Sunday, November 27, 2022

Hijau Dalam Kota

Rekomendasi

Pada 2010 Singapura memiliki ruang hijau 46,5% dari sebelumnya 37,5% pada 1986Kota metropolitan nan asri laksana Singapura kini hadir di tanahair.

 

Suara gemericik air mancur itu membuat pengunjung taman Undaan seluas 1.375 m2 yang terletak di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, kerasan duduk di bangku berbentuk aneka buah-buahan di pinggir kolam. Dari sana mereka bisa menikmati hijaunya taman yang dihiasi melati jepang Pseuderanthemum reticulatum, spyder lily anggota keluarga Amarylidaceae, dan ubi hias Ipomoea batatas ‘Marguerite’. Lima tahunan lalu ke lokasi itulah biasanya para pengendara motor dan mobil mengisi bahan bakar minyak. Harap mafhum taman Undaan yang selalu ramai oleh pengunjung pada sore hari itu semula memang stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Lokasi itu berubah wajah karena pemerintah kota Surabaya tahu benar pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau (RTH). Riset oleh Soegih Ratri Widyanadiari dari Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknk Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, menunjukkan pentingnya ruang terbuka hijau dalam menyerap emisi CO2 di perkotaan. Soegih mencatat pada 2010 ruang terbuka hijau di Surabaya Selatan hanya mampu menyerap 5,719,20 ton CO2 per tahun (0,59%). Dengan meningkatkan jumlah RTH baru seluas 29,09 ha, emisi CO2 yang terserap menjadi 13,638,72 ton per tahun (1,41%) pada 2013.

Harap mafhum berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2008 Surabaya salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di Indonesia dengan tingkat polusi PM10-benda-benda partikulat yang ukurannya kurang dari 10 mikron-mencapai 69 mikrogram/m3 per tahun. Padahal WHO menetapkan standar aman polusi PM10 per tahun sebesar 20 mikrogram/m3.

Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM, (tengah) beserta Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Hasanuddin Ibrahim SpI, serta Direktur Budidaya dan Pascapanen Hortikultura, Dr Ir Ani Andayani MAgr, (paling kanan) pada kegiatan pencanangan kegiatan Green City 2012 di Medan, Sumatera UtaraTaman vertikal menjadi  solusi buat kota metropolis yang lahan terbukanya semakin sedikitKota hijau

Adalah Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini, MT yang menggerakkan penambahan ruang terbuka hijau di ibukota Provinsi Jawa Timur itu. Selama masa pemerintahan Walikota sejak Juni 2010 hingga Juni 2012 bermunculan belasan taman kota. Sebut saja taman Bungkul di Jalan Raya Darmo, taman pelangi di Bundaran Dolog, taman ekspresi di jalan gentengkali, dan taman flora eks kebon bibit di Bandung.

Keberadaan taman di dalam kota seperti yang terlihat di Surabaya itu merupakan salah satu konsep green city yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dr Ir Hasanuddin Ibrahim SpI, mengatakan, “Green city adalah kota asri, yaitu suatu kota yang sejuk, bersih, indah yang bersifat ekologis, yang menjadi dambaan warga masyarakatnya.”

Keberadaan taman berisi tanaman hias, buah, maupun pohon membuat orang yang berada di sekitarnya menjadi nyaman. “Itu karena pohon memberikan oksigen yang dibutuhkan manusia,” kata Hasanuddin. Newton, salah satu situs komunitas elektronik untuk ilmu pengetahuan alam yang disponsori dan dioperasikan oleh Argonne National Laboratory’s Educational Programs dan dikepalai oleh Andrew Skipor PhD di Illinois, Amerika Serikat, mencatat setiap helai daun menghasilkan 5 ml oksigen per jam. Jika tanaman rata-rata memiliki 3.000 daun, maka mampu memproduksi 15 l oksigen per jam.

Apabila rata-rata seorang dewasa sehat dalam keadaan istirahat membutuhkan 53 l oksigen per jam untuk bernapas. Artinya, satu orang dewasa perlu 4 tanaman untuk mencukupi oksigennya. Keberadaan oksigen yang cukup juga membuat orang hidup nyaman sehingga tingkat stres berkurang dan tidak mudah sakit. Akibatnya, produktivitas masyarakat meningkat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang kota yang sehat idealnya memiliki minimal 30% ruang terbuka.

Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Hasanuddin Ibrahim SpI, “Green city adalah kota asri, yaitu suatu kota yang sejuk, bersih, indah yang bersifat ekologis, yang menjadi dambaan warga masyarakatnya”Antistres

Konsep kota hijau juga yang sejak 50 tahun silam diterapkan oleh Singapura, salah satu negara terhijau di dunia. Perdana Menteri Singapura ketika itu, Lee Kuan Yew, mencanangkan Singapura sebagai kota taman. Meski hanya seluas 700 km2 atau setara Kota Jakarta ruang hijau di Singapura mencapai 37,5% pada 1986 dan menjadi 46,5% pada 2010. “Luas dataran Singapura memang terbatas tapi itu bukan alasan ruang terbuka hijau harus hilang,” tutur Deputi Direktur Taman Nasional Singapura, Lee Pin Pin, dalam wawancara dengan wartawan Trubus Imam Wiguna pada Juli 2010.

Konsep itu diwujudkan dengan berbagai kebijakan pendukung. Misal pada 2003 pemerintah Negeri Singa mengeluarkan kebijakan bahwa setiap penyebaran 1.000 penduduk mesti dibuat 0,8 ha ruang hijau. Untuk itu taman kota pun dibangun di berbagai pelosok, hingga atap dan dinding gedung alias taman vertikal.

Albert Quek, perancang taman vertikal di Singapura, mengungkapkan taman vertikal solusi buat kota metropolis. “Pembangunan gedung untuk hunian dan kantor sebuah keniscayaan di sebuah kota dan pasti mengurangi ruang hijau. Taman vertikal mengganti ruang hijau itu tanpa banyak menyita tempat,” tutur Albert.

Konsep serupa pula yang diusung dalam program Green City Kementerian Pertanian (Kementan). “Untuk menyiasati keterbatasan lahan kita dapat membangun taman vertikal maupun taman atap,” ujar Direktur Budidaya dan Pascapanen Florikultura, Dr Ir Ani Andayani, MAgr.

Sebuah penelitian di Singapura mengungkapkan bahwa taman vertikal mampu menurunkan kebisingan kota yang membuat stres penghuninya. Taman vertikal meredam suara hingga 9,9 desibel. Suara bising lalu lintas pun menjadi lebih lembut.

Kerjasama

Saat ini ruang hijau di sebagian besar kota di tanahair masih jauh dari ideal. Sebut saja Jakarta yang hanya 9,8%. “Untuk itu perlu adanya kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, seperti Pemerintah Daerah, dinas terkait, instansi terkait-antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Kehutanan-pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan warga setempat,” tutur Hasanuddin.

Oleh karena itu Direktorat Jenderal Hortikultura Kementrian Pertanian mengalokasikan kegiatan Green City bekerjasama dengan 10 walikota di Indonesia: Medan, Palembang, Tangerang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar untuk mewujudkan kota-kota hijau di Indonesia. “Kampanye promosi taman kota pun akan dilakukan di 10 kota itu,” ujar Ani Andayani. Kegiatan Green City 2012 itu dicanangkan pada acara Pekan Flori Flora Nasional pada 19 Juni 2012 di Medan, Sumatera Utara.

Kementerian Pertanian juga bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum mengembangkan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) di 60 kabupaten/kota di tanahair. Di setiap lokasi itu secara bertahap penghijauan terus dilakukan hingga mencapai minimal 30%.

Menurut Ani Andayani program-program itu juga diharapkan dapat menggerakan industri florikultura tanahair, khususnya tanaman pot dan lansekap. Itu karena, “Misi utama dan fokus dari green city Kementan adalah menciptakan pasar dalam negeri florikultura dan komoditas hortikultura lainnya sehingga dapat menggiatkan usaha florikultura sebagai upaya meningkatkan penghasilan. Itu bisa dicapai bila dibarengi dengan kepedulian publik tentang manfaat serta nilainya bagi lingkungan dan kualitas kehidupan di sekitar kita,” kata Ani. (Rosy Nur Apriyanti)

Keterangan Foto :

  1. Pada 2010 Singapura memiliki ruang hijau 46,5% dari sebelumnya 37,5% pada 1986
  2. Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM, (tengah) beserta Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Hasanuddin Ibrahim SpI, serta Direktur Budidaya dan Pascapanen Hortikultura, Dr Ir Ani Andayani MAgr, (paling kanan) pada kegiatan pencanangan kegiatan Green City 2012 di Medan, Sumatera Utara
  3. Taman vertikal menjadi  solusi buat kota metropolis yang lahan terbukanya semakin sedikit
  4. Direktur Jenderal Hortikultura, Dr Ir Hasanuddin Ibrahim SpI, “Green city adalah kota asri, yaitu suatu kota yang sejuk, bersih, indah yang bersifat ekologis, yang menjadi dambaan warga masyarakatnya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img