Tuesday, November 29, 2022

Hidup Nyaman di Apartemen

Rekomendasi

Di antara bak-bak bertingkat, si empunya sambil menghirup sebatang rokok tersenyum puas. Dari tangannya dihasilkan 500 kg yabby—nama lain lobster—yang siap dikirim. Senyum itu takkan ada, seandainya ide membuat kolam bertingkat tidak terlintas.

Membuat peternakan lobster dengan sistem bak bertingkat, menjadi pilihan tepat bagi kelahiran Jakarta, 15 Februari 1971. Andaikan ia tidak membuat farmnya seperti itu, takkan banyak lobster yang ia tuai. “Dari luas lahan 1600 m2, paling banter cuma 50 kg yang didapat. Bandingkan dengan membuat bak bertingkat, hasilnya bisa berlipat-lipat dari luas lahan yang sama,” ujar pria berusia 34 tahun itu.

Bagi Adi, hal itu memberi keuntungan yang luar biasa. Tengok saja pendapatan yang dikeruk dari farm-nya setiap panen—panen dilakukan setiap bulan. Dengan harga Rp90-ribu/kg, alumnus Jurusan Managemen Komputer Bina Nusantara itu meraup keuntungan Rp45 juta per bulan. Itu belum termasuk indukan yang ia jual Rp350-ribu—Rp750-ribu.

Di tempat Adi, kolam pembesaran ada yang dibuat 4 susun dan ada pula yang cuma 3 tingkat dengan model berundak. Tingkat dasar berukuran paling besar yaitu 4 cm x 4 cm. Kolam itu dipakai untuk memelihara lobster berukuran konsumsi atau di atas 10 cm. Yabby berukuran 10 cm menghuni kolam 3 cm x 4 cm di tingkat 2. Selanjutnya, kolam berukuran 2 cm x 4 cm di tingkat 3 diisi Cherax sp yang baru mencapai 7,5 cm. Bayi lobster yang baru berukuran 5 cm dipelihara di bak paling atas berukuran 1 cm x 4 cm.

Bak lebih baik

Sebenarnya ia telah lama menerapkan sistem edu botol yang banyak diterapkan para pembesar lobster. Sistem itu menyimpan beberapa kelemahan. Pemberian pakan misalnya membutuhkan waktu lama. “Lagi pula sistem itu kurang memungkinkan diaplikasikan untuk membesarkan lobster yang perkembangbiakannya sangat cepat,” kata Adi.

Sebagai gambaran, seekor lobster betina mampu menghasilkan anak minimal 200 ekor. Itu bisa terjadi 4—6 minggu sekali. Jika 100 indukan yabby beranak, berarti dihasilkan benur 20 ribu ekor. Itu artinya, 20 ribu buah botol harus disediakan. “Menurut saya itu sangat merepotkan. Itu sebabnya saya lebih memilih menggunakan bak untuk pembesaran,” ujarnya.

Pria yang sudah beternak lobster sejak 10 tahun silam itu menyadari, membesarkan lobster di bak sangat berisiko. Itu karena tingkat kanibalisme sangat tinggi. Ia pun memutar otak untuk menekan kematian. Memelihara lobster berukuran seragam dalam satu kolam, salah satu strategi Adi untuk menekannya sekaligus menghasilkan kualitas prima.

Hindari kanibalisme

“Keseragaman ukuran menentukan pertumbuhan. Yabby yang berukuran sama cenderung mengkonsumsi pakan secara merata. Bayangkan, jika ukurannya beragam. Bisa dipastikan yang bertubuh lebih besar akan menghabiskan pakan, sementara yang kecil tak kebagian. Akibatnya pertumbuhan tidak sama,” ucap penyantap bakso itu. Ketidakseragaman juga menyebabkan tingkat kenibalisme tinggi. Lobster bertubuh besar akan dengan mudah memangsa yang berukuran kecil.

Cara lain dengan pengaturan populasi. Menurut pria berkulit putih itu, jumlah populasi yang tepat dapat menekan kanibalisme 10%. Idealnya, dalam bak ukuran 1 m2 dihuni 50 lobster ukuran di atas 10 cm. “Lagi pula kalau populasi terlalu padat , ukuran menjadi tidak seragam,” ujar sulung dari 2 bersaudara itu. Pengaturan jumlah populasi belum cukup untuk menekan kanibalisme.

Kolam-kolam pembesaran mesti dilengkapi tempat persembunyian. Itu sangat diperlukan saat lobster ganti kulit agar terhindar dari ancaman temantemannya. Maklum, yabby akan memangsa saat kawannya sedang moulting. Untuk itu, Adi sengaja memasang potongan-potongan pipa ke dalam bak-bak pembesarannya. Jumlahnya disesuaikan dengan populasi. Misalnya, jika dalam bak pembesaran dihuni 50 lobster, paling tidak 80 buah pipa mesti tersedia. Selain pipa, dipasang pula bata-bata roster dan bebatuan untuk sarana bersembunyi.

Air sumur

Untuk pengairan, Adi membuat 2 buah sumur. Air dari sumur disedot dengan pompa, kemudian dialirkan melalui pipa PVC dari kolam paling atas dan bermuara di bak paling bawah. Kolam terbuka memungkinkan langsung bersentuhan dengan alam sehingga kualitas air mudah menurun. “Matahari yang terlalu terik menyebabkan air cepat berlumut sehingga menyebabkan air mudah kotor. Selain itu, warna kulit lobster kurang cerah. Asal warna biru berubah menjadi kecokelatan,”ucap Adi.

Supaya kualitas air tetap terjaga, sebulan sekali dilakukan pergantian air secara bergiliran. Misalnya, pada hari pertama 4 bak dibersihkan dan diganti airnya. Selang sehari 4 kolam lain, demikian seterusnya. Itu dilakukan sambil menyeleksi lobster. Cara lain dengan menutup permukaan air dengan genteng yang disusun. Selain dapat mempertahankan kualitas air, pun mampu menjaga warna kulit lobster tetap cerah.

Adi lebih memilih air sumur ketimbang air ledeng. Kaporit di air ledeng bisa membuat lobster mabuk dan mati mengenaskan. Selain itu, penggunaan air tanah bisa memangkas biaya air sampai 50%.

Sistem bak bertingkat bisa dijadikan solusi jitu bagi mereka yang berniat beternak lobster secara besar-besaran. Selama ini ada anggapan, untuk menjadi seorang peternak yang besar mesti memiliki lahan luas. Itu tidak seluruhnya benar. Buktinya dengan lahan terbatas pun, produksi bisa dimaksimalkan. Itulah yang sudah dilakukan Adi Iskandar sejak 2 tahun silam. (Hawari Hamiduddin)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img