Wednesday, August 17, 2022

Hasrat Volva di Kumbung Hangat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Menghangatkan kumbung saat musim hujan, meningkatkan produksi jamur merang.

Hujan bagai tercurah dari langit yang muram hampir sepanjang Desember 2011. Suryadi Casna mengecek termometer di kumbung atau rumah tanam jamur. Garis merah bertengger di angka 23. Bagi pekebun di Cirebon, Provinsi Jawa Barat, suhu 23°C itu terasa nyaman memang. Namun, bagi jamur merang Volvariella volvacea angka itu justru petaka. Sebab, jamur gagal tumbuh optimal sehingga  Suryadi hanya menuai 30 kg dari sebuah kumbung berukuran 5 m x 7 m.

Pekebun yang mengelola total 2 kumbung itu, lazimnya menuai hingga 300 kg. Namun, sepanjang Desember 2011-Februari 2012, suhu anjlok menyebabkan produksi terjun bebas. Makmunir Mulyana, pekebun di Desa Sukamulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengalami hal hampir serupa. Begitu ia mengganti dinding kumbung dari bilik dengan styrofoam, suhu di dalamnya berangsur-angsur naik hingga 40°C.

Suhu ideal

Pada suhu 40°C banyak bibit jamur yang mati. Dampaknya Mulyana hanya menuai 30 kg yang biasanya 250-300 kg dari sebuah kumbung berukuran 4 m x 6 m. Suhu ekstrem, terbukti menghambat pertumbuhan jamur merang. Muara dari ekstremnya suhu adalah produksi anjlok. Menurut praktikus jamur di Cirebon, Mugiono Warsa, SP,  suhu memang faktor penting dalam budidaya jamur merang.

Peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Iwan Saskiawan,  mengatakan bahwa  jamur merang menghendaki suhu dan kelembapan tinggi. Suhu kumbung pada masa pembentukan tubuh buah idealnya 30-34°C dan kelembapan 95% agar kualitas jamur tetap prima. Jika suhu terlalu rendah, jamur merang menghitam karena proses enzimatisasi.  Sebaliknya, jika suhu terlampau tinggi, jamur cepat membentuk payung, bahkan bisa merusak primordia.

“Oleh karena itu, menjaga kondisi lingkungan kumbung tetap di suhu dan kelembapan ideal adalah hal yang sangat penting dalam budidaya jamur merang,” ujarnya. Artinya salah satu kunci keberhasilan budidaya jamur merang adalah menjaga suhu dan kelembapan. Pekebun jamur di Karawang, Jawa Barat, Misa Suwarsa, yang menerapkan strategi itu akhirnya menuai produksi tinggi. Sebelum 2004, suhu kumbung 4 m x 6 m berkisar 30-32° C yang memberi hasil 300-350 kg. Setelah menjaga suhu pada angka 34°C dan kelembapan 95%, kini ia menuai 500 kg per kumbung dalam satu periode budidaya.

“Jamur merang seperti bisa mengekspresikan perasaannya. Dia kan maunya suhu panas. Jika turun sedikit, warnanya berubah menjadi keabu-abuan, bahkan menghitam. Karena selera pasar di Indonesia lebih suka jamur merang yang berwarna putih, maka penjagaan suhu sangat perlu dilakukan,” kata ayah dua anak itu.

Saat suhu turun dari ideal pada saat puncak musim hujan, Misa melakukan penguapan. “Saat puncak musim hujan, lama penguapan sepanjang hari karena suhu lingkungan menurun drastis,” kata Misa Suwarsa. Biaya sekali penguapan sebuah kumbung selama 12 jam mencapai Rp 15.000; frekuensi penguapan pada musim hujan, sampai 20 kali per bulan. Di luar musim hujan, penguapan hanya dilakukan jika suhu turun. Saat pembentukan tubuh buah, “Jika suhu kumbung hanya 32°C, saya akan menguapinya sampai naik 2°C. Lamanya sekitar 12 jam atau semalaman,” kata Misa.

Pipa bambu

Untuk menguapi kumbung 4 m x 6 m, Misa Suwarsa menggunakan sebuah drum bekas minyak tanah berkapasitas 120 liter. Mula-mula ia mengisi drum dengan sekitar 80 liter air bersih. Misa tak mengisi penuh karena untuk memperpanjang masa penggunaan drum. “Pembakarannya cukup dengan kompor gas berapi kecil,” kata pekebun berusia 53 tahun itu. Uap panas hasil pembakaran itu kemudian mengalir ke dalam kumbung melalui pipa bambu berdiameter antara 5-8 cm. Misa memang menghubungkan bagian depan drum dengan pipa bambu.

Di permukaan pipa bambu, Misa membuat lubang berdiameter 8 cm. Dari lubang-lubang itulah uap panas menyembur di dalam kumbung. Panjang pipa tergantung panjang kumbung. Ia mempertahankan proses penguapan sampai suhu naik 2°C selama 12 jam. Dengan cara itu ia menciptakan suhu ideal untuk pertumbuhan jamur merang. Di luar musim hujan, Misa menguapi kumbung ketika suhu turun hingga 32°C.

Secara tradisional, para pekebun menjaga suhu dan kelembapan dengan menggunakan lampu, membuka-menutup jendela, atau memodifikasi tinggi kumbung. “Saat suhu kumbung terlalu panas, jendela dibuka. Sebaliknya, jika suhunya dirasa sesuai, jendela ditutup kembali,” kata Mugiono Warsa. Cara lain menyalakan lampu pada malam hari ketika suhu turun. Menurut Iwan Saskiawan penggunaan lampu untuk menaikkan suhu kumbung kurang efektif. “Penggunaan lampu pada malam hari justru mengundang serangga masuk ke kumbung,” kata Iwan.

Mugiono Warsa mengatakan bahwa penguapan bisa juga dilakukan, tapi perlu dihitung biayanya. Apakah laba yang didapat bisa menutupi biaya operasionalnya. Dari pengalaman, sekali panen dengan metode biasa, tanpa penguapan, hasil panen antara 200 kg sampai 300 kg. Jika dipotong biaya operasional sebesar satu juta rupiah, laba bersih yang diraup bisa mencapai lima juta rupiah.

Bagaimana jika suhu melonjak ekstrem? “Pengalaman saya, jika suhu sampai 36-37°C, pintu kumbung saya buka selama sekitar 2-3 jam untuk mempercepat penurunan suhu,” ujar Makmunir Mulyana. Setelah suhu kumbung turun menjadi 33-35°C, pintu kumbung ditutup kembali. (Nabila Chairunnisa)

 

Keterangan Foto :

  1. Suhu ideal untuk pertumbuhan jamur merang 30-34°C
  2. Misa Suwarsa panen jamur merang meningkat setelah mengontrol suhu dan kelembapan
  3. Kompor kecil yang digunakan untuk penguapan
  4. Kumbung terbuat dari styrofoam menaikkan suhu kumbung
  5. Pipa bambu berdiameter 8 cm
  6. Mugiono Warsa, S.P. pekebun mesti rutin memeriksa kondisi kumbung
  7. Dinding kumbung berbahan bilik bambu, kadar oksigen lebih banyak. Namun, suhu dan kelembapan sulit terkontrol

 

Naikkan Suhu


Pekebun jamur merang di Karawang, Jawa Barat, Misa Suwarsa, melakukan penguapan untuk menjaga suhu kumbung di kisaran 34°C dan kelembapan 95%. Saat penguapan, ia menggunakan drum berkapasitas 120 liter dan gas elpiji 3 kg. Sebuah bambu mengalirkan uap panas hasil perebusan air. Pipa bambu diletakkan di tengah kumbung, sedikit di bawah rak pertama agar uap tersebar merata. Penguapan dilakukan selama 12 jam, bahkan bisa sepanjang hari saat musim hujan.***

Previous articleBawang Bebas Bercak
Next articleMelesat Tiga Jam
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img