Friday, December 2, 2022

ICA National Cat Show 2005 Nikita Masih yang Terbaik

Rekomendasi

Dengan gelar itu Nikita mencetak hattrick. Dari 3 kali kontes skala nasional yang diadakan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, persia putih asal Bandung itu selalu maju sebagai kampium. Wajar jika Ermita Hadi, sang pemilik, tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

Padahal, di awal kontes ia sempat was-was, “Nikita sepertinya stres, terlalu lama menunggu,” ujar Mita saat ditemui di pagi harinya. Toh, kekhawatiran itu tak terbukti. Ali—panggilan akrab Alfred Wittich—tanpa ragu-ragu memilih Nikita sebagai jawara. “Penampilan Nikita sangat mengesankan, dari mulai bulu, mata, hingga tubuh semuanya exellent,” komentar Ali.

Rival Nikita, Jagakarsa Romantik Rumba milik Wulan dari Depok bukannya tak menarik. Anggota ras birman ini memiliki proporsi tubuh, sorot mata, dan ekspresi yang menawan. Gerakannya pun lincah dan trengginas. Sayang kali ini ia harus mengakui keunggulan Nikita.

Berjalan Seru

Walaupun begitu perjalanan Nikita ke tangga jawara tidak semulus jalan tol. Perjuangannya dimulai di perebutan gelar best of variety. Dua persia putih, Shantikatten Star Dust of Britania milik Suharno dan Glenbar Teagan of Barrand milik Emma Nocky menjadi pesaing berat. Ketiga persia cantik ini sama-sama meraih nilai 97.

Ali, presiden of Th e Federation Feline Helvettique, asosiasi kucing di Swiss, perlu waktu lama untuk menjatuhkan pilihan. Beberapa kali ia mengangkat ketiga kucing secara bergantian. Alat mainan tak ketinggalan digoyang-goyangkan untuk melihat reaksi ketiganya. Nikita terlihat paling tenang, karena itulah gelar best of variety dan nilai exellent 1 diberikan kepadanya. “ Tabiat persia memang harus tenang, beda dengan kucing domestik,” komentar Herry Marwanto, juri nasional asal Bandung.

Setelah sukses di langkah awal, Nikita maju di kelas best open class male. Di sini persia bernama lengkap Aikland Nikita of Mitacats ini sukses menekuk 7 pejantan lain. Pesaingnya tidak tanggung-tanggung, para peraih angka > 97 alias kucing yang mendapat penilaian luar biasa dari juri.

Blue Jeans milik Shanty Ariesta contohnya. Si Blue Tabby Spotted ini lebih dulu tampil memikat di kelas excotic. Namun, dewi fortuna belum berpihak padanya. Blue Jeans hanya menempati peringkat kedua best open class male. Toh, Shanty tidak terlalu kecewa. Marble, persia betina miliknya berhasil merebut gelar best open class female. Bentuk tubuh cobby dengan mata black tortie seolah menenung mata juri.

Marak

Dua gelar sudah di genggaman. Dari sini langkah Nikita seolah tak terbendung lagi. Tiga gelar lain berturut-turut diraihnya. best in open class, best in cattegory 1, dan akhirnya best of the best. Di kelas best in cattegory 1 persia milik Mitacat’s Cattery ini dengan gemilang mengalahkan 4 juara dari masing-masing kelas: kitten class, juniorclass, dan neuter class.

Total ada 11 kelas yang dipertandingkan. Peserta terbanyak ada di kelas male in open class, 19 ekor. Dari kelas junior class, 6—10 bulan, TLC I Luv U2 dari Surabaya berhasil menjadi juara. Kemenangan ini tidak disangka-sangka Ratih, pemiliknya. Pasalnya, persia berwarna biru dan putih ini harus bersaing dengan kucing-kucing impor. Namun, konstruksi tubuh dan keindahan warnanya sempat dipuji khusus oleh juri.

Di kelas domestic long hair, gelar juara diborong oleh Irene Ardiani dari Solo. Kedua kucingnya, Nonik dan Bravo meraih best female dan best male. Sementara di kelas junior, machiko milik Fitriah S. dan Fizie milik Churingin berbagi gelar untuk kategori female dan male.

Juri internasional

Kontes kali ini terasa istimewa. Pasalnya, inilah pertama kali seorang juri internasional ikut berpartisipasi. Alfred Wittich memang juri resmi FIFe (Federation International Feline)—organisasi kucing dunia. Bagi Alfred, ini yang ketiga kalinya ia mengunjungi Asia Tenggara setelah Singapura dan Malaysia. Pembiak yang bergiat di kucing sejak 1976 itu sangat terkesan dengan semangat pecinta kucing di Indonesia. “Antusiasme pecinta kucing di sini sangat tinggi. Kualitas kucingnya pun tak kalah jauh dengan negara lain,” ujarnya sambil tersenyum

Cat Show itu merupakan puncak dari rangkaian kegiatan perayaan hari ulang tahun yang ke-2 ICA. Selain kontes kucing juga dilakukan diklat cattery dan seminar tentang breeding dan penjurian. “Masyarakat pecinta kucing Indonesia bisa belajar banyak hal, terutama sistem penilaian baru yang selanjutnya akan diterapkan ICA,” ujar drh Munawaroh, ketua pusat ICA.

Animo masyarakat cukup besar. Terbukti ada 75 ekor kucing yang ikut berlaga. Itu belum termasuk yang tidak lolos seleksi awal. Peraturan yang diterapkan kali ini memang lebih ketat dari biasanya. Soal kesehatan kucing menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Sedikit saja ada masalah, kucing tidak bisa ikut berlaga.

Sayang, ruangan lomba kurang besar. Akhirnya jumlah pengunjung yang masuk dibatasi tidak lebih dari 200 orang. Semuanya agar suhu ruangan terjaga dan kucing tidak stres. Walaupun begitu acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 itu tetap meriah. Museum Indonesia, TMII menjadi saksi bisu semangat pecinta kucing Indonesia. (Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img