Trubus.id-Secara medis seseorang dinyatakan sebagai penyintas tuberkulosis apabila hasil tes mantoux menunjukkan positif. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan rontgen paru-paru untuk tindak lanjut yang lebih jelas. Menurut dokter sekaligus herbalis di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dr. Sidi Aritjahja, penyakit tuberkulosis terjadi karena infeksi atau penularan bakteri saat daya tahan tubuh lemah.
Gejala tuberkulosis biasanya berupa batuk berkepanjangan dan pembengkakan kelenjar limfa di leher. Penyakit akibat mikrob Mycobacterium tuberculosis itu tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menggerogoti tulang dan persendian. Menurut dr. Sidi, cara terbaik menanggulangi tuberkulosis adalah melalui pencegahan.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati,” kata Sidi. Salah satu langkahnya adalah menjaga asupan bergizi untuk memperkuat daya tahan tubuh. Mikrob penyebab tuberkulosis mudah menyerang tubuh dengan imunitas lemah. Karena itu, penguatan imunitas menjadi faktor penting untuk menekan risiko penularan.
Asupan makanan bergizi juga mempercepat penyembuhan bagi penyintas yang sedang menjalani terapi. Menurut herbalis di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Yayuk Ambarwulan, beberapa bahan herbal memiliki khasiat meningkatkan imunitas. Ia menggunakan daun kenikir untuk membantu pasien meningkatkan daya tahan tubuh.
Daun kenikir juga bermanfaat meningkatkan kadar hemoglobin, menstabilkan gula darah, dan sebagai antiradang. Yayuk menambahkan, daun sendok memiliki khasiat bagus bagi penyintas tuberkulosis karena mampu meredakan batuk, radang tenggorokan, dan masalah paru. Dalam ramuan untuk pasien tuberkulosis, Yayuk menambahkan sambilata, temulawak, dan kunyit untuk membantu memberantas bakteri.
“Namun, saya tetap mewajibkan pasien minum obat dokter dengan teratur,” ujarnya. Pengobatan tuberkulosis tergolong sulit dan perlu disiplin tinggi. Bila terlambat minum obat beberapa menit saja, bakteri dapat berkembang cepat di paru-paru. Karena itu, Yayuk menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan menjaga kebersihan diri.
Gaya hidup sehat dengan imunitas baik mampu menekan risiko penularan tuberkulosis. Penelitian yang dilakukan oleh Tiwik Eriskawati, Byba Melda Suhita, dan Yenny Puspitasari dari Institut of Health STRADA Indonesia, Kediri, bersama Ardyanto Darmanto dari Politeknik Angkatan Darat, Batu, juga menyoroti pentingnya edukasi. Mereka mengadakan sosialisasi pengenalan gejala dan pencegahan tuberkulosis.
Penelitian itu melibatkan 105 peserta, terdiri atas istri prajurit dan warga sekitar Kesatrian Politeknik Angkatan Darat di Kediri. Dari hasil kegiatan, 80% peserta memahami gejala tuberkulosis seperti batuk lama, demam, penurunan berat badan, dan rasa lelah berkepanjangan. Peneliti juga memberi pengetahuan mengenai cara penularan melalui udara saat batuk atau bersin.
Pemahaman ini diharapkan menurunkan risiko penyebaran penyakit. Setidaknya masyarakat menjadi lebih sadar untuk menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Namun, kesadaran perilaku pencegahan masih rendah, baru mencapai 65% dari total peserta.
Sebagian besar masyarakat sudah tahu gejala dan penularan tuberkulosis, tetapi belum disiplin dalam pencegahan. Tiwik dan tim menekankan pentingnya menjaga kebersihan tubuh, ventilasi rumah yang baik, serta menghindari kontak langsung dengan penyintas.
Program skrining tuberkulosis dan vaksin BCG juga sangat dianjurkan. Upaya pencegahan melalui pendekatan komunitas diharapkan membawa dampak besar. Bila kesadaran masyarakat meningkat, maka eliminasi tuberkulosis secara global bukan hal mustahil.
