Friday, December 2, 2022

Getah Magis Andalas

Rekomendasi

Getah kemenyan multiguna sebagai bahan baku parfum, kosmetik, parfum, obat-obatan, sabun, dan pangan.

Almen Berutu tak lagi muda. Usinya 65 tahun. Namun, kakek 6 cucu itu tampak amat tangkas ketika memanjat pohon kemenyan. Kakinya berpijak pada sepotong kayu. Begitu pula salah satu tangan, berpegangan pada kayu di atas. Kedua kayu yang terhubung dengan tali itu berfungsi sebagai tangga.

Masyarakat Desa Ulumera, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpakbharat, Provinsi Sumatera Utara, menyebut peranti itu julu-julu. Di ketinggian 3 meter dari permukaan tanah, Almen Berutu memanen getah kemenyan. Getah pohon anggota famili Styraceae itu mengalir perlahan ketika Almen melukai batang 3 bulan sebelumnya.

Lalu getah melekat di lubang atau luka di kulit pohon. Sebagian lainnya meleleh di kulit pohon dan mengering. Bila dibandingkan dengan karet yang sama-sama menghasikan getah, produksi getah kemenyan relatif rendah. Karet menghasikan semangkuk getah per hari. Bandingkan dengan getah kemenyan, sekali toreh pekebun hanya memperoleh 400 gram dalam 3 bulan.

Untuk memanen getah, Armen memanfaatkan panuktuk semacam pisau untuk mencongkel getah yang melekat dengan pohon. Sementara tangan kirinya siap menadah hasil cungkilan. Almen memasukkan getah yang mengering dan bercampur potongan kulit kayu ke dalam curu-curu alias wadah terbuat dari rotan yang tersangkut di bahu.

“Sekarang potongan-potongan kulit kayu bekas tempat melekat getah juga sudah dihargai penampung. Karena itu jangan sampai terbuang,” kata Darlan Berutu, kerabat Almen. Harganya Rp1.000-Rp2.000 per kg. Hasil congkelan pertama menghasilkan getah berwarna putih. Masyarakat Ulumera menyebut getah putih itu sidukabi atau mata zam-zam.

Getah-getah yang banyak dinanti beragam industri seperti parfum, obat-obatan, kosmetik, sabun, cat, dan pangan itulah yang harganya relatif mahal, Rp100.000 per kg. Biasanya kian besar ukuran getah, makin mahal pula harganya. Berdasarkan ukuran, getah kemenyan terbagi atas 7 kelas, yakni mata kasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus, dan abu. Sebagai perbandingan jika harga mata kasar Rp100.000, maka abu hanya Rp30.000 per kg.

Selain ukuran, faktor yang juga menentukan harga adalah warna getah. Dalam hal ini, makin putih kemenyan, kian mahal. Namun, dibandingkan harga pada 1960-an harga-harga itu relatif murah. Ketika itu harga sekilo kemenyan bermutu bagus setara satu gram emas. Namun, kini harga kemenyan yang hanya Rp100.000 per kg hanya seperempat harga 1 gram logam mulia itu.

Pekebun akan melukai lagi di bekas goresan yang mengeluarkan mata zam-zam. Torehan kedua itu menghasilkan getah jalur atau jurur. Pekebun menuai getah jalur 2-3 bulan setelah memanen mata zam-zam. Setelah itu muncul getah ketiga yang disebut tahir. Harganya jauh lebih murah daripada harga mata zam-zam dan jurur.

Usai memanen getah kemenyan, Almen membersihkan batang dengan cuncun atau besi mirip tang. Ia menggerakkan besi itu atas dan ke bawah secara berulang-ulang. Gesekan cuncun dengan kulit kayu kering menimbulkan suara nyaring seolah dua besi bergesekan. Dengan lincah tangan tua itu menggeruskan cuncun ke sekujur kulit batang pohon berumur 8 tahun itu.

Suara truing, truing, truing, memecah keheningan pada sebuah siang di pengujung Juni 2012. “Seluruh permukaan batang harus dibersihkan agar kulit tua terkelupas,” tutur Johari, pekebun kemenyan yang juga menemani Trubus. Dengan demikian kulit pohon tidak akan mengotori getah karena mengalir ke kulit yang sudah bersih. Bila tidak bersih, kulit kayu dan getah akan mengering dan bersatu. Akibatnya kualitas getah turun sehingga harganya anjlok.

Batang hamenjon alias kemenyan itu kini kembali bersih. Almen cekatan mengambil panuktuk atau pisau dari keranjang rotan. Ia kemudian melukai batang dengan menusukkan ujung panuktuk ke kulit batang kemenyan dan mencungkilnya hingga kulit terluka. Supaya luka lebih lebar, Almen memukul bekas luka itu dengan bola panuktuknya sembar mengucap mantra, “Duruhko kemenjen, duruhko kemenjen…” berulang-ulang.

Itu harapan Almen agar pohon mengeluarkan banyak getah. Dalam tempo 15 menit, Almen tuntas memanen, membersihkan, dan menoreh batang setinggi 2 m. Dalam sehari, ia bisa memanen dan menyadap getah 15 pohon. Namun, hasilnya tidak tentu, bahkan kadang tidak panen sama sekali. Hari itu pun yang bisa dipanen hanya 1 ons dari 2 pohon. Harap mafhum, umur pohon relatif muda, baru 8 tahun.

Produksi getah kian meningkat seiring pertambahan umur pohon. Keruan saja, batang pohon pun makin tinggi sehingga untuk memanennya, petani memerlukan dua jalu-jalu alias tangga. Tujuannya agar mampu menjangkau batang pohon bagian atas, yakni pada ketinggian 4-6 m di atas permukaan tanah. Keluarga Almen Berutu setidaknya 400 pohon yang terdapat di dua lokasi berbeda.

Sebuah kebun lagi terdapat di atas bukit. Perlu 3 jam berjalan kaki dari rumahnya untuk mencapai kebun itu. Itulah sebabnya biasanya ia memilih tinggal dan bermalam di kebun selama 1-2 pekan ketika musim panen tiba. Tujuannya agar efisien karena lamanya perjalanan. Waktu 14 hari itu cukup untuk memanen 400 pohon. Saat berangkat, ia membawa perbekalan seperti beras, panci, air minum, dan pauk.

Sebenarnya para pekebun yang lahannya jauh, dapat mempekerjakan buruh dengan upah Rp40.000 per hari. Namun,  mereka menganggap dianggap cukup berat bagi masyarakat bersahaya seperti mereka. Dahulu sebelum berangkat, mereka menyelenggarakan ritual pelleng, yakni memohon agar selamat dan Tuhan memudahkan pekerjaan selama panen, dan memperoleh hasil melimpah. Namun, kini banyak pekebun meninggalkan ritual itu karena lebih praktis.

Almen menanam 2 jenis kemenyan, yakni kemenyan toba Styrax paralleloneurus dan kemenyan dairi atau durame Styrax benzoin. Keduanya dapat dibedakan dari bentuk dan warna daun. Daun kemenyan durame lebih lebar dan bentuknya bulat memanjang. Warna pucuk daun putih. Bandingkan dengan ukuran daun kemenyan toba lebih sempit, bentuk meruncing, dan warna pucuk kemerahan. Kemenyan durame lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan jenis toba.

Para pekebun mulai menyadap durame sejak umur 6-7 tahun; kemenyan toba, pada umur 10-13 tahun. Dari segi aroma, kemenyan toba lebih tajam dibandingkan dengan kemenyan durame. Masyarakat Pakpakbharat lebih banyak menanam kemenyan toba karena harga jualnya lebih tinggi. Menurut Almen getah kemenyan toba cepat kering dan berwarna putih sehingga tampak bersih. Sementara getah dairi alias durame, cenderung lambat kering sehingga lebih lembek dan berwarna gelap.

Hamijon toba atau kemenyan toba dianggap paling berkualitas. Indikator mutu didasarkan pada: kadar air, kadar kotoran, dan kandungan kimia seperti asam benzoat dan asam siamat. Karena kualitas toba lebih baik, harganya pun lebih tinggi, pada pertengahan 2012 mencapai Rp100.000 per kg. Bandingkan dengan darume hanya Rp75.000 per kg. Karena perbedaan harga itu, masyarakat cenderung menanam jenis toba.

Namun, di sisi lain, banyak juga pekebun yang membiarkan pohon-pohon merana tanpa perawatan. Di sentra kemenyan Desa Ulumera, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpakbharat, misalnya, mudah dijumpai kebun kemenyan penuh ilalang. Ada pula yang membiarkan pohon-pohon renta berumur puluhan tahun tetap tegak, tanpa meregenerasi. Padahal, produksi pohon tua kian menurun.

Darlan mengatakan bahwa pemilik malas mengurus kebun kemenyan warisan orang tua. Harap mafhum, mengelola kebun termasuk memanen getah kemenyan bukan pekerjaan ringan. Mungkin karena itulah beberapa pekebun menebang pohon kemenyan dan menjual kayu untuk bahan mebel. Setelah itu mereka mengganti pohon kemenyan dengan bibit kopi, jagung, atau gambir. Apakah wangi luban jawi dari pohon-pohon yang menjulang tinggi itu harus berakhir? (Syah Angkasa)

 

Beberapa pekebun menebang pohon kemenyan dan menjual kayu untuk bahan mebel. Setelah itu mereka mengganti pohon kemenyan dengan bibit kopi, jagung, atau gambir. Apakah wangi luban jawi dari pohon-pohon yang menjulang tinggi itu harus berakhir?

 

 

 

 

Keterangan Foto :

  1. Untuk mendapatkan getah kemenyan, harus sabar menunggu 3-5 bulan sampai siap panen
  2. Cuncun dipakai untuk membersihkan kulit kering sehingga tidak mengotori getah
  3. Pohon kemenyan berhabitat asli di pegunungan di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara
  4. Panuktuk dilengkapi pisau tajam untuk melukai kulit kayu.
  5. Luka kemudian di getuk dengan bola panuktuk untuk membuat jaringan rusaak sehingga terbentuk lubang. Di lubang itu getah berkumpul.
  6. Jalu-jalu dimanfaatkan sebagai tangga untuk memanen getah di batang bagian atas.
  7. Jalu-jalu dilengkapi tali polang untuk memanjat naik ke jalu-jalu yang telah dipasang
  8. Kulit dibersihkan, getah dipanen, lalu membuat guratan di kulit.
  9. Getah di bagian atas pohon dipanen dengan memasang jalu-jalu di bagian atas.
  10. Untuk memperoleh komoditas ekspor itu dengan berjalan kaki hingga beberapa jam
  11. Getah kemenyan dipakai sebagai bahan baku dalam industri parfum, obat-obatan, kosmetik
  12. Keminjen toba, daun sempit dan kemerahan dianggap lebih berkualitas karena hasilkan getah putih
  13. Komenjen dairi atau durame dipanen lebih cepat, tetapi getah dihasilkan berwarna gelap
  14. Meski merupakan komuditas ekspor, tetapi nasib kemenyan kian redup. Lahannya kian sempit diganti komoditas lain, bahkan cukup banyak hanya digantikan oleh alang-alang
Previous articleParfum Kemenyan
Next articleTanam Rapat untuk si Manis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img