Saat kali pertama memulai usaha kepiting soka pada 2023, Syeli Sugianto rela mengeluarkan investasi hingga Rp150 juta untuk membeli 640 boks vertical crab house yang ia pesan dari Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Padahal, lokasi Syeli berada di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Ia terpaksa membeli dari tempat yang jauh karena di Samarinda belum ada yang menjual vertical crab house. Jumlah pembelian itu sudah termasuk sistem filterisasi sehingga tidak repot untuk merancang dan membuatnya.
Nilai pembelian itu juga termasuk ongkos kirim dari Surabaya ke Samarinda. “Jadi sudah komplet sehingga hanya perlu menginstalasi perangkatnya,” kata Syeli.
Meski memerlukan investasi yang relatif besar, ia yakin mendapatkan keuntungan. Itu terbukti hingga tiga tahun ini usaha budi daya kepiting soka masih berjalan. Bahkan, ia menambah 200 boks lagi sehingga total menjadi 840 boks.
Asumsi
- Masa budi daya dihitung selama satu siklus atau 3 pekan (21 hari).
- Kepiting soka dibudidayakan dalam vertical crab house dengan kapasitas 640 boks.
- Lahan yang digunakan adalah lahan sewa.
- Harga jual kepiting soka Rp160.000 per kg.
Kesimpulan
Break Even Point (BEP)
BEP untuk volume produksi:
BEP = Total Biaya Produksi / Harga Jual
BEP = Rp6.618.971 / Rp160.000
BEP = 41 kg
Titik balik modal tercapai bila hasil panen kepiting soka minimal 41 kg dalam satu siklus.
BEP untuk harga produksi:
BEP = Total Biaya Produksi / Volume Rata-rata Produksi
BEP = Rp6.618.971 / 75
BEP = Rp87.971
Titik balik modal tercapai bila harga kepiting soka minimal Rp87.971 per kg.
Rasio Pendapatan per Biaya (R/C Ratio)
R/C ratio = Pendapatan Kotor / Total Biaya Produksi
R/C ratio = Rp12.038.400 / Rp6.618.971
R/C ratio = 1,82
Setiap biaya sebesar Rp1,00 diperoleh pendapatan Rp1,82. R/C ratio lebih dari 1 berarti usaha ini menguntungkan.
Catatan:
- Produktivitas beragam tergantung perawatan.
- Harga bisa saja berbeda di setiap daerah.
- Data diolah berdasarkan pengalaman Syeli Sugianto.
