Thursday, December 8, 2022

Gusti Ngurah Wididana Bertumpu pada Serdadu Supermini

Rekomendasi

Setelah dikulturkan selama sebulan, larutan effective microorganisms (EM)-sebutan larutan yang mengandung mikroorganisme-itu kemudian dikemas dalam botol berkapasitas 1-15 liter. Dari pabrik milik Gusti Ngurah Wididana itu diproduksi setidaknya 30 ton larutan EM setiap bulan.

 

Wididana-begitu ia disapa-mengembangbiakkan beberapa jenis mikroorganisme seperti bakteri asam laktat Lactobacillus sp, bakteri fotosintesis Rhodopseudomonas sp, Actinomycetes sp, Streptomyces sp, dan ragi. Makhluk-makhluk superliliput itu dibudidayakan dalam larutan molase alias tetes tebu. Kelima jenis mikroorganisme itu memiliki beragam faedah. Bakteri Lactobacillus misalnya, dapat menghalau mikoorganisme merugikan sehingga seringkali digunakan untuk proses sterilisasi dan mempercepat penguraian bahan organik. Bakteri asam laktat itu juga dapat menguraikan lignin dan selulosa.

Bakteri fotosintetik mampu menguraikan bahan organik dan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida dengan bantuan sinar matahari dan panas di dalam tanah sebagai sumber energi. Bahan organik diurai membentuk asam amino, asam nukleat, bahan bioaktif, dan gula yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Asam amino dan gula yang dihasilkan kemudian disintesis oleh ragi menjadi bahan antimikroba dan bahan berguna lainnya. Bahan bioaktif seperti hormon dan enzim yang dihasilkan ragi dapat mengaktifk an sel tanaman dan perakaran.

Di Jepang

Pemanfaatan mikroorganisme itu pertama kali diperkenalkan Prof Teruo Higa dari University of Ryukyus, di Okinawa, Jepang. Pada 1990, Gusti Ngurah Wididana memboyong teknologi pemanfaatan EM ke Indonesia. Ketika itu ia baru saja menyelesaikan studi untuk meraih gelar master di bidang budidaya hortikultura di University of Ryukyus. Di sanalah pria kelahiran Bali 46 tahun silam itu berguru pada Teruo Higa.

Kini, pemanfaatan EM untuk dunia pertanian kian populer di tanahair. Faedahnya pun semakin luas. Larutan EM tak hanya digunakan untuk memproduksi pupuk bokashi, tetapi juga dimanfaatkan para peternak unggas dan mamalia untuk memfermentasi pakan agar mudah dicerna.

Oleh para peternak ikan dan petambak, EM digunakan untuk memfermentasi sisa pakan, kotoran, dan cangkang udang di dasar kolam sehingga gas amonia, metan, dan hidrogen sulfida yang terlarut dalam air dapat terurai. Kualitas air pun tetap terjaga. Tingkat kematian ikan atau udang akibat pencemaran air dapat ditekan.

Di tangan Wididana, larutan EM tak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dunia pertanian. Ia memproduksi EM untuk keperluan rumahtangga seperti menghilangkan bau tak sedap di peturasan. Bakteri-bakteri dalam larutan itu memfermentasi limbah organik di dalam septitank dengan cepat sehingga tidak terjadi penumpukan.

Kreatif

Kesuksesan Wididana mengembangkan teknologi EM di tanahair bukanlah hasil perjuangan sekejap. Enam tahun lamanya Wididana berkeliling ke berbagai sentra pertanian seperti Cianjur, Bogor, Karawang, Bandung, Garut, dan Sukabumi untuk memperkenalkan teknologi EM. Pria yang saat itu berprofesi sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Nasional Jakarta, menyewa lahan di daerah-daerah itu untuk lahan percobaan. Ia pun bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan beberapa perguruan tinggi untuk melakukan penelitian.

Sayang, jerih payahnya tak sepadan dengan hasil yang diperoleh. Sambutan petani terhadap teknologi EM ternyata kurang menggembirakan, katanya. Maklum, ketika itu penggunaan pupuk organik masih dipandang sebelah mata oleh para pekebun. Para petani masih tergiur menggunakan pupuk kimia yang menurut mereka lebih tokcer ketimbang pupuk organik, ujarnya.

Pil pahit yang ia telan tak menyurutkan dirinya untuk terus mempopulerkan teknologi EM. Agar lebih fokus mengembangkan usaha, Wididana akhirnya melepaskan profesinya sebagai dosen. Ia pun memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Bali. Biaya operasional di Bali lebih murah ketimbang di Jawa. Oleh sebab itu, saya memilih hijrah, katanya.

Wididana pun menyusun strategi baru. Saya harus lebih kreatif, katanya. Untuk memperkenalkan teknologi EM kepada masyarakat, ia mendirikan pusat pelatihan Institut Pengembangan Sumberdaya Alam (IPSA) di kampung halamannya di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali. Kalau dulu saya berkeliling daerah untuk mencari pengguna EM, sekarang mereka yang mencari saya, seloroh ayah 4 anak itu. Di pusat pelatihan itu para peserta diperkenalkan teknologi EM dan penerapannya bagi pertanian.

Stasiun radio

Strategi lainnya, Wididana juga memproduksi aneka produk yang teknik pembuatannya mengandalkan mikroorganisme. Ia meramu obat tradisional berupa minyak oles yang mengandung sari 315 jenis tanaman obat hasil fermentasi. Obat tradisional itu berfaedah menyembuhkan beberapa penyakit seperti batuk, pilek, masuk angin, sesak napas, pegal-pegal, dan mengobati luka.

Untuk mempromosikan teknologi EM, ia mendirikan 2 stasiun radio yaitu Pak Oles FM dan Bokashi FM di kota Denpasar dan Klungkung, Bali. Promosi juga dilancarkan melalui media cetak harian Pak Oles. Awal 2007, Wididana mendirikan 1 stasiun radio baru di daerah Bengkel, Buleleng, Bali. Untuk mengembangkan sayap bisnis, Wididana juga membuka kantor cabang di luar Bali yaitu di Jakarta dan Surabaya. Berkat teknologi EM, kini Wididana meraup pendapatan hingga miliaran rupiah setiap bulan. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img