Saturday, August 13, 2022

Generasi Baru: Bonsi-bonsi Perkasa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Yang dicari, bonsi-bonsi bersosok kekar, batang pendek, dan daun kokoh. ‘Jenis-jenis seperti ini yang potensial dikembangkan,’ tutur Pichai.

Kelahiran 23 Maret 1933 itu memang telanjur kepincut pada bonsi-sebutan caladium di negeri Siam. Di salah satu sudut pabriknya, Pichai mengoleksi puluhan jenis anggota famili Araceae itu di rumah plastik berukuran 5 m x 8 m. Tak sekadar mengoleksi, alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Kasetsart, Bangkok, itu berniat menyilang-nyilangkan.

‘Ini indukan-indukan untuk penyilangan. Tujuannya menghasilkan jenis-jenis yang pendek dan kekar,’ kata pemegang gelar master bidang entomologi dari Universitas Barkeley, Kalifornia, Amerika Serikat, itu. Musababnya, banyak yang mengeluh caladium negeri Siam penampilannya cantik-cantik, tapi daun kerap loyo hingga perlu disangga. ‘Padahal, penggunaan kayu penyangga juga membutuhkan biaya,’ imbuh Pichai.

Di nurseri kecilnya, wartawan Trubus, Evy Syariefa melihat yod us win dam, yod kun suek, promburi, dan mahaadtai. Yang disebut pertama, bertangkai hitam dan besar dengan daun merah bergaris-garis hitam. Penampilannya gagah sehingga pas dijuluki yod us win dam, ksatria nomor 1.

Penampilan yod kun suek mirip yod us win dam. Hanya saja yod kun suek berwarna lebih cerah dengan garis-garis hitam lebih tegas. Promburi dan mahaadtai juga bernuansa merah-hitam. Cuma daun promburi bertaburan warna putih di sela-sela tulang kehitaman. Sementara penampilan mahaadtai mirip daun plastik.

Putri bidadari

Sepintas penampilan caladium koleksi Pichai mirip tida sawan. Bonsi hasil silangan Jenderal Payont Chueban itu jenis terpopuler di Thailand. Maklum sosoknya memang cantik: punya kombinasi warna merah hitam yang kontras. Tangkai yang hitam dan daunnya kokoh.

Selain putrinya para bidadari itu-arti nama tida sawan-tangan Payont juga melahirkan chao ying. Keistimewaan sang putri, daunnya lebat dan kompak. ‘Untuk mendapatkan jenis seperti ini-warna memikat, sosok vigor, red-butuh waktu lama,’ kata pensiunan jenderal polisi itu. Tida sawan dihasilkan lewat 5 kali kawin silang selama 5 tahun.

Toh, hasilnya sepadan. Tida sawan dan chao ying bonsi yang banyak diburu pedagang dan kolektor. Makanya para penyilang rajin mengawin-ngawinkan kerabat aglaonema itu. Di Pathumthani, Rosy Nur Apriyanti, wartawan Trubus, bertemu Prasit Saladtuk. Ayah 2 anak yang 26 tahun menyilang-nyilangkan bonsi itu punya marn maykin yang kombinasi warnanya seperti marmer, prakai suria yang berbintik-bintik, chompu pimain dengan corak paduan hijau-merah-putih, dan yanuaris-hijau segar. Semua bersosok pendek dan vigor.

Mereka kian getol mengawin- ngawinkan bonsi untuk mendapat jenis baru supaya bisa diadu di ajang lomba. ‘Acara itu jadi ajang untuk menjual caladium dengan harga lebih mahal,’ tutur Pichai. Kini yang dicari jenis-jenis perkasa seperti ksatria nomor 1. (Evy Syariefa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img