Thursday, August 11, 2022

H. Ede Kadarusman Upaya Taklukkan Eropa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Berkunjung ke mancanegara itu bukan kali pertama dilakoni Ede. Sembilan bulan lalu, November 2007, Ede mendatangi 3 negara Uni Eropa lain: Perancis, Belanda, dan Jerman. ‘Saya dikirim oleh Badan Promosi Penanaman Modal Provinsi Jawa Barat sebagai wakil produsen minyak asiri untuk berpromosi,’ katanya. Pasar Eropa dibidik lantaran permintaan tinggi untuk zat pengikat aroma itu sebagai bahan parfum.

Calon pembeli memang belum ada, tapi Ede dapat memetik pelajaran berharga soal bisnis. ‘Pasar Eropa menghendaki jaminan kontinuitas pasokan. Ini yang masih sulit dipenuhi,’ ujar ketua Asosiasi Petani, Produsen, dan Pelaku Bisnis Minyak Asiri Jawa Barat (AP3MA-Jabar) itu. Sebagai penyuling akarwangi Ede cuma sanggup menyetor 50-100 kg/minggu minyak Andropogon zizanioides itu. Namun pada bulan tertentu, April-Juni, pengiriman minyak berhenti. ‘Bahan baku sulit didapat sehingga ketel tidak berproduksi,’ ujarnya. Saat itu pekebun akarwangi memasuki musim tanam.

Soal harga? Inilah masa-masa terbaik. Menurut Ede di tangan eksportir harga minyak akarwangi sudah mencapai Rp750.000/kg. Nah bila mampu potong kompas dengan menjual langsung ke pembeli Eropa, harga jual mencapai US$111,9/kg setara Rp1,1-juta (kurs US$1=Rp9.787). Padahal, biaya produksi berkisar Rp180.000-Rp200.000/kg.

Generasi ke-4

Pilihan Ede pada akarwangi tidak datang tiba-tiba. Sejak 1918, kakek-buyutnya sudah berkebun tanaman asli Asia Selatan itu. Kakeknya, H. Tasdiq adalah pekebun besar di Kecamatan Samarang. Di luar Samarang, masih di Garut, akarwangi juga ditanam di Pasirwangi, Bayongbong, Cilawu, hingga Leles. Total ada 2.400 hektar yang ditanami para pekebun saat itu. ‘Akarwangi itu diekspor tanpa disuling dahulu,’ ujarnya.

H. Tasdiq pula yang menjadi pelopor penyulingan pertama di Garut pada 1925. Itu karena harga jual minyak lebih bagus. Dengan ketel sederhana H. Tasdiq menjual belasan kilo hasil sulingan itu langsung pada pedagang Belanda yang datang. Usaha itu berpindah tangan beberapa kali hingga kini jatuh pada Ede.

‘Dari garis keluarga saya adalah generasi ke-4,’ ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. Angin segar dibawa Ede sejak menggantikan sang ayah, H Syamsudin. Bila kakek-buyut sampai ayahnya memakai kayu bakar untuk memasak, Ede menggantinya dengan minyak tanah. Pun kapasitas ketel menjadi 1,5 ton dari semula 1 ton. Tak hanya itu produsen terbesar minyak akarwangi di Indonesia itu menjalin mitra bersama 20 pekebun lain. ‘Lahan untuk bahan baku kini ada 100 ha, sebelumnya hanya 20 hektar,’ ujar suami Hj Iis Zubaidah itu.

Kerja sama dengan pekebun lain itu dirasakan penting oleh Ede. Hingga 2000 harga minyak tanaman yang subur dibudidayakan di ketinggian 1.200 m dpl itu mencapai Rp400.000-Rp450.000/kg. Harga bahan baku Rp1.500-Rp2.000/kg. Bahkan pada 2004 Ebe bak jutawan karena sekilo minyak produksinya dibeli Rp650.000/kg. ‘Saat itu banyak pekebun baru bermunculan karena harga bahan baku tinggi mencapai Rp2.500/kg,’ tutur ayah 4 putra itu.

Sayang, masa keemasan meluntur memasuki 2006. Harga minyak akarwangi anjlok hingga menyentuh Rp200.000/kg. Demikian pula bahan baku, dihargai Rp300/kg. ‘Saat itu harga bahan bakar sudah mencapai Rp1.600/liter,’ ujar Ede yang perlu 250 liter minyak tanah setiap kali menyuling itu. Tak pelak kondisi itu membuat para pekebun gulung tikar. Lahan yang ditanami hanya bersisa 700-800 hektar dari 2.400 hektar. ‘Makanya untuk menjaga pasokan pekebun perlu dirangkul agar mereka tidak menggantinya dengan komoditas lain,’ ujar Ede yang menguras seluruh tabungan pensiun agar bisnisnya tidak mati.

Naik

Di luar bahan baku, Ede menunjuk ketel sebagai masalah lain. Saat proses penyulingan berlangsung tekanan ketel dijaga pada angka 2,5-3 bar. ‘Pada tekanan itu minyak akarwangi yang didapat berwarna jernih dengan bau harum yang halus,’ katanya. Namun sering terjadi temperatur uap ketel melejit menembus angka 5 bar. Bila itu terjadi minyak yang dihasilkan berbau gosong. ‘Mungkin karena umur ketel yang sudah tua, sekitar 20 tahun,’ ujar salah satu pengurus Dewan Asiri Indonesia yang punya 2 ketel suling itu.

Menurut Ede fluktuasi tekanan itu kadang menjadi buah simalakama. Pada tekanan 2,5-3 bar waktu pemasakan mencapai 18 jam. ‘Kalau tekanan tinggi bisa sekitar 12 jam,’ katanya. Selisih waktu itu sangat berpengaruh pada konsumsi bahan bakar. Maklum setiap jam proses penyulingan menyedot 22 liter bahan bakar. ‘Tapi penyulingan dengan tekanan rendah tetap dipilih karena rendemen minyak jauh lebih tinggi mencapai 0,6-0,8%,’ katanya.

Di mata Ede bisnis minyak akarwangi tetap menarik. ‘Ekspor minyak akarwangi kita masih kecil,’ katanya. Kini tinggal menaikkan kualitas agar daya jualnya setara sulingan minyak dari negara pesaing: Haiti dan Bourbon di Perancis. ‘Minyak dari Haiti terkenal paling mahal di luar negeri,’ ujar Ede.

Untuk menembus kekuatan para pesaing itu Ede tidak tanggung-tanggung mempersiapkan diri. Di lahan seluas 1.400 m2 kini Ede tengah menguji coba instalasi penyulingan baru. ‘Ketel ini dibuat untuk efisiensi bahan bakar sekaligus meningkatkan mutu minyak,’ ujarnya. Tak hanya itu, Ede juga mendirikan laboratorium mini untuk meneliti setiap kucuran minyak asiri ketelnya. ‘Minyak akar wangi kita harus menembus Eropa seperti dari Haiti,’ harapnya. (Dian Adijaya S/Peliput: Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img