Monday, November 28, 2022

Hidroponik di Bawah Langit

Rekomendasi

Sebanyak 1.440 selada segar berbaris rapi di 72 talang, masing-masing sepanjang 4 m. Abdul Hadi membudidayakan sayuran daun eksklusif itu dengan teknologi hidroponik nutrient film technique (NFT) tanpa naungan.

Hamparan selada yang tumbuh subur itu memang beratap langit alias tanpa rumah tanam. Namun, Abdul Hadi tetap sukses menuai sayuran anggota famili Brasicaceae itu. Kini setiap pekan pekebun 74 tahun itu rutin memanen 15 kg beragam sayuran yang semuanya terserap pasar. Harga jual selada Rp8.500 per 250 gram atau Rp34.000 per kg. Halaman rumah seluas 300 m2 itu kini menjadi sumber pendapatan pekebun di Pondoklabu, Jakarta Selatan.

Dua tahun terakhir pekebun hidroponik terbuka alias tanpa greenhouse bermunculan. Selain Abdul Hadi, masih ada beberapa pekebun serupa seperti Parung Farm di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, serta Kunto Herwibowo dan Gatot, keduanya di Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Mereka menanam sayuran daun seperti selada dan caisim dengan teknologi mutakhir di lahan 300-700 m2.

Hemat 38%

Mengapa tanpa greenhouse? Mereka berhasrat menerapkan teknologi hidroponik tanpa rumah tanam karena hemat. “Hidroponik tanpa naungan dapat menghemat biaya investasi sekitar 38%. Jadi biaya yang seharusnya untuk membangun greenhouse dapat dialihkan untuk membangun instalasi NFT,” kata Kunto Herwibowo yang juga berkebun hidroponik NFT tanpa naungan di lahan 500 m2 sejak 2010.

Ahli hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, mengatakan bahwa, “Hidroponik NFT di lahan terbuka menghemat biaya investasi.”  Biaya investasi rumah plastik dengan konstruksi bambu saat ini mencapai Rp80.000 per m2 atau Rp800-juta per hektar. Adapun biaya instalasi NFT berkaki coran semen Rp130.000 per m2 atau Rp1,3-miliar per hektar. Artinya, jika tanpa rumah plastik, pekebun menghemat biaya investasi hingga 38%.

Hadi yang berkebun hidroponik di lahan 300 m2, menghemat Rp24-juta untuk membangun rumah plastik. Selain hemat, keruan saja berkebun hidroponik beratap langit itu mampu menghasilkan sayuran eksklusif yang harganya lebih tinggi sekaligus menguntungkan. Abdul Hadi, misalnya, mampu menghasilkan sayuran yang dipersyaratkan pasar, yakni mulus tanpa gerekan serangga, berwarna cerah tanpa bercak bekas serangan cendawan, dan segar.

“Pemberian nutrisi yang pas membuat tanaman sehat sehingga dapat bertahan dari serangan hama dan penyakit,” kata Yos. (Baca: Ramu Hara Hidroponik Terbuka, halaman 72-73). Namun, bukan berarti berkebun hidroponik tanpa naungan tanpa hambatan. Parung Farm saat awal membudidayakan selada hidroponik NFT tanpa naungan, ternyata layu sebelum berkembang.  Ratusan bibit berumur 2 pekan itu mati dalam waktu sepekan.

Kejadian itu berulang hingga 2 kali. “Selada layu dan ketika diangkat batang dan akar lembek,” kata Sarmin, penanggung jawab produksi di Parung Farm yang kini sudah menemukan kunci suksesnya. Menurut Kunto kematian selada itu akibat air yang kurang steril karena mengandung patogen penyebab penyakit tanaman. Oleh karena itu sterilisasi air sangat penting dalam budidaya hidroponik NFT tanpa naungan.

Beragam hambatan lain siap menghadang para pekebun hidroponik luar ruangan. Harap mafhum, kelaziman pekebun sayuran hidroponik memang menanam beragam komoditas di dalam greenhouse. PT Saung Mirwan di Gadog, Kabupaten Bogor, PT Momenta Agrikultura di Lembang, Kabupaten Bandung,  keduanya di Provinsi Jawa Barat, menanam di greenhouse agar mudah mengontrol organisme pengganggu tanaman dan intensitas matahari.

Itu berarti pekebun sayuran hidroponik tanpa naungan lebih sulit mengontrol hama dan penyakit tanaman. Sebab, sayuran tumbuh di ruang terbuka. Selain itu intensitas sinar matahari berlebih juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Akibat intensitas matahari tinggi, maka kandungan oksigen terlarut rendah. “Kurangnya kandungan oksigen terlarut membuat akar tanaman busuk sehingga layu,” kata Kunto. Namun, para pekebun hidroponik beratap langit mampu mengatasi beragam kendala itu (baca Siasat Saat Tanpa Rumah halaman 74-75).

Ludes terjual

Jika mampu mengatasi beragam kendala, pekebun berpeluang besar meraup laba seperti Kunto Herwibowo. Kunto mengatakan bahwa pasar sayuran hidroponik masih terbuka lebar. Buktinya, sayuran seladanya selalu ludes terjual. “Sebanyak apa pun hasil panen saya, selalu terserap,” kata pekebun selada secara hidroponik di lahan 500 m2 itu. Kunto memanen 20-25 kg per hari, tidak termasuk Sabtu dan Ahad.

Saat ini ia menjual selada keriting hijau dan merah ke 2-3 restoran di Jakarta Selatan dengan harga Rp34.000 per kg. Omzet Kunto mencapai Rp18-juta per bulan. Biaya produksi selada hidroponik Rp20.000 per kg. “Selada yang saya hasilkan bertekstur lebih renyah dan tahan simpan dalam lemari es hingga satu pekan,” ujarnya. Selain dari lahan sendiri, Kunto juga menjalin kemitraan dengan beberapa pekebun untuk memenuhi tingginya permintaan. Ia mengambil dan memasarkan semua produksi para mitra sepanjang memenuhi kriteria.

Pekebun lain, Abdul Hadi, rutin panen selada 2 meja setiap pekan. Satu meja terdiri atas 6 talang, masing-masing berisi 20 tanaman. Artinya, Hadi memanen 120 selada per pekan. Jika rata-rata bobot selada 125 g, maka Hadi memanen 15 kg per pekan. Ayah 5 anak itu lantas mengemas selada dalam plastik berbobot 250 g dan 500 g sehingga siap jual ke pasar swalayan dan restoran-restoran di Jakarta Selatan. Hingga kini Hadi belum mampu memenuhi tingginya permintaan.

Pantas jika Allen Hartono, pekebun sayuran hidroponik, terus meningkatkan produksi. Ketika memulai menanam pada 2002, pekebun di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu hanya memiliki 2 greenhouse berukuran masing-masing 10 m x 4 m dan 12 m x 4 m. Dari lahan itu ia menuai 43 kg beragam sayuran seperti selada, caisim, dan kangkung. Namun, 10 tahun kemudian, jumlah menjadi 46 buah greenhouse yang memberikan produksi hingga 1,8 ton per pekan. Semua produksi itu terserap pasar.

PT Saung Mirwan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga membudidayakan beragam sayuran hidroponik substrat seperti paprika, tomat, dan mentimun. “Dari ketiga jenis sayuran itu, permintaan paprika hijau yang paling banyak. Permintaannya meningkat 5-10% tiap tahun,” kata Tatang Hadinata, pemilik perusahaan itu. Saat ini Saung Mirwan memproduksi 100-150 kg paprika hijau per pekan. Harga jual paprika Rp16.000, sedangkan biaya produksi Rp.10.000 per kg.

Manajer toko Hypermart di Metropolis Tangerang, Provinsi Banten, Zoilus Sitepu, mengungkapkan secara total penjualan sayuran hidroponik di gerainya meningkat. “Pada 2002 sayuran hidroponik seperti bayam, caisim, dan selada terjual 30 pak-berbobot 300 g per pak-dalam waktu 2-3 hari,” katanya. Kini dalam waktu yang sama, total penjualan sayuran daun itu sebesar 1.000 pak. Penjualan itu berasal dari 100 gerai di Jakarta dan sekitarnya.

Itu bukti pasar sayuran hidroponik yang terus berkembang. Pantas para pekebun juga terus memperluas jaringan atau lahan. Bagi mereka menanam sayuran eksklusif dengan teknologi mutakhir, tak selamanya mesti di dalam greenhouse yang mahal. Di bawah langit pun, bukan persoalan. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Desi Sayyidati, Khais Prayoga, Pranawita Karina, & Riefza Vebriansyah)

Foto :

1.          Hidroponik NFT tanpa naungan dapat menghemat biaya investasi hingga 38%

2.          Abdul Hadi, mengebunkan sayuran hidroponik NFT tanpa naungan sejak setahun silam

3.          Selada dapat dipanen pada umur 45-50 hari

4.          Sayuran yang dipersyaratkan pasar, yakni mulus, berwarna cerah, dan segar

5.          Pasar utama sayuran hidroponik adalah pasar swalayan

Previous articleRamu Hara Hidroponik Terbuka
Next articleSENSASI CABAI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img