Yosef—sebutan Yusuf oleh bangsa Israel—mengartikan. Mesir bakal mengalami masa subur selama 7 tahun berturut-turut, diikuti masa suram selama 7 tahun. Putra Yakub itu menyarankan prinsip menabung di kala makmur untuk mengatasi masa paceklik yang akan menimpa Mesir.
Kini nasihat Yusuf pada Firaun itu terpatri kuat di hati H Mahyudin MT, Bupati Kabupaten Kutai Timur. Maklum, orang nomor satu di salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan timur itu sadar betul. Kutai Timur daerah kaya raya. Lebih dari 90.960 ha lahan di wilayah Kutai Timur mengandung cadangan batu bara di bawahnya. Dari Kutai Timur itulah sejak 1992 setiap tahun diproduksi 15-juta ton batubara per tahun. Dua tahun terakhir, target produksi meningkat menjadi 50-juta ton per tahun.
Besarnya kekayaan batubara di Kutai Timur menyebabkan 71% pendapatan daerah pada 2002 sebesar Rp800 miliar berasal dari batubara. Sisanya terbagi pada sektor lain, seperti minyak bumi selain batubara, kehutanan, dan pertanian. Saat ini penambangan batubara di Kutai Timur itu dilakukan oleh Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu perusahaan penambang batubara terkemuka di dunia. Namun, penambangan batubara yang telah dimulai sejak 1992 itu akan berakhir pada 2021.
Lalu bagaimana nasib kabupaten yang beribukota di Sangatta itu sepeninggal KPC? Mungkinkah ia bernasib sama dengan Mesir yang mengalami paceklik setelah makmur selama 7 tahun? Dua wartawan Trubus Onny Untung dan Destika Cahyana, bertemu langsung dengan H Mahyudin MT, di kediamannya di Dusun Gembara V, Desa Singa Gembara, untuk mengetahui jawabannya. Berikut petikan wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit:
Semua orang tahu, Kutai Timur kabupaten yang sangat kaya batubara. Bagaimana nanti seandainya batubara di sini telah habis?
Benar sekali, pendapatan daerah Kutai Timur selama ini tergantung pada batubara. Sumbangan batubara terhadap pendapatan daerah pun tak dapat dipungkiri lagi besarnya. Namun, ketika batubara habis, saya tak khawatir Kutai Timur jatuh miskin. Saya punya patokan, pemimpin daerah harus belajar pada pemimpin sebelumnya. Dalam hal ini, saya selalu ingat pada kasus yang terjadi di Mesir. Negara itu mampu bertahan melewati masa paceklik karena menimbun pangan di saat negeri mereka makmur. Prinsip menabung itulah yang diterapkan pada pemerintahan saya.
Contoh kongkritnya?
Saya telah memulai merintis sumber pendapatan selain dari batubara. Sektor perkebunan misalnya. Tak perlu saya repot-repot mengundang, investor daerah dan luar daerah yang hendak membangun perkebunan kelapa sawit sampai antri. Jari saya tak cukup untuk menghitungnya. Walau begitu, saya tetap memprioritaskan investor lokal. Hanya investor luar daerah yang betul-betul serius yang akan saya terima. Misal, mereka harus bersedia menerima tenaga lokal sebagai karyawan.
Ada contoh lain?
Ya, itu contoh investor luar. Namun, saya juga tak ingin hanya investor swasta yang membangun Kutai Timur. Karena itu, selama kepemimpinan saya juga didirikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Nantinya BUMD itulah yang akan mengelola kekayaan alam bumi Kutai Timur. Keuntungan yang didapat diinvestasikan kembali dan sebagian ditabung. Bila BUMD telah kuat, Kutai Timur tak perlu khawatir walaupun batubara telah habis.
Banyak kalangan luar menilai, walau Kutai Timur kaya, penduduk yang bekerja di sektor non pertambangan masuk kategori miskin. Bagaimana pendapat Anda?
Penduduk miskin di setiap daerah pasti ada. Namun, saya tidak melihat persoalan kemiskinan sebagai akar masalah pembangunan Kutai Timur. Secara umum sebetulnya mereka mampu berswadaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, letak mereka yang terisolasi menyebabkan mereka seolah-olah miskin. Karena terisolasi dan miskin itulah, Sangatta dulu kala diplesetkan menjadi sangat menderita. Namun, yang perlu ditekankan kemiskinan mereka hanyalah akibat, bukan sebab.
Bagaimana Anda mengatasi persoalan itu?
Sangat sederhana, bebaskan mereka dari isolasi. Saya membuka jalan yang menghubungkan 11 kecamatan. Memang saat ini bangunan jalan antar kecamatan belum beraspal, tapi berlapis batu merah. Namun, jangan hanya lihat saat ini. Bandingkan dengan 3 atau 5 tahun ke belakang sebelum saya menjadi bupati. Dulu jalan-jalan itu belum nyambung.
Anda harus tahu, Kutai Timur tergolong kabupaten muda. Ia baru menjadi kabupaten pada 1999 setelah pemekaran daerah dimungkinkan oleh Undang-Undang. Sebelum itu Kutai Timur masuk Kabupaten Kutai. Jangankan kecamatan, daerah yang Anda kunjungi ini (Sangatta, red) disebut tempat jin buang anak. Sangatta masih menjadi bagian dari Kecamatan Bontang.
Kini, coba Anda tanyakan pada orang yang pernah tinggal di Sangatta, dan telah pergi selama setahun. Bila kembali ke Sangatta, pasti mereka menggelenggelengkan kepala melihat kemajuan pesat daerahnya.
Selain menyambungkan akses jalan ke setiap kecamatan di Sangatta, apa lagi yang Anda lakukan agar Kutai Timur secara keseluruhan tidak terisolasi?
Membuka diri dengan dunia luar. Saat ini saya tengah menjajaki untuk membuka kembali bandara milik Pertamina di Sangkima. Beberapa investor dari luar negeri telah setuju untuk membangun bandara. Tinggal kesepakatan akhir saja. Saya juga akan mengundang armada penerbangan yang ada di Indonesia untuk menjadikan Kutai Timur sebagai salah satu rutenya. Kalau perlu, pemerintah berani mensubsidi beberapa kursi kosong untuk menutupi kerugian akibat kekurangan penumpang. Namun, bukan subsidi seenaknya. Bila kursi terisi penuh kita tak harus mensubsidi.
Anda mempunyai obsesi dan cita-cita lain?
Orang boleh menganggap saya bupati yang beruntung. Menjabat di saat cadangan batubara masih melimpah. Kebetulan juga saat ini harga batubara sedang naik, mencapai US$50 per ton. Namun, bukan berarti harus ongkangongkang kaki. Jauh di lubuk hati saya, ada sebuah keinginan, plesetan Sangatta yang dulu berarti sangat menderita berganti menjadi sangat dicinta.***
