Thursday, June 11, 2026

Hantavirus dan Ancaman Zoonosis Global, Ini Penjelasan Epidemiolog UNAIR

Rekomendasi

Trubus.id— Kasus gangguan pernapasan berat yang dialami sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius memunculkan dugaan infeksi hantavirus dan menjadi perhatian dunia kesehatan. Peristiwa itu sekaligus menunjukkan bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman di tengah tingginya aktivitas perjalanan lintas negara.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Menurutnya, paparan virus kemungkinan terjadi sebelum perjalanan atau saat seseorang berada di wilayah yang memiliki reservoir hewan pengerat.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” ujar Laura melansir pada laman UNAIR.

Ia menambahkan, mobilitas lintas negara melalui perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.

Penularan Melalui Hewan Pengerat

Laura menjelaskan bahwa hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui inhalasi partikel terkontaminasi tanpa harus kontak langsung dengan hewan pembawa virus.

Kondisi lingkungan dengan populasi tikus tinggi menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi. Namun, sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Meski demikian, beberapa strain tertentu seperti Andes virus diketahui memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia.

Karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap diperlukan untuk memastikan pola penularan yang terjadi.

Selain faktor biologis, perubahan lingkungan juga turut memengaruhi penyebaran penyakit. Perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan membuat interaksi manusia dengan sumber zoonosis semakin meningkat.

“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” jelasnya.

Gejala Awal hingga Risiko Fatal

Pada tahap awal, gejala hantavirus cenderung tidak spesifik seperti demam, kelelahan, nyeri otot, hingga gangguan gastrointestinal. Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok.

Laura menjelaskan bahwa bentuk berat infeksi hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.

“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen, terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujarnya.

Pentingnya Deteksi Dini

Laura menegaskan pentingnya deteksi awal serta penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus.

Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Menurutnya, penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

“Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” pungkasnya.


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This