Thursday, August 18, 2022

Gemerincing Rupiah dari Sebuah Gaya Hidup

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Belum lagi sempat menarik napas, setumpuk pekerjaan menanti di kantornya di lantai 4 Gedung Departemen Kelautan dan Perikanan. Di sana ia didaulat menjadi penasihat Dewan Maritim Indonesia. Toh, tak terbersit kelelahan di wajah pria 61 tahun itu.

Kondisi itu berbalik 180o dengan keadaan 8 bulan silam. Kala itu kedatangan pria berkacamata itu ke kantor dengan kaki tertatih bukan pemandangan asing buat stafnya. Asam urat kerap menerjang persendian kakek 1 cucu itu. Belum lagi keluhan pusingpusing akibat darah tinggi dan kolesterol tinggi. Penyakit “ringan” seperti influenza pun tak bosan menghampiri.

Kalau sekarang ia kelihatan lebih segar dan awet muda, “Obatnya Cuma mengkonsumsi sayuran, beras, dan susu organik,” cetus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan di kabinet Gotong Royong itu. Sejak diperkenalkan produk organik oleh sang menantu, Sarwono langsung jatuh cinta. “Rasanya lebih manis, renyah, dan segar,” katanya. Sayuran dari penanaman cara biasa yang mungkin mengandung residu bahan kimia disingkirkan.

Dampak yang paling terasa, badan bugar dan beragam penyakit sirna. Dengan tinggi 172 cm, bobot tubuh stabil di angka 70 kg tanpa perlu berolahraga keras. Temperamen pun menjadi lebih tenang dan toleran. Tanpa terasa sudah 5 tahun pria tinggi kurus itu melahap beragam produk organik.

Hidup sehat

Yang juga ketagihan pada hasil panen pertanian alami itu, Irwan Hidayat. Bos jamu Sidomuncul itu bahkan menyediakan lemari pendingin berukuran jumbo untuk menyetok beragam sayuran dan telur organik. Maklum, seluruh anggota keluarga penyantap produk organik.

Adalah Maria Reviani, putri sulung Irwan, yang pertama kali rutin mengkonsumsi. Kelahiran Jakarta 8 Maret 1976 itu mengenal produk organik ketika studi di sebuah universitas di Seattle, Amerika Serikat, pada 1994. Di mingguminggu pertama kedatangan ke negeri Paman Sam itu Maria dikejutkan dengan banyaknya toko penyedia produk organik.

“Mulai dari paprika, selada, beras, sampai sampo dan sabun ramah lingkungan ada,” katanya. Jadilah Maria yang amat peduli pada kesehatan menjadi pelanggan Health Shop, Organic Shop Environment, dan Friendly Environment.

Ketika pulang ke tanah air, kebiasaan itu klop dengan sang ayah. Apalagi kemudian si bungsu dalam keluarga, Mario Arnaz Hidayat, mesti diet ketat akibat kelebihan bobot badan. Ia hanya boleh menyantap daging bebas lemak dan sayuran organik. Maka sejak 5 tahun silam keluarga besar itu menjadi penikmat produk-produk organik.

Gaya hidup

Kondisi setali tiga uang, di kediaman Karina Suwandi. Model dan pemain sinetron itu senang menyantap makanan organik lantaran sudah terbiasa sejak kecil. Sang ayah, Ir Suwandi, yang menjadi pelopor (baca: Karina Suwandi, Ayunan Cangkul sang Model, halaman 88—89).

Penyanyi mungil yang piawai menari, Dewi Gita, pun gandrung mengkonsumsi produk-produk organik. “Selain lebih sehat, tubuh jadi lebih singset,” kata istri rocker Armand Maulana itu tentang dampak kebiasaan menyantap makanan sehat sejak setahun silam. Sederetan nama lain, seperti Sari Yok Kuswoyo, Ully Sigar Rusadi, Paquita Wijaya, dan Minati Atmanegara, merasakan khasiat serupa.

Menikmati produk-produk organik, tak melulu gaya hidup para selebritis. Di Bandung, Yunita Budiono tertarik mengkonsumsi produk organik setelah membaca sebuah artikel di majalah 3 tahun silam. Sekali mencicipi, dosen FakultasArsitektur Universitas Parahyangan Bandung itu langsung ketagihan. Patrick L Stiady—pemilik Mom’s Bakery di kawasan Progo, Bandung, dan pasangan dokter Ari Wibowo dan Maria Yulianti di Klojen, Malang, mengamini.

Laris manis

Seiring maraknya konsumsi produkproduk organik, gerai-gerai penyedia bahan makanan sehat itu pun bermunculan. Di Jakarta pembeli bisa menyambangi Ranch 99 Market, Matahari Cilandak Town Square, dan Carrefour Lebakbulus. Di Bandung ada Pasar Swalayan Griya dan Yogya. Produk organik mudah ditemukan di pasar swalayan Hero, Malang, dan Papaya, Surabaya (baca: Belanja Organik, di Sini Tempatnya, halaman 90—91).

“Sekarang lebih mudah mendapat sayuran organik ketimbang 5 tahun lalu,” tutur Karina yang kerap berbelanja di Ranch 99 Market. Produk hasil pertanian ramah lingkungan itu pun laris manis. Buktinya, volume pasokan dari kebun Bukit Organik di Ciwidey, Pangalengan, ke pasar swalayan di kawasan niaga Warungbuncit itu meningkat 80% dari kiriman perdana pada Oktober 2003.

Gerai Organik Mart di Pasarminggu, Jakarta Selatan, yang baru diresmikan pada November 2003 pun diburu pembeli. Sayuran, telur, daging ayam, dan beras organik ludes terjual. Itu bertolak belakangan dengan kondisi beberapa tahun silam. Waktu mencoba memasok ke pasarpasar swalayan, “Mereka malah bertanya apa iya produk seperti ini bakal ada pembelinya,” tutur Wardah Alkatiri, pemilik PT Amani Mastra, pemasar produk organik bermerek Amani Organics.

Peningkatan permintaan konsumen berimbas pada pekebun. Sebut saja, Megatani Farm di Cisarua, Bogor. Enam bulan silam order yang masuk ke meja Ishar, sang pemilik, hanya 250 kg per minggu. Kini melonjak jadi 250 kg per pengiriman, 4 kali per minggu untuk 40 item. Peningkatan itu membuat Ishar yang berkebun sejak 4 tahun silam memperluas areal penanaman dari 0,5 ha menjadi 1 ha. Ia pun bermitra dengan 10 pekebun.

Masuknya hobiis

Meski tren organik di masyarakat terbilang baru, “Sebenarnya konsep organik sudah lama ada,” ujar Ali Fatoni dari Amani. Menurutnya ada 3 fase perkembangan organik di Indonesia. Pertama, fase para pionir yang berlangsung pada 1970-an. Salah satu penggeraknya Elsener Adolf Agatho, pemilik Bina Sarana Bakti. Para pelopor itu menganut konsep organik sebagai sebuah filosofi keseimbangan alam.

Fase berikutnya pada 1980-an yang ditandai dengan munculnya lembagalembaga swadaya masyarakat. Mereka terjun mengembangkan pertanian organik dengan bantuan dana dari luar negeri, misal Food and Agriculture Organization (FAO). Program yang paling populer saatitu ialah Program Pengendalian Hama Terpadu (PPHT).

Fase terakhir, pada 2000-an. Di sini para hobiis mulai melirik pertanian organik sebagai peluang bisnis. Setelah berhasil di sektor budidaya, mereka mulai memikirkan pemasaran hasil. Pada fase ini, seminar dan pelatihan marak diselenggarakan. Termasuk di dalamnya pencanangan program “Go Organic 2010” oleh Departemen Pertanian.

Dua kubu

Melihat penyebarannya, pertanian organik terbagi dalam 2 kubu. Komoditas sayuran banyak berkembang di seputaran Jawa Barat, seperti Cisarua, Bogor; Lembang, Bandung, dan Ciwidey, Pangalengan, serta Jawa Timur.

Sebut saja kebun percobaan Universitas Brawijaya di Cangar, Batu, yang mengusahakan 40 jenis sayuran, seperti kailan, pakcoy, wortel, dan kentang. Produsen lain, para pekebun di Tumpang dan Jabung, Malang, yang bergabung di bawah binaan LSM Mitra Bumi Indonesia.Mereka memproduksi buncis, jagung manis, babycorn, tomat, dan brokoli.

Sementara di Jawa Tengah, penanaman padi organik yang ramai. Bersama  rekan-rekan di Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian (BPTP)Yogyakarta, Ir Ahmad Musofie, MS, MM, membina pekebun di 2 dusun di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Yogyakarta. Sejak 1999 mereka mengembangkan padi organik di lahan 5,7 ha yang terisolir.

Pun para pekebun di Kecamatan Sawangan, Magelang, yang dikomandoi Kabul Wiyanto. Lokasi penanaman terpisah dari budidaya secara konvensional. Itu memang salah satu syarat pertanian organik (baca: Satu Organik, Banyak Tafsir, halaman 94) Kabupaten Sragen malah menjadikan pengembangan padi organik sebagai program kerja daerah (baca: Kenangan Berulang di Sragen, halaman 96)

“Permintaan pasar saat ini unlimited. Berapa pun ada pasti habis,” tegas Ali. Malahan sebagian konsumen akhirnya mencoba sendiri menanam. Peningkatan jumlah konsumen organik di dunia mencapai 20% per tahun. Permintaan ekspor yang masih belum terpenuhi. Kini dari sebuah gaya hidup, organik menebar sejumlah peluang. (Evy Syariefa/Peliput: Bertha Hapsari, Destika Cahyana, Nyuwan S B, Pupu Marfu’ah, dan Sardi Duryatmo)

Bumerang Harga Tinggi

Iming-iming harga tinggi tak selamanya membahagiakan pemain organik. Perbedaan harga cukup signifikan, misal harga gabah kering panen IR-64 di Sragen Rp2.200—Rp2.300 di tingkat pekebun, penanaman biasa Rp1.100 per kg, menggoda pekebun untuk beralih. “Tapi itu bisa jadi bumerang. Karena dari produsen sudah mahal, sampai ke tangan konsumen harga produk organik lebih tinggi lagi,” tutur Wardah Alkatiri, pemilik PT Amani Mastra.

Maklum, untuk menampilkan produk prima seperti yang diinginkan konsumen dibutuhkan biaya sortasi, pengemasan, dan pengangkutan lumayan besar. Akibatnya, hanya segelintir konsumen yang sanggup membeli. Mestinya dengan semakin banyaknya konsumen, pangsa pasar kian membesar.

Sebaliknya, bila pemasar tidak mau membeli dengan harga mahal, pekebun tak mau menjual. Bila pemasar tetap bertahan, bisa-bisa pekebun mutung tak mau lagi menanam secara organik. “Padahal penanaman secara organik itu sebenarnya murah karena semua kebutuhan dipenuhi sendiri,” kata Fajar Aris Prabowo, produsen padi organik.

Menurut Fajar, fenomena serupa pernah terjadi di Jepang. Pada 1970-an gerai penyedia organik tumbuh menjamur menyediakan produk-produk dengan harga mahal. Akibatnya, konsumen “tercekik”.

Itu menjadi salah satu alasan dibentuknya cara pemasaran yang disebut tei kei. Dengan model itu kelompok pembeli dan konsumen dipertemukan langsung. Di situ disepakati harga jual yang tidak menjerat konsumen, tapi tetap memberikan keuntungan pada pekebun. Melihat gejala serupa, tak ada salahnya pemain organik lokal berkaca pada mereka yang di negeri Sakura. (Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img