Trubus.id— Menerapkan good agricultural practices (GAP) menjadi salah satu cara dalam menghadapi perubahan iklim, sehingga mutu dan produksi kakao meningkat.
Beberapa tahun ke belakang harga biji kakao kering melambung hingga Rp90 juta per ton dan
menjadi pembahasan yang menarik bagi pelaku usaha kakao, khususnya pekebun kakao.
Peningkatan harga yang signifikan bahkan tertinggi selama beberapa dekade terakhir itu meningkatkan gairah pekebun kakao untuk meningkatkan hasil kebunnya baik secara kuantitas dan kualitas.
Namun para pekebun seringkali menemui hambatan dalam upaya peningkatan produksi dan mutu kakao di kebun. Salah satu faktor yang menjadi hambatan adalah adanya anomali iklim seperti el nino dan la nina.
Para pekebun mengetahui terjadinya anomali iklim itu karena perubahan iklim. El nino pada 2023 misalnya, berdampak pada musim kemarau berkepanjangan sehingga merusak dan menurunkan produksi kakao. Potensi penurunan bisa hingga 30%.
Peneliti Madya di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Fakhrusy Zakariyya, S.P., M.Sc., menuturkan sejatinya pekebun kakao dapat melakukan langkah antisipatif dan mitigatif untuk mengurangi dampak yang merugikan. Salah satunya dengan menerapkan good agricultural practices (GAP).
Menurut Fakhrusy prinsip–prinsip penerapan GAP antara lain pemilihan bahan tanam unggul. Misal klon MCC 02, Sulawesi 1, Sulawesi 2, dan ICCRI 09. Adapun klon hibrida unggul seperti ICCRI 06 H dan ICCRI 08H.
Pemupukan berimbang secara tepat baik pupuk organik dan anorganik. Adapun pengendalian organisme pengganggu tanaman seperti hama, penyakit, dan gulma mesti secara rasional. Artinya tepat dosis dan tepat guna.
Lebih lanjut ia menuturkan, pemangkasan tepat serta pengelolaan tanaman penaung dan tanaman sela juga mesti diperhatikan. Konservasi tanah melalui drainase dan pembuatan rorak menunjang pengoptimalan pengairan di kebun.
Adapun pemilihan bahan tanam yang tepat dan sesuai lokasi memberikan pengaruh utama terhadap produksi. Serangkaian penerapan GAP itu terbukti bisa meningkatkan produksi kebun kakao di tengah fenomena perubahan iklim. Kemudian panen dan pascapanen tepat bisa menunjang hasil dan mutu panen kakao.
