Thursday, December 8, 2022

ICA-FIFe National Cat Show 2008 Mio, Penjegal Para Persia

Rekomendasi

Sejak umur 3 bulan penampilan Mio sudah terlihat menarik. Bentuk kepala membulat dengan hidung pesek. Corak bulunya pun semakin jelas: kombinasi cokelat keemasan, hitam, dan putih. Sepintas mirip loreng macan. Saat itu, meski belum, berprestasi ternakan Canina Cattery di Jakarta Selatan itu menjadi rebutan hobiis kucing. ‘Mungkin sudah jodoh, saya yang mendapatkannya,’ ujar Eddy Arru, hobiis asal Bandung.

Penampilan Mio kian istimewa saat beranjak remaja. Mio yang kini berumur 8 bulan sangat lincah dan berani. Itu pula yang tampak saat Mio berusaha merebut mainan dari tangan Bayu R Susetyo, juri lomba. ‘Mata bulat yang terbuka lebar menandakan kucing ini responsif dan aktif,’ kata Bayu. Berbeda dengan Harrods, rival terdekat dari ras persia, yang kerap memalingkan muka. Juara pertama kelas junior pun jatuh pada Mio.

Temperamen

Kemenangan itu lampu hijau bagi Mio untuk melangkah ke babak final. Di sana ia harus melawan 2 kampiun kelas best female dan best kitten. ‘Di babak final temperamen menjadi poin penting,’ ucap Bayu. Saat Bayu berkali-kali melambaikan mainan untuk menggoda ketiga kontestan, Mio yang terlihat paling senang.

Itu tak tampak pada juara best female, Rafflesia Chocolisius. Nyaris sepanjang penilaian klangenan Niniek Susanty dari Jakarta Selatan itu menutup mata. ‘Mungkin lelah karena stres,’ kata Niniek. Padahal bila mata Rafflesia terbuka, gelar BIS 100% jatuh ke tangannya. Maklum di mata juri bulu Rafflesia lebih halus daripada Mio. Hal sama ditunjukkan Be Cat’s Bonia. Jawara best kitten itu tak kalah lincah dibandingkan Mio. Temperamennya pun tenang. Sayang, jarak kedua telinga berdekatan lantaran bentuk kepala belum bulat sempurna, sehingga mengurangi nilai.

Persaingan ketat juga terjadi di kelas dewasa jantan. Bermodalkan tulang kaki dan punggung kuat, Commodore Inferno melibas 2 pesaing. Klangenan Bony Herlambang asal Bintaro, Tangerang, itu punya corak bulu menawan. Salah satu pesaingnya yang berbulu merah kecokelatan dan putih, kalah lantaran perutnya buncit. Bobotnya pun mencapai 4,3 kg. ‘Idealnya bobot jantan 4 kg. Lebih dari itu tandanya mengalami obesitas-kegemukan,’ ujar Bayu.

Persaingan 60 kontestan yang terbagi dalam 4 kelas – kitten, junior, female, dan male – itu berlangsung pada 2 November 2008 di ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan. Kontes yang digelar untuk memeriahkan Jak Aqua Zoo 2008 itu memperebutkan piala bergilir Gubernur DKI Jakarta yang pada tahun ini diraih oleh Mio.

Steril

Dua minggu sebelumnya, digelar kontes Bekasi Cat Festival 2008. Lomba ini ditujukan untuk kucing rumahan nonpedigree – tak bersertifikat. Sebab itu kelas yang dilombakan terbilang unik seperti kelas steril (neuter), kucing lokal, dan non-pure breed. Di kelas steril diikuti kucing-kucing berbobot tubuh 2 kali lebih berat daripada normal.

Robson muncul sebagai juara di kelas steril mengalahkan Nala yang dinilai terlalu gemuk lantaran bobotnya mencapai 7 kg. Di kategori non-pure breed Frely Immut didaulat menjadi yang terbaik. ‘Kepala bulat dan hidungnya pesek mirip persia,’ kata Julian Susanty, juri lomba. Ia mengalahkan PF Sweety milik Arji yang bertubuh kurang kompak. Secara keseluruhan kontes yang diikuti lebih dari 20 kontestan itu berlangsung meriah. Menurut Santy, ketua panitia, kontes ini diharapkan dapat memberi motivasi pada pemilik kucing rumahan agar merawatnya lebih baik, tak kalah dengan pemilik kucing ras. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img