Wednesday, February 8, 2023

Hendriko Stefano Tanjung, Berlabuh pada Anggrek Bulan

Rekomendasi

Trubus.id — Hendriko mantap berbisnis anggrek karena pasar terbentang. Belasanribu pot anggrek bulan terhampar di dalam rumah tanam (greenhouse) seluas 6.000 m². Tanaman tertata rapi berkelompok berdasarkan warna di atas meja besi setinggi 50 cm.

Mayoritas tanaman memamerkan kelopak bunga yang bermekaran. Ada yang berwarna kuning, ungu, jingga, putih, dan merah muda. Sebagian tanaman masih malu- malu menunjukkan keindahannya.

Di dalam rumah tanam yang terletak di Subang, Jawa Barat, itu, Hendriko Stefano Tanjung mengembangkan Phalaenopsis sp. Hendriko tertarik menekuni bisnis anggrek bulan lantaran mempunyai peluang pasar cukup tinggi.

Di bawah bendera PT Fiore Orchidea, Hendriko meyakini prospek bisnis anggrek bulan sangat cerah. Optimisme itu bersumber pada kecintaan masyarakat Indonesia terhadap anggrek bulan yang berlangsung lama.

Premium

PT Fiore Orchidea membidik pasar menengah ke atas. Oleh sebab itu Hendriko hanya memproduksi anggrek bulan premium. “Yang menjadi ciri khas anggrek bulan premium adalah dalam satu tangkai terdapat minimal 10—11 kuntum bunga,” ujar pemuda berusia 33 tahun itu.

Ciri lainnya untaian bunga merekah dan berjejer rapi dalam tangkai bunga yang kuat. Pun bunga utuh, bersih, dan mekar sempurna. Selain itu, tanaman sehat dengan daun hijau segar dan mulus.

Hendriko betul-betul menjaga kualitas tanaman. Ia mengatur iklim mikro—suhu, kelembapan, dan cahaya—yang dibutuhkan anggrek bulan. Pun pemeliharaan tanaman mulai dari menyiram, mengatur dosis pupuk, dan mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

Hasilnya anggrek bulan tumbuh sehat dan banjir bunga. Hendriko menata sedemikian rupa setiap tanaman supaya tidak berhimpitan sehingga menekan risiko kerusakan pada daun dan bunga.

Anggrek bulan beragam warna dan corak hasil pemeliharaan PT Fiore Orchidea. (Trubus/Andari Titisari)

Ia mendatangkan bibit anggrek bulan dari Taiwan. Selanjutnya Hendriko merawat tanaman dalam 2 rumah tanam di lokasi berbeda. Rumah tanam pertama di Kalijati, Subang, Jawa Barat, seluas 1,5 hektare yang digunakan untuk adaptasi dan pembesaran tanaman.

Hendriko merawat anggrek bulan di sana selama 6—7 bulan sebelum dimasukkan ke rumah tanam kedua khusus untuk pembungaan yang berlokasi di Ciater, Subang, Jawa Barat. Tanaman siap panen 3—4 bulan kemudian.

Kebersihan rumah tanam berlantai semen itu selalu terjaga. Ia menempatkan tanaman dalam pot plastik dan berjejer di atas meja besi yang bisa digeser ke kiri dan kanan. Pengaturan bunga dilakukan dengan bantuan kawat halus.

Pekerja menyiram tanaman setiap hari untuk menjaga asupan hara. “Air penyiraman dicampur dengan pupuk sehingga kebutuhan nutrisi tanaman terjamin,” kata pebisnis anggrek sejak 2019 itu.

PT Fiore Orchidea memproduksi 12.000—15.000 pot anggrek bulan setiap bulan. Hendriko memasok anggrek bulan pada distributor di berbagai daerah di Indonesia. PT Fiore Orchidea memiliki 15 varian anggrek bulan.

Pada 2023, Hendriko berencana meningkatkan varian menjadi 25—30 corak pada 2023. Hendriko memberdayakan 25 karyawan untuk merawat belasan ribu anggrek bulan premium itu. Ia memastikan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk terjaga.

Bertumbuh

Bisnis anggrek Hendriko semakin bertumbuh setelah membuka gerai cabang di berbagai daerah. Salah satunya di Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Lokasi itu sangat strategis lantaran tak pernah sepi aktivitas penduduk, pun sejumlah hunian dan fasilitas untuk kaum menengah ke atas.

Gerai lain ada di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan. Hendriko juga mengikuti beragam pameran untuk mempertahankan pasar sekaligus mencari pasar baru.

Hendriko menuturkan konsumen selalu menunggu anggrek bulan dengan varian baru yang menawan dan indah. Keikutsertaan PT Fiore Orchidea dalam pameran memungkinkan konsumen bisa melihat, membeli, dan langsung membawa pulang anggrek premium.

Bukan perjalanan mudah bagi Hendriko menekuni bisnis anggrek bulan. Pemuda berdarah Minang dan Sunda itu awam di dunia pertanian. Sebelumnya, ia mencicipi bisnis kuliner dan ikan hias.

Hati Hendriko berlabuh pada anggrek bulan usai seorang kawan memperkenalkan sang puspa pesona pada 2018. “Tak ada alasan khusus, hanya merasa klik saja,” ujar pria kelahiran September 1989 itu. Ia lantas membangun rumah tanam sebagai bukti keseriusannya.

“Berbisnis jangan setengah-setengah dan harus konsisten,” ujar Hendriko. Ia tak jemu untuk terus belajar mendalami budidaya anggrek bulan demi memperoleh produk premium. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img