Friday, August 12, 2022

Himawan Adiyoson Untuk Setetes Bioetanol

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dinding gudang yang berlokasi di pinggiran kota Cilegon, Jawa Barat, itu sedikit rusak. Cat putihnya terkelupas di sana-sini. Saat terik sinar matahari datang memantul di pelataran gudang berlantai semen tebal itu menebar hawa panas. Suasana berbeda saat berada di dalam gudang seluas 200 m2 itu. Di sana mengalir hawa sejuk karena plafon gudang cukup tinggi, mencapai 10 m seperti rumah Belanda tempo dulu. Gudang itu kini menjadi tempat perakitan alat destilasi untuk kapasitas produksi 1 ton bioetanol.

Di gudang itu Himawan pertama kali melakukan eksperimen pembuatan bioetanol dari molase. Limbah tebu itu dipilih semata-mata karena Himawan sebelumnya terjun menekuni bisnis molase untuk memasok kebutuhan industri kecap dan penyedap makanan. ‘Di sini (Cilegon, red) molase mudah diperoleh karena banyak berdiri pabrik-pabrik gula,’ kata mantan manajer corporate banking sebuah bank swasta yang dilikuidasi pada zaman krisis moneter 1998 itu.

Suhu tinggi

Menjadikan molase sebagai bioetanol tidak mudah. Apalagi saat itu belum ada teknologi alat penyuling molase untuk bioetanol. Himawan mesti mengejar sumber-sumber informasi di berbagai institusi pemerintah dan universitas. Namun hasilnya jauh dari memuaskan. ‘Jawaban mereka hampir seragam, belum banyak penelitiannya,’ katanya. Sebab itu alumnus pascasarjana di Institut Pendidikan Magister Manajemen di Jakarta Pusat itu, putar haluan dengan bergerilya di dunia maya.

Secercah harapan muncul pertengahan 2006 saat Himawan mengunjungi situs make your own fuel. Situs itu dikelola Robert Warren dari Amerika Serikat. Nama Robert mendunia sebagai praktikus bioetanol sejak 1978. ‘Saya akhirnya membeli rancangan alat destilasi dari Robert Warren itu,’ katanya. Cetak biru di tangan masih perlu dimodifikasi hingga dapat dipakai memproses molase. Modifikasi itulah yang menghamburkan biaya besar. Untuk setiap eksperimen menelan dana Rp5-juta-Rp10-juta.

Sejatinya Himawan paham benar seluk-beluk proses destilasi. Latar belakang pendidikan dari Teknik Kimia Universitas Diponegoro cukup membantu mengetahui proses yang terjadi. Namun, teori dan praktek kadang berjarak. Saat ujicoba kerap muncul kendala. ‘Masalah terbesar menjaga api (saat fermentasi, red) dan aliran air pendingin supaya konstan di mesin destilasi,’ katanya. Berkali-kali suhu destilasi drop atau kelewat tinggi sampai di atas 100oC. Pada suhu rendah, etanol sulit menetes. Sebaliknya pada suhu tinggi etanol mengalir, tapi kadarnya rendah, 50-60%.

Semangat juang Himawan memang cukup besar. Meski berulang-ulang gagal, ia yakin suatu saat alat destilasinya mengeluarkan bioetanol di atas 90%. ‘Saya tidak menyesal mengeluarkan uang banyak,’ katanya. Saat mesin itu bisa menghasilkan bioetanol sesuai harapan, masalah lain timbul. ‘Etanolnya masih banyak mengandung aldehid dan keton sehingga bau,’ katanya. Saat disetor pada teman yang bersedia menampung, 400 liter produksi perdana itu semuanya dikembalikan. ‘Barangnya dianggap berkualitas rendah,’ kata ayah 2 putri itu. Setelah diperbaiki kualitasnya, semua kiriman bioetanolnya diterima.

Mitra

Ketertarikan Himawan membuat bioetanol tidak lepas dari kegemarannya menggali informasi kemajuan teknologi industri. ‘Saat itu di Amerika sudah ramai membicarakan pengganti bahan bakar fosil. Bahkan negara-negara di Afrika bisnis bioetanol sudah berjalan,’ katanya. Apalagi saat itu denyut utama bisnisnya, mengekspor cassava chip, biji kapas, dan biji kapuk ke Korea mulai berhenti. Padahal tiap bulan Himawan rutin mengirim 50 kontainer bahan-bahan itu. ‘Stop karena keuntungannya menipis akibat devisiasi nilai rupiah,’ ujarnya.

Setelah mampu membuat bioetanol di atas 95%, Himawan lebih memilih berkonsentrasi di sektor hulu. Dia lebih banyak memikirkan cara membuat alat destilasi bahan bioetanol untuk kapasitas besar, di atas 1 ton/hari. ‘Ini penting untuk ke depan karena alat destilasi Indonesia paling banter berkapasitas produksi 250 l/hari,’ katanya.

Toh sektor hilir tak begitu saja mentah-mentah ditinggalkan. Himawan membuat pabrik bioetanol di Cikande, Provinsi Banten, dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 l/hari. Selain itu ia juga menjalin kerja sama win-win solution dengan pembeli perdana produksinya. Dialah yang jadi agen pemasaran sekaligus menggaet mitra lain. Salah satu bentuk kerja sama yang sudah berjalan adalah bersama PTP VIII dan Pemda Kebumen. ‘Kami memasok alat dan alih teknologi. Keuntungan nantinya dibagi berdasarkan persentase kepemilikan saham,’ ujar Sugeng Hardjanto, mitra Himawan.

Menurut Himawan masalah aturan cukai yang belum jelas pada produk bioetanol menjadi sandungan besar yang dihadapi. Maklum dengan dikenakan cukai sebesar Rp10.000/l, biaya penjualan bioetanol bakal menjulang. ‘Ini yang tidak diharapkan karena boleh jadi konsumen tidak tertarik lagi,’ katanya. Gara-gara cukai itu pula pertengahan 2007 lokasi penyulingan di Cilegon sempat digrebek oleh aparat kepolisian. ‘Mungkin dikira kami memproduksi etanol untuk miras,’ ujar Himawan.

Sebab itu pula Himawan bersama beberapa teman kini merintis terbentuknya asosiasi pengusaha bioetanol skala kecil. ‘Saat ini kami berhimpun membentuk asosiasi pengusaha bioetanol yang memiliki kapasitas produksi di bawah 5.000 l/hari,’ katanya. Dengan terbentuknya asosiasi itu Himawan berharap ada standar baku dalam produksi bioetanol termasuk memberi perlindungan agar kelangsungan industri bioetanol skala kecil dan menengah bisa bernapas panjang. (Dian Adijaya S)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img