Thursday, August 18, 2022

Geliat Semangka Mini di Pasar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tepat di seberangnya, terpajang 6 buah semangka berukuran besar. Selang 3 hari kemudian, tumpukan semangka liliput itu sudah ludes tak bersisa. Sedangkan tetangganya masih menghuni rak buah.

Sejak 2 tahun silam semangka besar harus rela berbagi tempat dengan si kecil. Saat itu semangka mini mulai menampakkan diri pada para konsumen. Waktu itu volume penjualan masih terbatas sekali. “Kami hanya memasok 50 kg (setara 20 butir, red),” ujar Murih Satya Sanatanawati, kepala bagian penjualan Ada Toserba. Sebagai pendatang baru ia masih kalah bersaing dengan semangka besar.

Seiring perjalanan waktu, lambat laun konsumen mulai mencium kehadirannya. Mula-mula para penggemar membeli karena terdorong rasa ingin tahu. Rasanya yang manis, dengan kadar 13—14o briks membuat penjualannya terus bertambah. Dalam waktu satu tahun, pasokan meningkat sampai 500 kg per minggu. Jumlah itu dalam waktu 5 hari susut 80%.

Hal senada diungkapkan Rudy Sendjaya. Pemilik Toko Buah Segar itu mengaku mengalami kesulitan menjual semangka mini 2 tahun silam. “Menghabiskan sepuluh buah saja dalam 10 hari, itu sudah untung,” ujarnya. Alasan utama karena para konsumen belum familiar dan harganya pun cenderung lebih mahal, Rp3.000—4.000 per kilo. Bandingkan dengan semangka besar yang hanya Rp8 0 0 — 1 . 2 0 0 k g . Sekarang situasi berbalik. “Seratus butir bisa habis kurang dari seminggu,” ujarnya. Itu angka yang cukup menakjubkan untuk penjualan buah jenis baru.

Mulai digemari

Geliat semangka mini juga terasa oleh CV Bimandiri, pemasok buah yang bermarkas di Bandung. Satu ton baby blacksweet mereka pasok ke Carrefour, Jakarta. Selain itu Yogya Departemen Store di Bandung pun selalu meminta tak kurang dari 5 ton setiap 2 hari sekali. “Akhir-akhir ini Hero Jakarta mulai minta dipasok,” ujar Ahmad Rivani, managing director CV Bimandiri.

Awalnya kehadiran semangka mini hanya diwakili oleh yang berkulit hijau. Kini muncul jenis mini lain yang berkulit kuning, golden century. Ada Toserba, Semarang, menyediakan 150 kg per minggu dengan harga Rp4.250 per kilo, selain blacksweet yang pasokannya 500 kg/ minggu. Di Carrefour, CV Bima Mandiri memasok baby blacksweet 1 ton per hari. Pasokan itu kadang-kadang terhenti karena produksi tersendat.

Jalin kemitraan

Untuk memastikan pasokan, CV Bimandiri bekerja sama dengan PT Syngenta Indonesia, produsen benih di Jakarta. Mereka pun bermitra dengan Abdul Gani, ketua Kelompok Tani Mekar Buah di sepanjang pantai selatan Kebumen dan Purworejo. Hasil yang diperoleh seluruhnya dilempar ke CV Bimandiri sebelum akhirnya tiba di etalase supermarket.

Sang mitra, Mino, sapaan akrab Abdul Gani, mengebunkan semangka di lahan seluas 20 ha. Semangka mini yang ditanam ialah baby blacksweet pada luasan 5.000 m2. Sisanya diisi semangka jenis besar, seperti farmer wonderful dan cina dragon. “Kami berproduksi sesuai pesanan, karena kami hanya melayani satu suplayer,” kata Mino.

Pemasok buah lain, Aji Tani, juga bermitra dengan petani di Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, untuk memasarkan semangka mini. Di sana pun blacksweet hanya ditanam di lahan 4.000 m2. “Walaupun tidak banyak, tapi pesanan selalu ada dan pasar sudah jelas. Semangka kecil itu pasti ditampung oleh Aji Tani,” papar Jiyono, pekebun semangka.

Bagi Mino dan Jiyono, semangka mini produk menjanjikan. Modal yang dikeluarkan memang lebih tinggi daripada semangka besar. Maklum harga benih masih tinggi, Rp70.000 per 20 g; semangka besar, Rp25.000 per 20 g. Harga jual di tingkat petani Rp1.500. Produktivitas 20 ton per ha. Produksi semangka besar 20 ton per hektar, dengan harga jual Rp1.000/kg.

Bangkitnya pasar semangka mini seiring tren permintaan konsumen yang menginginkan buah berukuran kecil. Sekali kupas, buah tandas dimakan. Ukurannya yang kecil juga asyik dilihat, indah kalau diletakkan di meja. “Rasanya manis dan renyah,” kata Cipto Legowo, direktur pemasaran PT Tunas Agro Persada.

Kendatipun demikian, volume penjualan semangka besar masih unggul ketimbang yang kecil. Itu disebabkan terbatasnya pasokan. Jadi, kebutuhan semangka masih dipenuhi dari jenis yang besar. Selain itu, semangka besar tetap dicari oleh sejumlah konsumen. Itulah yang terjadi di Toko Buah Segar. Toko khusus buah-buahan itu lebih banyak menyediakan semangka besar karena konsumennya berasal dari hotel, restoran dan kantor-kantor. Konsumen seperti itu tetap memilih semangka besar yang lebih pas dipakai untuk melayani orang dalam jumlah banyak. (Hawari Hamiduddin)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img