Harga CPO dan Biji Kakao Naik pada Oktober 2026

Rekomendasi

Trubus.id — Harga Referensi (HR) minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE) periode Oktober 2026 mengalami kenaikan. Kenaikan juga terjadi pada HR dan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan HR CPO periode 1—31 Oktober 2026 sebesar US$1.042,15 per ton. Nilai tersebut naik US$34,64 atau 3,44% dibandingkan HR CPO September 2026 sebesar US$1.007,51 per ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan, pemerintah menetapkan BK CPO sebesar US$178 per ton. Sementara itu, Pungutan Ekspor (PE) CPO ditetapkan sebesar 12,5% dari HR CPO atau US$130,269 per ton.

Penetapan HR CPO diperoleh dari rata-rata harga pada periode 20 Agustus—19 September 2026. Harga CPO tercatat US$938,89 per ton di Bursa CPO Indonesia, US$1.145,42 per ton di Bursa CPO Malaysia, dan US$1.526,56 per ton di Port CPO Rotterdam.

Berdasarkan Permendag Nomor 35 Tahun 2025, apabila selisih harga rata-rata dari tiga sumber harga lebih dari US$40, HR CPO dihitung berdasarkan rata-rata dua sumber harga yang menjadi median dan paling dekat dengan median. Perhitungan tersebut menggunakan harga Bursa CPO Malaysia dan Bursa CPO Indonesia sehingga diperoleh HR CPO sebesar US$1.042,15 per ton.

Sementara itu, minyak goreng Refined, Bleached, and Deodorized (RBD) palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat neto maksimal 25 kg dikenakan BK sebesar US$48 per ton.

Harga Biji Kakao Naik

Kenaikan juga terjadi pada komoditas biji kakao. HR biji kakao periode Oktober 2026 ditetapkan sebesar US$6.057,87 per ton, naik US$422,12 atau 7,49% dibandingkan periode sebelumnya.

Kenaikan HR tersebut turut mendorong HPE biji kakao menjadi US$5.686 per ton. Nilai itu naik US$416 atau 7,88% dibandingkan periode September 2026.

Menurut Tommy, penetapan HR dan HPE mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Kekhawatiran terhadap penurunan kuantitas dan kualitas produksi akibat dampak El Nino di kawasan produksi utama biji kakao, Afrika Barat, turut memicu kenaikan HR dan HPE.

Pada Oktober 2026, BK biji kakao ditetapkan sebesar 7,5%. Sementara itu, PE biji kakao juga sebesar 7,5%.

HPE Produk Kehutanan Beragam

Perubahan HPE juga terjadi pada sejumlah produk kehutanan. HPE produk kulit pada Oktober 2026 tidak berubah dibandingkan periode sebelumnya.

HPE keping kayu (chipwood), kayu olahan dengan luas penampang 1.000—4.000 mm² dari jenis hutan tanaman sungkai, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000—10.000 mm² juga tidak mengalami perubahan.

Kenaikan HPE terjadi pada kayu olahan dengan luas penampang 1.000—4.000 mm² dari jenis meranti, rimba campuran, sortimen lainnya jenis jati, serta kayu dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina, akasia, balsa, dan eukaliptus.

Sebaliknya, HPE getah pinus turun menjadi US$1.020 per ton. Nilai tersebut turun US$32 atau 3,04% dibandingkan September 2026.

Penurunan juga terjadi pada HPE kayu veneer dari hutan alam dan hutan tanaman, kayu lapis untuk kotak kemasan, kayu kering atau pecahan, serta sejumlah jenis kayu olahan dengan luas penampang 1.000—4.000 mm².

Ketentuan mengenai HR CPO, HR dan HPE biji kakao, HPE produk kulit, HPE produk kayu, serta HPE getah pinus tercantum dalam Kepmendag Nomor 1921 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Badan Layanan Umum.

Sumber: https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/hr-cpo-dan-hpe-biji-kakao-naik-hpe-getah-pinus-turun-hpe-produk-kulit-tetap-hpe-produk-kayu-bervariasi-pada-oktober-2026

Artikel Terbaru

Apartemen Kepiting, Inovasi Budidaya Kepiting Soka di Lahan Sempit

Trubus.id – Berbekal latar belakang Teknik Elektro, Opi Nopiansah sukses mengelola ribuan boks kepiting soka di laboratorium IPB IPMOS...

More Articles Like This