Sunday, June 7, 2026

Hantavirus Perlu Diwaspadai, BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahannya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan setelah ramai diperbincangkan di media sosial dan berbagai platform digital. Menanggapi meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penyakit tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan pentingnya memahami hantavirus secara benar, terutama terkait sumber penularan, gejala, dan upaya pencegahannya.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar. Beberapa jenis tikus yang dapat menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di kawasan permukiman, pertanian, dan hutan.

Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas ialah Andes virus yang ditemukan pada tikus liar Oligoryzomys longicaudatus. Spesies tikus itu umum ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina, dan Chile. Andes virus diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru-paru berat yang berpotensi memicu gagal napas akut.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” ujar Ristiyanto melansir pada laman BRIN.

Menurut Ristiyanto, penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Penelitian itu dilakukan terutama di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia pembawa virus.

Gejala awal infeksi hantavirus umumnya menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini sering terlambat dilakukan. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Ristiyanto menyebutkan tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20—35 persen. Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit tersebut.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus. Berdasarkan hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia periode 2015—2018, Andes virus juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami informasi mengenai Andes virus secara proporsional. Meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun COVID-19.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” kata Arief.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa temuan kasus pada pasangan intim tidak otomatis menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan. Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.

Area yang diduga tercemar kotoran tikus sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

“Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” pungkas Arief Mulyono.


Artikel Terbaru

Cangkang Udang Jadi Sumber Astaxanthin Bernilai Tinggi

Cangkang udang yang selama ini terbuang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Melalui inovasi berbasis bioteknologi, limbah tersebut...

More Articles Like This