Wednesday, August 10, 2022

Harta Warisan di Kaki Rinjani

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Desa di ketinggian 1.100 m dpl itu adalah pintu masuk menuju Gunung Rinjani—salah satu obyek pendakian favorit. Di sana mereka tak hanya disuguhi pemandangan elok berupa tebing dan lembah yang permai, tapi juga dompolan jeruk berwarna jingga terang di ujung tajuk tanaman. Jeruk? Ya, desa berjarak 3 jam perjalanan dari Mataram—ibukota NTB—itu memang sentra keprok sembalun.

Memasuki Maret—Mei nyaris setiap sudut desa terpencil itu dihiasi pohon-pohon berbuah lebat di setiap halaman rumah penduduk. Itulah berkah buat para pendaki. Saat letih mendera, daging buah yang manis menyegarkan menguapkan dahaga. Sukacita pun dirasakan para pemilik pohon. Saat itulah mereka menuai laba. Maklum, di pasar kehadiran Citrus reticulata itu begitu mendominasi bila dibandingkan dengan buah lain.

Daging buah yang jingga manis diselimuti kulit kuning mengkilap. Rasanya tak kalah dibanding keprok 55 asal Batu yang juga unggul. Kesohoran jeruk sembalun pun sampai ke telinga Ir Arry Supriyanto, MS. Peneliti jeruk yang kini kepala Loka Penelitian Jeruk dan Tanaman Subtropik Lainnya itu yakin, “Itu (jeruk sembalun, red) pasti jeruk bagus.” Buah kerabat kemuning itu memang begitu digemari. Lantaran anggota famili Rutaceae itu banyak dikembangkan di Sembalun, nama serupa pun melekat.

Gara-gara bawang putih

Namun, itu cerita 20 tahun silam. Sekarang nasib jeruk sembalun sungguh merana. “Saat ini hanya ada 3 pohon di sana,” ujar Ir Souri dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. Musababnya, meski sangat digemari, kerabat dekat jeruk mandarin itu harus mengalah ketika bawang putih Allium cepa hadir.

Pada periode 1975—1977, langsuna—sebutan bawang putih dalam bahasa Sasak—mulai masuk Sembalun. Lantaran harga jual anggota famili Liliaceae itu lebih tinggi, banyak pemilik pohon yang beralih menjadi petani bawang putih. Ribuan pohon ditebang dan digantikan hamparan kerabat kucai itu. Memasuki era 1997 areal penanaman bawang putih mencapai 600 ha. Sembalun tak lagi kesohor sebagai sentra jeruk keprok, tapi bawang putih unggul.

Biang keladi lain runtuhnya kejayaan jeruk sembalun ialah serangan Citrus Vein

Phloem Degeneration (CVPD). Virus itu menyebabkan daun kering dan rontok sehingga produksi buah melorot. “Pada 20 tahun silam hampir semua sentra penanaman jeruk memang terserang CVPD,” kata Arry. Nasib baik masih berpihak pada penduduk Sembalun, kala 3 pohon masih terselamatkan hingga sekarang. Itu milik Minardi dan seorang tetangga sebelah rumahnya.

Tertarik untuk melestarikan jeruk sembalun, BPTP NTB berencana menjadikan 3 batang yang tersisa sebagai pohon induk. “Pekebun sudah setuju untuk kembali menanam jeruk itu,” kata Sofyan Souri. Maklum bawang putih pun tak lagi sejaya dulu.

Keprok selayar

Cerita duka serupa juga dialami keprok selayar asal Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Keistimewaannya, kulit tebal berwarna jingga terang dan beraroma tajam. Serangan CVPD meluluhlantakkan pertanaman jeruk di pulau kecil itu. Menurut Islamuddin, staf Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, bahkan sekarang nyaris tak ada penanaman di sana. Padahal dahulu nama selayar begitu melegenda. Beruntung kini penanaman mulai digalakkan ke Kabupaten yang terletak di daratan. Pengembangan dimulai pada 1998—1999 dengan luasan areal kurang dari 30 ha.

“Kini di Bantaeng sendiri sudah ada sekitar 700 ha,” kata Islamuddin saat ditemui di acara Indonesia Tropical Fruit Festival pada penghujung September di WTC Manggadua, Jakarta. Tak mau ketinggalan, penanaman pun kembali dilakukan di daerah asal, Selayar.

Di daerah baru, keprok yang dipetik lebih banyak mengandung air, tapi aromanya jadi kurang tajam. Ukuran buah besar—hampir sebesar telapak tangan orang dewasa bila dibuka lebar-lebar. Warna hijau bercampur jingga. Bukan tak mungkin, tak lama lagi keprok selayar asal Bantaeng dan Bulukumba bisa dinikmati kembali. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Evy Syariefa)

Selayar, Jeruk Manis dari Pulau Terpencil

Mengarungi selat dengan kapal feri selama 3 jam dari Pantai Bira Sulawesi Selatan, tampaklah Pulau Selayar. Saat kapal mendarat, terlihat hamparan batu karang seperti menyambut kedatangan. Memasuki ibukota, sesosok patung jeruk berwarna hijau dan kuning berdiri tegak. Itu perlambang anggota famili Rutaceae itu komoditas primadona dan sumber pendapatan penduduk setempat.

Jeruk selayar banyak ditanam di Kecamatam Bontomate’ne. Di ketinggian 50—200 m dpl dengan rata-rata curah hujan 1.255 mm/tahun, 100—200 pohon selayar ditanam setiap kepala keluarga. Sentra lain ialah Kecamatan Bonto Haru dan Bonto Sikuyu. Sampai 1996 tercatat total tanaman di sana mencapai 30.090 pohon.

Konon Citrus reticulata itu dibawa oleh pedagang dari negeri Tirai Bambu sekitar 1920-an. Karena itulah masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan nama jeruk cina atau munte cina. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan mencacat jumlah tanaman mencapai 265.757 pohon pada 2001 di seluruh sentra.

Segar dan manis

”Musim kemarau Juli hingga Oktober merupakan waktu yang pas untuk penanaman,” ujar H. Muh Nur, salah seorang pekebun. Desember—Januari bunga keluar dan buah dapat dipanen pada Juli—Agustus. Tanaman belajar berbuah pada umur 6—8 tahun. Panen pertama baru 40—50% dari total populasi dengan produksi 20 kg/pohon. Bobotnya 200—300 g/ buah untuk yang besar, sedang 130—190 g/buah, dan ukuran kecil 80—120 g/buah.

Sosoknya berbentuk bulat agak lonjong dengan permukaan kulit agak kasar. Ketika buah masak terpancar warna hijau kekuningan. Kulit mudah dibuka, septa mudah terpisah. Saat digigit, daging buah yang jingga, terasa lunak dan aroma khas jeruk yang kuat pun tersiar. Kadar airnya sekitar 89,16%, sementara kadar gula 9,20% dengan keasaman 8,10/100 g.

Ketika musim panen tiba, selayar mudah didapatkan baik di pasar lokal sampai ke pasar swalayan di kota Makassar. Harga jualnya relatif mahal. Di daerah asalnya dihargai Rp300— Rp600/buah tergantung ukuran. Jika dijual ke Makassar harga mencapai Rp5000—Rp7.500/kg. Itu 3 kali lipat dibanding siem.

Bulan madu itu seperti berakhir pada 1997. Saat itu jumlah pohon berkurang sebanyak 47,2% atau 15.826 pohon. Itu akibat salah pemeliharaan, serangan penyakit busa, penyakit blendok (diplodia), dan CVPD. Yang disebut terakhir ganas. Serangan serupa meluluhlantakkan keprok tejakula di Bali.

Upaya pengendalian dilakukan dengan cara mengerat batang yang luka, lalu diolesi cat, tanah, maupun air sabun. Namun itu tak berhasil. BTPT Sulawesi Selatan dan Dinas Pertanian pun mencoba mengatasi dengan mengupayakan penyediaan bibit jeruk bebas penyakit. Mulai 1998 penanaman baru kembali digalakkan. (Armiati dan Hatta Muhammad, staf Peneliti BPTP Sulawesi Selatan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img