Thursday, August 11, 2022

Ibu Tien Soeharto Cup 2005 Tuyul Raih Gelar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tuyul—nama bekisar milik Santoso Tedjo asal Surabaya, Jawa Timur—memang istimewa. Suara depan, tengah, dan belakang mantap. “Lengkingan sangat konsisten dan suara belakang tinggi, itu poin meraih nilai,” ujar Muhammad, juri asal Madura. Sejak awal digantang hingga akhir penjurian terus- menerus mengeluarkan suara jernihnya tanpa lelah.

Perjalanan Tuyul menjadi kampiun tergolong mulus. Di babak penyisihan ia bersaing ketat dengan 75 bekisar. Dengan nilai di atas 316, ia berhak maju ke babak semifi nal kelas utama bersama 13 semifi nalis lainnya. Di babak itu suara dan mental Tuyul kembali diuji. P e r s a i n g a n n y a semakin ketat, karena diikuti 13 kontestan lain yang bersuara memik at d a n bermental juara. Namun, bekisar hitam itu berhasil meruntuhkan harapan 8 bekisar lain. Ia melaju ke babak fi nal bersama 5 kontestan lain.

Di partai puncak perseteruan antar bekisar semakin memanas. Enam juri dengan cermat menilai ke-5 fi nalis. Suara indah bekisar sahut-menyahut, seakan ingin menunjukkan yang terbaik. Kompetisi itu berakhir di menit ke-15. Dengan total nilai 340 Tuyul merebut piala Ibu Tien Soeharto 2005. Karena kurang konsisten, Rambo jagoan lain Santoso yang terpaut 1 poin dengan Tuyul harus puas di urutan ke-2. Ghale, jagoannya Lulu Budihardjo, asal Jakarta berada di posisi ke-3.

Ketat

Persaingan ketat juga terjadi di kelas madya. Setelah b e r t a n d i n g dengan 19 bekisar, Jimmy ,b e k i s a r milik Santoso Tedjo akhirnya menjadi salah satu dari 10 ayam yang lolos ke fi nal. Dengan modal suara bersih dan nada bagus ia berhasil menggondol predikat juara di kelas madya. Terpilihnya Jimmy menjadi kampiun, sekaligus mengubur impian Ninja, andalan Yohanes yang harus puas di urutan ke-2. ”Vokal Ninja tak kalah memikat, hanya saja suara ujung agak mengendor, maklum ajang ini debut pertamanya,” ujar Muhammad, juri asal Madura.

Selain mempertandingkan kelas madya dan utama, ajang ini pun memilih kontestan berpenampilan terbaik. Sembilan bekisar elok bersaing di sana. Juara I direngkuh Katon, bekisar milik Bambang, asal Jakarta. Fisik sangat prima, terlihat dari warna bulu yang mengkilap, postur tubuh proporsional, dan jengger berdiri tegak. Saingannya, Maringono dan si Hitam Somalian sebetulnya bagus. Sayang, dewi fortuna belum berpihak kepadanya sehingga mereka harus puas di urutan ke-2 dan ke-3. “Menciptakan bekisar cantik tidak terlepas dari ketelatenan pemiliknya,” kata Bambang, sambil menenteng jagoannya keluar dari arena lomba.

Agenda rutin

Lomba ayam bekisar yang memperebutkan piala bergilir Ibu Tien Soeharto itu agenda rutin yang digelar di anjungan taman bekisar TMII. Kegiatan itu diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Taman Mini Indonesia Indah.

“Kontes ini sudah menjadi agenda setiap tahun. Ini penyelenggaraan yang ke-12 kali,” kata Lulu D Budihardjo, S.Akt. Sekretaris jenderal Keluarga Penggemar Bekisar Indonesia (KEMARI) Tercatat 19 cabang KEMARI ikut berpartisipasi di antaranya, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bogor, Jakarta, Kebumen, Banjarnegara, Trenggalek, Madura, dan Surabaya. (Hawari Hamiduddin)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img