Monday, August 8, 2022

H Muhiddin Berlomba dengan sang Surya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Saat mentari naik sepenggalah pria separuh baya itu sudah berpindah di kebun lain di Pasuruan, 40 km dari Malang. Lalu, kala sang surya tepat di atas ubun-ubun ia ada di kaki Gunung Bromo. Total luas lahan cabai mencapai 70 ha dan tersebar di berbagai wilayah menyebabkan Muhiddin mesti berkeliling setiap hari.

Itulah rutinitas H Muhiddin. Ketelatenannya menjaga dan merawat puluhan hektar kebun tak diragukan lagi. Ia seperti berlomba dengan matahari. Bagi Muhiddin menanam cabai memberikan kebahagiaan tersendiri. Tiap hari ia berada di antara bedengan sambil memanen “Hati saya senang bila ada di kebun,” kata Muhiddin.

Aktivitas itu dilakoninya dengan penuh semangat dan pengharapan. Walaupun di setiap lokasi penanaman ada puluhan petani yang membantu, Muhiddin tetap tidak lepas tangan. Seringkali ia menyiram, memupuk dan menyemprotkan pestisida.

Keriting menjadi pilihan

Sebelum mengembangkan cabai pada 1998, Muhid memilih tomat sebagai komoditas utama untuk mengawali usaha. Ia mempersiapkan lahan 2 ha untuk bisa meraup laba dari Lycopersicon esculentum itu.

Namun, keinginan meraih laba bak jauh api dari panggang. Tomat merah merekah yang ditunggu tak seindah kenyataan. Tiga bulan menanti, yang muncul justru serangan penyakit sehingga panen gagal. Ratusan juta rupiah modal usaha hanya berbuah rugi.

Anak ke-3 dari 5 bersaudara itu tak putus asa. Dengan prinsip sekali layar terkembang pantang surut, Muhid menyulap 2—3 ha lahan tomat menjadi bedengan cabai keriting. Mengolah tanah, pengapuran, dan melapisi bedengan dengan mulsa, semua dilakukan demi si keriting.

Muhiddin pun tak sungkan menggelontorkan modal rata-rata Rp20-juta—Rp30-juta untuk setiap hektar. Uang sebesar itu diwujudkan dalam bentuk penaburan NPK 15—15—15 diberikan setiap 15 hari sekali. Penyemprotan pestisida juga rutin dilakukan. Wajar bila ribuan cabai keriting bergelayut siap dipetik.

Ia memilih si keriting karena permintaan dari Jakarta sangat luar biasa. Menurutnya selain permintaan yang tinggi, harga cabai keriting di Jakarta sangat menggiurkan. Pada awal menanam, harga di Malang berkisar Rp2.500—Rp3.000 per kg. Sedangkan di Jakarta cabai dihargai hingga Rp4.000 per kg. Wajar bila ia tidak memasok hasil panennya ke Kota Apel itu. “Di sini (Malang, red) harga terlalu rendah. Permintaan konsumen juga tidak besar,” ujar Muhid.

Dari 2 ha, ia menuai 3—3,5 ton cabai keriting. Ayah 2 anak itu menjual dengan harga Rp8-ribu—Rp10-ribu per kg. Setelah dikurangi biaya produksi Rp20-juta—Rp30-juta per ha ia meraup laba bersih ratarata Rp10-juta per ha.

Perluasan areal

Sukses perdana di cabai mendorong Muhid memperluas areal tanam sampai 30 ha pada akhir 1999. Itu lantaran permintaan pasar yang terus meningkat. Laba yang ditangguk pun kian besar karena harga jual terus membaik, berkisar antara Rp10-ribu—Rp15-ribu per kg.

Ekspansi Muhiddin tak terbendung lagi untuk melayani permintaan pasar. Oleh karena itu pada awal 2004 ia memperluas lahan penanaman hingga 70 ha. Kebun cabai keriting tersebar di Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang.

Produksi dan permintaan terus berkejaran. Nyatanya hasil panen kedua belum mampu memenuhi tingginya permintaan. Bayangkan rata-rata permintaan bisa mencapai 30—50 ton per hari sedangkan produksi dari kebun pribadi rata-rata 10—15 ton. Oleh karena itu, sejak pertengahan 2004 ia juga menampung produksi pekebun lain di sekitar Malang.

Cabai-cabai itulah yang memenuhi 8 lapak (toko, red) di Pasar Sayur Tanah Tinggi, Tangerang dan 6 toko lain di Pasar Cibitung, Bekasi. Setiap hari, 2 mobil mengangkut 8—10 ton cabai segar untuk memasok kebutuhan toko. Wajar bila puluhan juta rupiah mengalir deras mengisi pundi-pundi. Pada 2003 harga cabai mencapai Rp14.000—Rp15.000 per kg. Bak hujan emas, Muhiddin meraup omzet sangat besar mencapai Rp40-juta—Rp50-juta per ha.

Berkualitas tinggi

Kesuksesan Muhiddin itu tak lepas dari kejeliannya memenuhi permintaan konsumen. Menurut kelahiran 37 tahun silam itu konsumen menginginkan harga yang terjangkau dengan kualitas tinggi seperti bebas serangan anthraknosa dan lubang pada kulit buah. Warna merah terang dengan ukuran 12—15 cm sangat digemari.

Untuk mendapatkan produksi tinggi, Muhiddin menggunakan benih cabai keriting unggulan. “Benih unggul akan menghasilkan produktivitas yang tinggi,” kata pria berkulit sawo matang itu. Tak heran bila dari 1 tanaman ia rata-rata memetik 1 kg per musim. Padahal rata-rata produktivitas cabai keriting hanya 8 ons per tanaman.

Cabai keriting sudah menjadi bagian hidup H Muhiddin Walaupun harga kerapkali terjun bebas, ia tetap bertahan. “Saya akan terus menanam cabai keriting,” katanya. Baginya, harga boleh naik turun, tetapi semangat untuk membudidayakan cabai terus terjaga. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img