Thursday, December 8, 2022

Gemilang di Tengah Badai

Rekomendasi

Gempuran angin selama 5 menit itu datang sebelum penjurian dimulai. Terpaan itu membuat penampilan beberapa aglaonema terganggu, terutama yang bertangkai lemah. ‘Hanya 60% peserta tetap kokoh,’ kata Ukay Saputra, juri dari Jakarta.

Toh bukan berarti persaingan menjadi ringan. Aglaonema yang berhasil melalui ujian sang bayu semuanya tampil istimewa. ‘Persaingan sangat ketat, sekitar 80% peserta yang lolos berkualitas juara,’ kata Gatot Purwoko, juri dari Tangerang.

Mutasi

Terbukti, baru babak penyisihan saja juri sudah berdebat alot. Terutama karena hadirnya jenis baru dan mutasi yang bersosok prima. Contohnya rosa – silangan asal Thailand – yang berkarakter mirip silangan lokal turun di kelas tunggal. Sosok tanaman kekar, daunnya tebal dan lebar.

Namun, rosa bukan yang paling memikat juri. Di kelas tunggal, widuri mutasi bintang di antara 38 peserta. Semua juri sepakat menempatkannya menjadi juara pertama. Warna dasar daun aglaonema milik Harry Setiawan itu kuning dengan tulang dan corak merah menyala. Corak hijaunya sangat sedikit.

Lazimnya widuri berwarna dasar hijau dengan corak kuning dan merah. ‘Biasanya warna mutasi widuri seperti itu mudah pudar, ini istimewa karena warna kuningnya tetap cerah,’ kata Gatot Purwoko. Ia mengalahkan rindu milik Martinus Chandra dan morodoklo milik Harry Setiawan yang meraih posisi kedua dan ketiga.

Di kelas majemuk, legacy rimbun dan kompak menempati takhta juara pertama menumbangkan 32 rival. Susunan daun dan tangkai rapat membuatnya sama sekali tak terpengaruh terpaan angin kencang. ‘Arah daun menyebar merata ke segala arah,’ kata Ukay. Rival terberatnya super red dan hot lady.

Grand prix

Lomba tanaman hias lain juga berlangsung sengit di Jember, Jawa Timur. Di sana 46 adenium dari 7 kategori bersaing ketat di arena grand prix. Disebut grand prix karena mirip lomba Moto GPatau F1 yang menggunakan sistem klasemen sementara.

Klasemen final diperoleh setelah adenium itu melewati 4 rangkaian lomba di 4 kota: Jember, Yogyakarta, Surabaya, dan Kediri. ‘Adenium yang meraih total poin tertinggi yang bakal menjadi adenium of the year 2009,’ kata Hartono, inisiator grand prix dari Kediri. Di putaran pertama di Jember Adenium obesum dengan percabangan RCNmilik F Cu Liong mengantongi nilai 63,50 di kelas total performance. Angka itu menempatkannya di urutan teratas dalam klasemen sementara putaran pertama kontes Jember Adenium Super Spirit 2009 dengan poin 10.

Posisi kedua klasemen direbut rachine pandok (RCN) milik Jegeg Family asal Bali. RCNitu meraih poin 9 setelah sukses menjadi juara di kelas RCNbesar dengan angka 63,00.

Menurut Indra DAdji, panitia kontes, selain 46 peserta grand prix, terdapat 124 peserta yang juga ikut di kelas pemula dan nongrand prix. Peserta berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Dengan begitu total peserta mencapai 170 peserta. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Destika Cahyana)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img