Monday, August 15, 2022

Harry Setiawan Rp500-juta untuk Aglaonema

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di sanalah setiap senggang Harry membunuh waktu dengan bercengkerama bersama ratusan koleksi aglaonema eksklusifnya.

Ratusan aglaonema beraneka jenis itu tersusun rapi. Mereka diletakkan di atas rak besi 2 tingkat bercat hijau setinggi 30—60 cm. Alas pot setiap tanaman berdiri di atas dasar pot seukuran yang ditaruh terbalik berjarak 50—60 cm. Sebagian koleksi aglaonema lain ditaruh di atas tanah. Sejauh mata memandang jejeran pot aglaonema itu bak tentara berbaris. Letaknya teratur dan tersusun berdasarkan jenis.

“Kalau sudah di kebun bisa sampai jam 2 pagi,” ujar Harry. Tak sekadar melihat, Harry seringkali mengelus-elus daun aglaonema yang bersedih. ”Saya tahu mana aglaonema yang sedih, juga yang terlihat senang,” paparnya.

Koleksi Harry bukan aglaonema sembarangan. Selain cantik, ia pun berharga eksklusif. Sebut saja jenis lipstik 4 daun. Aglaonema bercorak merah di seluruh bibir daun itu diboyong Desember 2004 dari Th ailand seharga Rp10-juta. “Jenis ini termasuk aglaonema kesayangan,” ujar pemilik aneka toko makanan di mal itu. Jenis kesayangan lain, aglaonema hibrid no name yang dibeli dari kolektor aglaonema Mr Piorjt asal negeri Siam. Begitu pula koleksi lokal mirabela, buah karya Greg Hambali di Bogor.

Banting stir

Sebelum terjun menekuni hobi aglaonema, kelahiran Jakarta 27 Maret 1968 itu sudah bersinggungan dengan tanaman hias. Sejak 1999—2000 Harry adalah seorang pedagang bambu rejeki. Tanaman yang diyakini membawa hoki itu dijajakan dari mal ke mal. Belakangan minatnya pada tanaman hias anggota keluarga Araceae seperti phylodendron, anthurium, aglaonema, dan dracaena menerpa saat mengikuti pameran tanaman hias di Jakarta pada medio 2000. “Ternyata tanaman hias daun itu bagus dan harga jualnya cukup mahal,” ujarnya.

Sejak perjumpaan di pameran itu, secara bertahap Harry mulai mengoleksi. Semula hanya phylodendron, anthurium, dan dracaena yang dikumpulkan di kebunnya. Mereka itu dibeli dari beberapa kolektor di Jakarta. “Setelah diperhatikan kok aglaonema lebih menjanjikan untuk dikembangkan,” ujar sulung dari 3 bersaudara itu. Sejak itu pula bisnis bambu rejeki mulai disingkirkan.

Bermodal Rp1-juta Harry memborong beberapa jenis aglaonema seperti dona carmen, aluet, city pond, dan chiang mai. “Jenis-jenis murah itu ternyata bisa laku hingga Rp250.000—Rp300.000 per pot,” ujarnya. Lantaran kian menjanjikan, sayap pun dikepakkan. Memasuki 2001 Harry mulai berani membeli aglaonema berharga tinggi. Jenis mahal perdana yang dibeli adalah 5 pot pride of sumatra seharga Rp5-juta.

Berburu ke Thailand

Kecintaan pada aglaonema kian merasuk saat sering berkunjung ke beberapa kolektor. Diakuinya di tengah kesibukan pekerjaan yang padat, aglaonema mampu memberi perasaan tenang. Tak heran rasa suka yang mendalam itu menemui jalannya saat berlibur bersama keluarga ke Th ailand. Apalagi negeri Gajah Putih itu tersohor sebagai penghasil aglaonema jempolan. Harry pun menyempatkan diri mengunjungi beberapa kolektor aglaonema atas saran beberapa kolektor di tanahair.

“Ternyata koleksi di sana bagus-bagus,” papar suami Anna Widjaya itu. Tak terasa seminggu berada di negeri Siam pada awal 2004 itu sekitar Rp150-juta ludes dipakai memborong kochin, white tiger, lipstik, dan chao praya. Masing-masing tanaman induk itu dibeli minimal Rp10-juta per pot. “Tapi kebanyakan tanaman yang dibawa seedling,” kata Harry.

Lantaran baru pertamakali mengimpor, hampir 30—40% tanaman rusak akibat salah pengemasan di dalam koper. Sebelum dikemas setiap tanaman disemprot dahulu dengan air. Akibatnya saat koper dibuka daun-daun aglaonema sudah kisut. “Ya mau apalagi, sudah kejadian karena tidak bertanya dulu pada yang sering mengimpor,” paparnya.

Toh kejadian itu tak berulang saat kembali mengunjungi Th ailand akhir 2004. Berbelanja dengan nilai nominal seperti pertama, tak ada tanaman yang rusak hingga tiba di rumah. “Jenisnya lebih beragam, tapi kebanyakan hibrid tanpa nama. Kebanyakan memakai feeling saja,” ujar Harry. Beberapa koleksi penangkar top seperti Characai, Ciuw, dan Mr Piorjt dibeli dengan harga tak murah.

Meracik media

Tak hanya asal Bangkok yang dikoleksi, aglaonema lokal pun dibeli. “Saya tidak fanatik dengan Bangkok, lokal pun saya beli asalkan berkualitas tinggi dan terbatas jumlahnya,” tuturnya. Tiara dan widuri misalnya diboyong masing-masing seharga Rp7,5-juta. Begitu pula dengan mirabela seharga Rp10-juta. “Mirabela sangat istimewa. Dari daun pertama hingga akhir warna merahnya tidak luntur. Ia pun terkesan kokoh,” ujarnya.

Tidak melulu mengoleksi, alumnus Sekolah Menengah Umum Th eresia itu, juga memperbanyak. Sayang, selama menangkarkan sering terjadi kematian. “Akarnya busuk, dan daun mengecil atau malah rontok,” papar Harry. Setelah diselidiki biang semua itu berasal dari media tanam.

Pemegang lisensi fast food Potato Mania itu pelan-pelan mengubah semua media koleksinya. Dari eksperimen selama setahun ia menemukan campuran pakis, pasir malang, dan kaliandra (3:2:1) sangat cocok untuk pertumbuhan aglaonema. “Akar tampak gemuk dan putih. Pertumbuhan daun lebih besar dari sebelumnya. Itulah ciri-ciri dari tanaman sehat,” papar Harry. Terbukti semua koleksi Harry kini terlihat rancak, kokoh, dan segar. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img