Friday, August 12, 2022

Hilang Kanker Payudara Berkat Sirih Merah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sejak itulah perempuan kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah, itu dipaksa hidup berdamai dengan kanker. Meski kesakitan kerap mendera, ujung gunting dokter bedah seperti ancaman maut baginya. Pengalihan pada konsumsi rutin sirih merah, menghadiahi kesembuhan yang teramat dirindukannya.

Lembar pahit nan menyakitkan itu terbuka sejak penghujung 2002. Dalam guyuran hujan di November, rasa gatal teramat sangat menghinggapi organ payudara kiri Sunarsih. Sepanjang hari, perempuan peracik jamu itu terus-menerus menggaruk hingga meninggalkan bercak merah di seputaran Glandula mamae.

Bercak itu berkembang menjadi sumber rasa sakit luar biasa. Sepanjang malam ibu 2 putra itu terus mengaduh. “Nyeri, pegal, dan gatal bercampur menjadi satu,” tuturnya. Tak kunjung sembuh digempur gabungan rasa sakit, Asih—begitu ia biasa dipanggil— dilarikan ke klinik dokter praktek di Cilacap, Jawa Tengah.

Pernyataan dokter hasil pemeriksaan pada diri Asih ibarat bayang-bayang el maut yang kian mendekat. Asih pun luruh dalam tangis yang tak kunjung reda. “Saya tak percaya mengidap sakit kanker payudara,” ujar Asih. Baginya esok laksana hari terakhir. Padahal harapan dan rencana-rencana hidup masih demikian banyak yang belum terwujud. “Saya sangat ingin menyaksikan anak-anak saya tumbuh besar,” tuturnya. Namun, impian itu serasa kian menjauh darinya.

Tolak operasi

Asih bagai dihimpit keadaan. Sebab keputusan dokter pun seperti tak memihak padanya. Untuk memusnahkan sel kanker dari tubuh, dokter manyarankan operasi pengangkatan organ payudara kiri. Namun ketakutannya pada ruang bedah makin menyurutkan niat untuk tak mengindahkan nasehat dokter.

Trauma berkepanjangan masih tersisa di benak Asih. Belum genap 5 tahun, ibu angkatnya meninggal di meja operasi karena didera penyakit serupa. Takut ditimpa nasib sama, Asih berkeras menghindari jangkauan pisau bedah.

Pelarian pada obat alternatif menjadi satu-satunya harapan kesembuhan. Berbagai klinik pengobatan tradisional pun ia sambangi. “Pokoknya setiap kali ada saran obat alternatif pasti saya turuti,” ungkapnya.

Pengobatan akupuntur, tusuk jarum, hingga tenaga dalam telah ia lakoni. Perjalanan panjang seminggu sekali Cilacap—Pati dengan jarak tempuh lebih dari 180 km demi menjalani terapi dilakukan. Gagal di Pati, suami tercinta mengajaknya berobat ke Bandung. Kabarnya di Kota Kembang ada pengobat herbal kondang yang sanggup mengenyahkan sel kanker. Bandung pun tak segan ia sambangi. Kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang, dan Purwokerto kerap didatangi bila Asih mendengar ada pengobat di sana.

Namun, api kesembuhan serasa kian padam. Harapan untuk pulih tak tampak dalam setiap pengobatan yang dilakukan. Asih pun pasrah. Dengan langkah putus asa ia kembali menghadap dokter. Meski hanya ada satu pilihan; mengakhiri sakit di meja operasi.

Secercah harapan

Mukjizat itu dikirim Tuhan ketika Asih mengantre untuk pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Itu hari di pertengahan 2004. Asih mendapat saran dari orang yang tak dikenal untuk menjajal pengobatan dengan sirih merah di Blunyahrejo, Yogyakarta.

Tanpa meneruskan antrean, alumnus SMK Pembangunan, Yogyakarta, itu memburu alamat di secarik kertas yang disodorkan padanya. Setiba di tujuan, sang herbalis,

Bambang Sudewo, memberikan 3 lembar daun sirih merah yang harus dimakan seketika itu. “Pahitnya mencekik leher,” ujar kelahiran 50 tahun silam itu. Namun, demi harapan sembuh yang telah lama dirindukan daun berbentuk hati itu pun Asih kunyah.

Saat beranjak dari sana Sunarsih dibekali pil yang diramu dari sirih merah. Ia diwajibkan rutin menelan 2 pil pada pagi dan sore hari. Selain itu, selama 3 hari Asih diharuskan menelan 3 lembar sirih merah demi kesembuhan.

Hanya terpaut sebulan, bercak merah di payudara kiri berangsur menghilang. “Hanya saja benjolan sebesar ibu jari masih ada,” ujar Sunarsih. Konsumsi daun anggota famili Piperaceae itu pun tetap ia teruskan.

Memasuki bulan ketujuh benjolan di payudara kiri terasa kian mengecil. “Seperti susut,” katanya. Rasa pegal, nyeri, dan gatalgatal pun tak pernah lagi diderita Asih. Demi memastikan kebenaran sembuhnya, Sunarsih diantar sang suami memeriksakan diri ke Klinik Pramitha, Yogyakarta.

Hasil USG menyatakan, tak ada benjolan di payudara kiri, yang tertinggal hanya lubang kecil yang bakal cepat pulih dalam beberapa hari. Tangis haru pun meledak saat itu juga. “Seperti mendapatkan kembali sesuatu yang pernah hilang dari saya,” tutur Sunarsih.

Polusi timbal

Kanker payudara yang pernah mendera hari-hari Sunarsih bisa saja muncul lantaran polusi logam berat yang dahulu menjadi kesehariannya. Masa lalu sebagai matching calour di sebuah perusahaan tekstil memaksanya untuk tak segan menyedot pipet pewarna dengan mulut.

Lepas dari profesi itu, Sunarsih melanjutkan pekerjaan sebagai pegawai laboratorium kimia di perusahaan garmen. Polusi logam berat pun tak bisa ia hindarkan. Itu kian diperparah lantaran Asih tinggal di sebuah rumah yang dekat kawasan industri; pabrik peleburan besi tembaga.

Menurut dr Sidi Aritjahja dari Happy Land Medical Center Yogyakarta, sel kanker bisa terbentuk saat seseorang berhubungan dengan logam berat. “Itu karena logam berat bersifat karsinogenik alias pembentuk kanker dalam tubuh,” ungkapnya. Selain itu setiap hari selalu ada sel dalam tubuh yang bermutasi menjadi sel tumor atau kanker. “Sirih merah bisa menguatkan sel antikanker dalam tubuh sehingga sanggup menggempur kanker,” ujar Bambang Sudewo, herbalis di Yogyakarta.

Pengalaman sakit itu kian memperkaya khasanah hidup Sunarsih. Dari secuil sel kanker, Asih jadi pandai mensyukuri hadiah yang bernama hidup dari Tuhan. Rahasia-rahasia penyembuh dari alam itu pasti disediakan untuk penyakit manusia, sirih merah tak terkecuali. (Dewi Nurlovi

dan Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img