Thursday, August 11, 2022

Gebrakan Liliput

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pasar industri bahan pewangi tumbuh 5—7% per tahunSuatu hari di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sebutir kelapa jatuh. Keesokan harinya, beberapa butir kelapa kembali jatuh menyusul rekannya. Pemiliknya menyingkirkan kelapa yang berserakan itu ke emperan rumah. Tak ada niat sedikit pun untuk menjualnya lantaran harga amat murah, cuma Rp100/butir. Juga tak terbersit keinginan memakainya untuk memasak. Alhasil, kelapa dibiarkan tergeletak selama 5 – 6 bulan.

Buah Cocos nucifera yang tersia-sia itu suatu hari hendak dibakar. Supaya proses pembakaran berlangsung sempurna, golok pun diayunkan membelah kulit kelapa yang keras. Tak dinyana, ketika terbelah daging buah sudah hancur berkeping-keping. Sebagai gantinya tampak cairan bening yang ternyata minyak.

Bagaimana ceritanya  daging kelapa yang tertutup rapat oleh tempurung mendadak berubah menjadi minyak? Bagi ahli mikrobiologi, seperti Dr Joko Sulistyo, Ahli Peneliti Utama LIPI, fenomena itu tentu tidak mengherankan. Meski tempurung kelapa tertutup rapat reaksi biologis mungkin terjadi dengan kehadiran cendawan yang memiliki sumber makanan berlimpah di dalam tempurung, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Supaya sumber makanan itu bisa dimakan, cendawan mengeluarkan enzim amilolitik untuk mempercepat proses penguraian.

Enzim itu mengubah karbohidrat menjadi gula. Selang 1 – 2 jam kemudian gula berubah menjadi alkohol lantaran proses fermentasi. Alkohol difermentasikan lagi menjadi asam untuk menggumpalkan protein. Kerepotan itu berlangsung dalam intensitas rendah sehingga lemak yang ada di tempurung kelapa tidak dimakan cendawan. Akibatnya muncullah cairan minyak nan bening alias  virgin coconut oil. Cendawan yang berjasa dalam proses biologis itu berdasarkan pengamatan Dr Joko Sulistyo adalah Candida rugosa.

Makhluk liliput yang cuma bisa dilihat melalui mikroskop itu memang sering campur tangan dalam kehidupan manusia. Contoh sederhana, tempe muncul berkat kehadiran Rhizopus oryzae. Contoh hebatnya,  saat 11-juta galon minyak bumi tumpah di Alaska karena  kapal pengangkutnya menabrak karang, maka yang dikerahkan untuk membersihkan tumpahan minyak itu adalah makhluk liliput berbentuk bakteri pemakan minyak. Contoh sehari-hari, keracunan makanan yang seringkali menjadi berita di media massa terjadi karena makanan tersebut sudah tercemar bakteri patogen seperti Clostridium botulinum.

Rendeman 11 – 16%

Beragam makhluk liliput yang ada di alam, beragam pula fungsi dan hasilnya.  Salah satu di antara keragaman itu membuat gebrakan spektakuler di dunia nilam. Bayangkan saja, saat rata-rata rendeman minyak nilam berkisar di angka 1,5–2%, maka nun di  Bandung, Jawa Barat ada Herdi Waluyo yang sanggup memeras nilam sampai rendemannya berkisar 10 – 16%.  “Padahal, rendeman 2% saja sudah sangat menguntungkan petani,” ujar Suwandi dari PT Djasulawangi, eksportir nilam di  Jakarta. Sementara menurut Dr Meika Syahbana Rusli, ketua Dewan Asiri Indonesia,  “Pada skala produksi rendeman 3% sudah sangat bagus.”

Di dunia asiri, lonjakan 1% saja memang sudah sangat luar biasa, apalagi jika  sampai 10 – 16%. Penyuling rata-rata menghabiskan 50 kg daun nilam untuk memperoleh  1 kg minyak nilam. Namun, Herdi Waluyo cukup memetik 6,25 kg daun. Luar biasa! Rendeman naik sampai 500%.

Apa yang dilakukan Herdi? Ia menerapkan inovasi Dra Nuryati Djuli MSi saat mengambil gelar master  di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Herdi, master komputer alumnus University of Brooklyn, Amerika Serikat itu  melayukan daun nilam kemudian merajangnya dengan mesin. Hasil irisan itu selanjutnya  difermentasi dengan bantuan air dan 2 jenis kapang: Rhizophus oryzae dan Rhizophus oligosporus. Fermentasi dilakukan selama 12 jam  dan usai setelah larutan hijau lumut berubah menjadi cokelat. Proses kerja dua mikroorganisme itu mirip dengan cara kerja Candida rugosa pada kelapa untuk menghasilkan VCO

Biomassa yang tersisa diangkat dari wadah dan dipres. Larutan pengepresan dimasukkan ke cairan fermentasi. Nah, larutan fermentasi itulah yang disuling. Jadi, yang disuling bukan daun, tetapi justru larutan fermentasi. Ini benar-benar sebuah inovasi yang menjungkirbalikkan proses kerja penyulingan nilam yang rendemannya cuma berkisar antara 1,5 – 2%.

Bola salju

Demikian luar biasanya revolusi penyulingan nilam dengan bantuan mikroorganisme tersebut. Bayangkan saja, salah satu hambatan usaha nilam ialah harga yang sering terayun. Saat harga terpuruk sampai – katakanlah – Rp30.000/kg seperti yang terjadi pada 1997, petani dan penyuling nilam langsung frustasi karena rugi. Itu tentu saja dengan tingkat rendeman 1,5 – 2%. Lain soalnya ketika  rendeman mencapai angka 10 – 16%. Petani dan penyuling nilam tetap akan memperoleh laba

Efek lain ialah kontinuitas pasokan menjadi lebih terjamin. Rendeman tinggi menjamin berlimpahnya pasokan minyak, meskipun ada kendala budidaya. Kesinambungan produksi menjamin terjaganya alur pemasaran sampai ke luar negeri. Ujung-ujungnya, pasokan nilam Indonesia di pasar dunia selalu tersedia. Ini penting karena, “Industri bahan pewangi marketnya tumbuh 5 – 7% per tahun. Mestinya nilam sebagai bahan baku juga tumbuh,” ujar Dr Meika. “Namun kenyataannya, industri pengguna tidak yakin dengan kontinuitas pasokan nilam,” tambah dosen di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB  itu.

Dalam 10 tahun terakhir, harga minyak nilam berkisar Rp175.000 – Rp600.000/kg. Pernah terjadi harga melambung sampai Rp1-juta. Namun, kejadian itu hanya sesaat dipicu oleh ketiadaan barang, tetapi industri sangat membutuhkan. Dengan harga Rp300.000, petani dan penyuling dengan produktivitas rendeman 1,5 – 2% sudah meraup laba. Dewan Asiri memproyeksikan harga nilam idealnya Rp500.000/kg. Sebuah tingkat harga yang masih dapat dijangkau industri.

Dobrakan inovasi teknologi penyulingan dengan bantuan dua mahluk lilliput, Rhizophus oryzae dan Rhizophus oligosporus yang meningkatkan rendeman sampai di atas 10% tentu kian membengkakan laba petani dan penyuling. (Onny Untung)

Harga & Produksi Nilam

^       Pasar industri bahan pewangi tumbuh 5 – 7% per tahun

^     Bakteri membantu pekebun mengolah kelapa jadi minyak kelapa murni

Dr Meika Syahbana Rusli, ketua Dewan Asiri Indonesia

Rendaman minyak nilam rata-rata 1,5 – 2%

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img