Thursday, January 22, 2026

Hitung Cermat Usaha Terong Jepang agar Tetap Menguntungkan

Rekomendasi
- Advertisement -

Menurut konsultan agribisnis dari Bogor, Subagja S. Ubaedillah, keberhasilan panen membutuhkan pengorbanan dalam pengelolaan budi daya. Oleh karena itu, penyusunan rencana usaha tani harus menghitung komponen biaya seideal mungkin.

Dalam analisis usaha terong Jepang, Subagja mencantumkan biaya pemupukan dengan pupuk lengkap dan penggunaan mulsa. Berdasarkan hitungannya, pekebun tetap berpeluang meraih keuntungan.

Perhitungan dilakukan untuk luas lahan satu hektare dengan populasi 20.000 tanaman. Lahan dianggap sewa dan masa panen berlangsung dua kali sepekan selama empat bulan.

Harga jual minimal di tingkat pekebun dipatok Rp3.000 per kilogram. Dari angka itu, titik impas usaha dihitung untuk mengetahui batas aman produksi dan harga.

BEP produksi mencapai 33.820 kilogram yang menjadi batas minimal panen agar modal kembali. Sementara BEP harga berada di angka Rp2.013 per kilogram sebagai harga terendah yang masih menutup biaya produksi.

Rasio R/C menunjukkan angka 1,2 yang berarti setiap Rp1 biaya menghasilkan pendapatan Rp1,2. Dengan demikian, usaha terong Jepang dinilai tetap menguntungkan selama produktivitas dan teknik budi daya terjaga.

Catatan pentingnya, produktivitas bisa berbeda di setiap lokasi sesuai kualitas lahan dan teknik pengelolaan. Data ini merupakan olahan dari beberapa pekebun sehingga dapat menjadi acuan umum bagi petani pemula.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img