. Jenis berdaun tumpuk juga mulai diperbanyak di Anti Nurseri di Bogor.

Toh, bisnis keladi bukan tanpa batu sandungan. Lanny Lingga menyetop impor sejak November 2006. Padahal, sebelumnya Lanny mengirim 3.000-5.000 tanaman untuk pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masuknya pemain baru membuat persaingan harga menjadi ketat. ‘Tanaman yang saya jual dengan harga Rp35.000 per pot dijual Rp12.500,’ keluh pemilik nurseri Seederama itu. Usut punya usut, pesaing mengimpor umbi dari Thailand. Lalu diperbanyak dulu sehingga harga jual bisa lebih murah.

Busuk

Kendala lain, 2.000 umbi yang diimpor Lanny pada Mei 2006 busuk mengeluarkan lendir. Ukuran umbi terlalu kecil-diameter 0,5 cm sampai 1 cm-diduga jadi musabab. Pengiriman berikut, dipilih umbi lebih besar. Gara-gara umbi yang diimpor Abdul Kadir tertahan di bea cukai, Rp6-juta amblas. Umbi busuk total. Umbi busuk juga dialami Syaiful Umar, setelah dicacah-cacah. Pengalaman Lanny, keladi asal Florida lebih tahan busuk akibat botrytis dan erwinia.

Berpot-pot caladium di nurseri Luhut Sihombing luluh-lantak diterjang dosis pupuk berlebih. ‘Padahal dosis pupuk sudah setengah dari dosis anjuran,’ tutur Luhut. Bukannya tumbuh subur, daun malah gosong. Meski begitu, para pemain pantang menyerah. Variasi warna dan corak jadi kekuatan. Menurut pengamatan Lanny, kini tanaman hias yang diminati ialah jenis-jenis dengan warna-warna menarik. Bonsi cocok untuk tanaman dalam pot di dalam maupun luar ruangan tapi teduh seperti teras. ‘Pilihan tanaman berwarna untuk indoor sedikit, caladium salah satunya,’ tutur Pichai Manichote.

Pekebun di Indonesia dan Thailand bisa merengkuh peluang itu. ‘Caladium tanaman tropis, jadi cocok dibudidayakan di daerah tropis,’ kata Benny. Kuncinya supaya tanaman tumbuh subur, hadirkan lingkungan dengan kelembapan tinggi, media basah tapi tidak becek, dan cukup sinar matahari. Daun rimbun dan warna pun menonjol. Dengan begitu hobiis baru pun terpincut mengoleksi. Keladi kini memang bukan lagi tanaman pinggiran. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Argohartono Arie Raharjo, Destika Cahyana, Hermansyah, Karjono, Lani Marliani, Lastioro Anmi Tambunan, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img