Sunday, August 14, 2022

I Gede Merta ‘Peniup Roh’ Mawar Gurun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di sana ada petuah, sosok orang tua tengah menasehati seseorang yang duduk takzim. Selain itu masih ada adenium unik berbentuk kodok, beruang, tikus, dan pesilat. Penampilan menyerupai bentuk aslinya sehingga orang awam pun cepat ‘menerjemahkan’ performa adenium-adenium unik kreasi Merta. Harap mafhum, pria 42 tahun itu memang seniman pemahat, pengukir, dan pematung. Pantas bila di tangannya bonggol-bonggol adenium yang semula membisu diubah menjadi berbagai bentuk unik yang ‘hidup’.

Keahlian memahat dan mengukir diperoleh secara otodidak. Sejak berusia 12 tahun ia belajar memahat kayu. Kini di seantero Bali, Merta sohor sebagai pelopor pembuatan mawar gurun alias adenium unik. Jejaknya kemudian diikuti oleh para seniman Pulau Dewata lain. Padahal, ia ‘baru kemarin’ mengenal adenium. Pada 2006 anak ke-2 dri 9 bersaudara itu menyaksikan kontes adenium di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

Di sana ia baru tahu, ‘Ternyata adenium bisa dibuat unik. Ini celah yang dapat dimasuki penggemar adenium di Indonesia, khususnya Bali,’ katanya. Itu bukan gagasan tanpa alasan. Untuk kelas total performance Indonesia kalah jauh ketimbang Thailand yang menggeluti adenium sejak 30 tahun silam. Adenium bunga? Taiwan jagonya. Sejak melihat kontes adenium itu, Merta berburu bahan berupa bonggol di Bali hingga ke Banyuwangi (Jawa Timur) dan Surakarta (Jawa Tengah).

Merta menangis

Ia beruntung lantaran bahan-bahan unggul di mata kebanyakan orang justru dinilai jelek. Dampaknya harga pun murah, Cuma Rp100.000- Rp500.000 per bonggol. Bonggol-bonggol itu ia olah menjadi beragam bentuk hingga menghasilkan 90 adenium unik sepanjang 2006. Keruan saja begitu menjadi adenium unik harganya berlipat-lipat. Di Bali harga adenium unik minimal naik 10 kali lipat dari harga bonggol sebagai bahan baku.

Memang tak ada patokan harga penjualan adenium unik. ‘Namanya juga barang koleksi. Jadi harganya sesuka hati kolektor dan pemilik,’ ujar jebolan Fakultas Hukum Universitas Saraswati itu. Namun, harga biasanya berkaitan dengan mutu. Menurut Merta adenium unik dikelompokkan menjadi 4 kelas: premium dan kelas 1 hingga kelas 3. Untuk kelas premium Merta enggan memberi batasan. ‘Itu tergantung subjektivitas masing-masing,’ katanya.

Adenium unik kelas 1 harus mempunyai ekspresi; kelas 2, mirip dengan objek asli, tapi belum mempunyai ekspresi; dan kelas 3, adenium unik yang bentuknya dipaksakan. Yang penting, semakin realis sebuah adenium unik, kian bagus kualitasnya. Itu lantaran bonggol adenium yang abstrak harus dibuat serealis mungkin, kebalikan dari seni lukis. Oleh karena itu mengolah bonggol menjadi bentuk tertentu bukan pekerjaan gampang.

Yang tersulit mengolah bonggol menjadi bentuk manusia. Sebab, bahan yang digunakan mesti mempunyai masing-masing 2 calon tangan dan kaki; leher, serta kepala. Tingkat keberhasilannya 1 : 3. Tingkat kesulitan berikutnya, mengolah bonggol menjadi satwa berkaki 4 dengan tingkat keberhasilan 1 : 2 dan satwa berkaki 2 (1 : 1). Yang termudah, menjadikan bonggol menjadi satwa melata.

Kesulitan lain, mencari bonggol yang pas sesuai anatomi yang diinginkan. Ayah 2 anak itu pernah tak menemukan bonggol yang pas setelah menyortir 300 bonggol. Bila bonggol itu ditemukan, Merta membiarkannya selama 3 bulan untuk memulihkan luka. Hampir semua adenium unik hasil pemotongan bonggol sehingga menimbulkan luka. Tahap berikutnya mengolah bonggol ketika luka ‘sembuh’.

Bagi Merta sekalipun yang piawai memahat batu dan kayu, mengolahnya pun sulit. ‘Dari 10 bonggol yang dibuat, hanya 3 yang jadi, 7 lainnya mati,’ katanya. Pria kelahiran Karangasem pada 1965 itu pernah menangis lantaran adenium unik kreasinya mati. Ia mengolah bonggol hingga menjadi bentuk kadal selama setengah tahun. ‘Saya tak sabar menggoreskan pisau sehingga lukanya terlalu banyak dan membusuk,’ kata Merta.

Ke mancanegara

Di Banjar Babakansari, Kotamadya Denpasar, Merta kini tenggelam dalam kesibukan mengolah bonggol-bonggol menjadi adenium unik. Ia lebih mudah dijumpai pada malam ketimbang siang. Ketika orang-orang terlelap tidur, Merta justru terjaga dan berkreasi. Secangkir kopi dan berbatang-batang rokok menemaninya hingga pagi menjelang. Ia beralasan, bekerja pada malam hari lebih tenang sehingga pikirannya lebih mudah berkonsentrasi.

Banyak orang terkagum-kagum melihat hasilnya. Ketika Trubus berkunjung ke Paras Bali-nurseri milik Merta seluas 2.000 m2-dua pelancong dari Irlandia dan Skotlandia tengah mengamati adenium-adenium unik bikinan Merta. Wisatawan seperti merekalah yang biasanya membeli adenium unik sebagai cenderamata. Wajar jika hasil karya Merta ada di berbagai negara seperti Thailand dan Taiwan.

Andy Solviano Fajar juri kontes yang puluhan kali menilai sosok adenium unik punya kesan tersendiri terhadap hasil kreasi sang maestro. ‘Saya baru melihat seniman adenium yang karyanya begitu unik dan penuh ekspresi. Ya itu kreasi I Gede Merta,’ ujar juri asal Surakarta, Jawa Tengah, itu. Di tangannya sebuah bonggol yang dingin dan membisu berubah menjadi sosok hidup yang menggairahkan penuh ekspresi. (Sardi Duryatmo/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img