Tuesday, July 23, 2024

Hikayat Nishihata di Nurseri Bertingkat

Rekomendasi
- Advertisement -

Yang dimaksud lantai dua adalah semacam jalan setapak yang lebarnya cuma 60 cm. Itulah sosok greenhouse bertingkat milik Nishihata di Osaka, Jepang. Di sanalah kolektor kawakan itu memajang beragam tanaman hias.

Penataan tanaman di rumah tanam itu sangat efisien dan menimbulkan kesan estetis. Lihatlah bromelia yang seluruh permukaan daunnya merah menyala berbaris rapi di gantungan. Penampilannya amat kontras dalam pot putih bersih. Di sisinya juga menggantung vriesia yang juga kerabat nanas. Seluruh tanaman di lantai dua digantung di partisi.

Sedangkan di lantai dasar berjajar aneka tanaman hias variegata dan sukulen. Kebanyakan berasal dari daerah tropis seperti biola cantik, ravenala alias pisang kipas, schefflera, dan palem merah variegata. Di atasnya menggantung nepenthes atau populer sebagai kantong semar, philodendron, dan bromelia. Semua ditanam di pot gantung. Untuk itu puluhan pipa besi berbagai ukuran dipasang di rangka besi dan rangka atap.

Rapi

Tanaman-tanaman digantung dengan ketinggian berbeda. Maksudnya agar tanaman yang jauh dari lorong pun mudah terlihat. Yang membutuhkan banyak sinar matahari diletakkan paling atas, misalnya bromelia fire ball yang merah terang dan tillandsia. Keluarga nanas-nanasan itu tahan sinar matahari sehingga daun tidak terbakar.

Baris di bawahnya digantung tanaman yang sedikit membutuhkan sinar matahari seperti philodendron, dan skindapsus. Di jajaran itu Nishihata menempatkan philodendron eceng gondok dan hoya variegata. Kedua tanaman variegata itu belum dijumpai di Indonesia. Barisan philo itu tidak sejajar dengan baris di atasnya sehingga tetap menerima sinar matahari.

Mereka semua seolah berlomba-lomba memamerkan keindahannya. Pokoknya ribuan tanaman koleksinya teratur rapi di sana. Tak ada area kosong dibiarkan melompong tanpa kehadiran tanaman. Bahkan di sekitar tangga penghubung dan jalan setapak pun digelayuti puluhan bromelia. Beberapa jenis tanaman tergolong langka sehingga harga jualnya pun lumayan mahal.

Tanah mahal

Pria separuh baya itu memang tak sekadar menikmati keindahan koleksinya, tetapi menjualnya. Bagi hobiis tanaman hias, nurseri Nishihata adalah lokasi belanja favorit di kota seluas 210 km2. Nurseri tanaman hias di tengah kepadatan Osaka, Jepang, itu memang luar biasa. Apalagi rumah tanam di atas lahan 1.500 m2 itu dibuat bertingkat.

Ketika membangun greenhouse bertingkat, Nishihata boleh jadi terinspirasi oleh taman gantung Babilonia. Raja Nebukadnezar membangun salah satu keajaiban dunia itu di atas atap bangunan berkubah. Sejatinya Nishihata tak sengaja membangun greenhouse bertingkat. Semula ia cuma hobi mengumpulkan tanaman hias dari berbagai penjuru dunia.

Namun, saat koleksinya semakin bertambah, ia berniat memperluas kebun. Sayang, hasrat itu kandas lantaran harga tanah di kota industri itu supermahal. Kondisi itulah yang memacu otak Nishihata bekerja lebih keras untuk mencari solusi. Maka ia pun memperluas nurseri. Bukan ke samping, tetapi ke atas alias beringkat. Caranya dengan membangun 2 rumah kaca setinggi 10 m.

Ruang kosong di atas tanaman akan dipakai untuk menggantung tanaman. Rumah tanam dilengkapi blower untuk menyedot air yang mengalir dari water curtain alias tirai air. Ketika suhu meningkat, mesin itu “menurunkannya”. Penghangat ruangan juga tersedia sehingga tanaman tetap sehat pada musim dingin. Nurseri itulah yang Juni 2004 dikunjungi oleh Chandra Gunawan Hendarto, pengusaha tanaman hias di Depok, Jawa Barat.

Jawerkotok

Selain itu Chandra mengunjungi nurseri yang khusus mengembangkan coleus di Tokyo. Tanaman hias yang di sini amat murah itu mendapat tempat di hati masyarakat Jepang. Jawer kotok di Jepang naik derajat saat ditanam dalam greeenhouse seluas 3 ha yang dilengkapi blower besar. Perawatannya pun tidak kalah dengan tanaman hias eksklusif.

Nurseri itu memperbanyak coleus dari biji. Bibitnya kemudian ditanam dalam tray kecil dan disusun di atas para-para beroda selebar 2 m. Jarak antarrak hanya cukup dilewati 1 orang demi efisiensi lahan. Pembibitan itu membentuk hamparan warna-warni cerminan daun jawer kotok. Ada merah, kuning, hijau, cokelat, atau paduan beberapa warna. Setelah 4—6 bulan tanaman dipindahkan ke pot komersial, ditanam tunggal atau berkelompok dan siap dipasarkan. (Syah Angkasa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img