Thursday, December 8, 2022

Ikan Eksotis Tunggu Pasar

Rekomendasi

Cara itu ditempuh Kosasih Wibowo supaya 4 pasangan Cyphotilapia frontosa ‘zaire’ mau memijah. “Berapa pun anakan yang nantinya didapat, sudah habis dipesan eksportir,” ujar peternak ikan hias di Bandung itu.

Anggota keluarga siklid asal Danau Tanganyika yang sebagian ikut wilayah Zaire di Afrika itu sedang naik daun. Sejak diperkenalkan 1—2 tahun terakhir, ia sangat diminati. Semburat biru menutupi hampir seluruh tubuh di antara corak zebranya menjadi daya tarik utama.

“Birunya lembut, tapi kontras dengan garis hitam yang melintang di atas mulut,” ujar Kosasih. Selama ini sebenarnya telah beredar beberapa jenis C. frontosa bersemburat biru seperti C.f Blue Zambia, C.f Blue Tanzania, dan C.f Burundi. Hanya saja letak birunya tertentu. Pada C.f Blue Zambia, misalnya, semburat biru hanya terlukis di seluruh sirip saja.

Menurut Kosasih sejak setengah tahun lalu ditangkarkan, permintaan C.f zaire terbesar datang dari eksportir di Jakarta. Setiap 2—8 pekan, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha Bandung itu rajin mengirim ikan berukuran 2 inci. Meski tidak bersedia menyebutkan total volume, tapi setiap pengiriman minimal berjumlah 100 ekor dengan harga mencapai Rp150.000 per ekor. “Pasar lokal sedikit menyerap terutama kolektor,” ujar Sen-Sen, panggilan akrabnya.

Sekitar 40%

C.f zaire hanyalah salah satu jenis ikan eksotis yang beredar. Menurut data Ornamental Fish Organization (OFI) 2003, dari sekitar 8.000 jenis ikan hias yang diperdagangkan di seluruh dunia, 40% merupakan jenis eksotis. Sebutan eksotis umumnya melekat lantaran ikan-ikan itu memiliki ciri antara lain: populasi terbatas dan endemik. Wajar bila ikan eksotis harganya mahal.

Selama ini negara-negara di Amerika Selatan seperti Brazil, Peru, dan Mexico; Afrika seperti Tanzania dan Zambia; dan Asia seperti Srilangka, India, dan Indonesia; adalah sumber ikan eksotis dunia. Indonesia memiliki tak kurang dari 150 jenis ikan eksotis. Salah satu yang paling populer adalah Botia macracanta asal Sungai Batanghari, Sumatera Selatan dan arwana superred asal Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Meskipun Indonesia termasuk sumber ikan eksotis, kenyataannya justru ikan asal Amerika Selatan dan Asia Barat yang banyak beredar di lokal dan eksportir. “Ikan-ikan itu diminati karena bisa diproduksi massal dan memiliki prospek ekspor bagus. Kita sendiri sangat kurang dalam eksplorasi jenis,” ujar Herman Oei, importir dan eksportir ikan eksotis di Villa Serpong, Tangerang.

Pada Indonesia Fish 2004 contohnya, jenis baru yang ditampilkan dalam perhelatan akbar ikan hias nasional itu didominasi ikan mancanegara. Sebut saja Phenacogrammus migropterus, Synodonty memranacea, Barbus fi lamentosus, Sky blue Boehlkai sp, Struisoma aurium, dan S. tychtys. Phenacogrammus migropterus misalnya dijual Rp15.000—Rp25.000 per ekor untuk ukuran dewasa sekitar 3—5 cm. Yang lain seperti Struisoma aurium lebih mahal lagi, menembus harga Rp35.000—Rp50.000 per ekor.

Kurangnya eksplorasi itu yang mendorong Herman memasukkan ikan eksotis dari luar. Sejak 2 tahun lalu hingga kini, direktur utama PT Asher Primatama Lestari itu sudah mengimpor lebih dari 20 jenis ikan eksotis dari Peru dan Guatemala. Sebagian besar mereka telah dilepas di lokal seperti sapu-sapu hias pleco, red pencil fi sh, corydoras, kitty tetra, long tail pinguin tetra, dan sky blue tetra. “Biar stok jenis di peternak kita terus bertambah. Yang didatangkan kebanyakan berukuran kecil kurang dari 20 cm,” ujarnya.

Sebagian besar jenis-jenis baru itu dijual Herman ke kolektor dan peternak untuk ditangkarkan. Jenis-jenis yang sulit dipijahkan seperti pleco tetap diimpor langsung. “Untuk pleco harus pesan jauh-jauh hari. Kadang barang ada, tapi lebih banyak tidak ada barang seperti sekarang ini,” ujar Herman. Pemakan lumut endemik Sungai Amazon itu minimal dijual Rp450.000—Rp1-juta per ekor, tergantung jenisnya. Parancitrus L-56 misalnya, dibandrol sekitar Rp500.000 per ekor.

Sepi peminat

Dari lacakan Trubus penjualan ikan eksotis di tingkat lokal tidak terlalu menggembirakan. Simak saja penuturan Ook, pemilik gerai ikan hias eksotis di Taman Kopo Indah, Bandung. “Di sini, konsumen kalau melihat ikannya pasti suka. Tapi begitu tahu harganya mereka sebagian besar tidak jadi membeli, kecuali yang benar-benar kolektor,” ujar pemilik Aquamoelia itu.

Saat ini Ook setidaknya menyetok 4 jenis ikan eksotis seperti chinese higfi n, butterfl y, huso-huso Acipenser ruthenus, dan seba mono Psettus sebae. Harga ikan rata-rata mencapai Rp50.000 per ekor untuk ukuran 2 inci.

Anwar—sebut saja demikian—di Plaza Maspion akhirnya menutup gerai ikan eskotisnya sejak setahun lalu. Semula penjualan pari hias Potamotrygon sp yang didatangkan dari Th ailand itu cukup menjanjikan. “Seminggu laku 2—3 ekor,” ujar pria paruh baya itu. Padahal, harga yang dipatok cukup tinggi. Varietas motoro yang berciri polkadot di tubuh misalnya, dijual minimal Rp300.000 untuk ukuran lebar tubuh 20 cm. Namun belakangan karena peminatnya terus menyusut, gerai yang memiliki sekitar 25 akuarium Potamotrygon sp itu pun tutup akhir 2004.

Tak hanya pedagang, harga sang ikan pun di lokal kadang ikut melorot. Lihat saja nasib alligator. Ikan bermoncong bak buaya itu kini hanya dijajakan Rp3.000—Rp5.000 per ekor ukuran 2 inci. Dua tahun lalu nilainya masih ajeg di harga Rp27.500. Semakin besar ukurannya semakin tidak laku lantaran ongkos perawatan semakin tinggi. Toh jenis ini masih menyimpan peluang ekspor. “Saya saja bulan kemarin baru terima order 10.000 ekor per bulan,” ujar Kosasih.

Mendatangkan sang ikan yang diinginkan bukan tanpa sandungan. Kematian kerap muncul karena salah pengemasan. Kurun Juni hingga November 2004 tidak kurang senilai Rp80-juta milik Herman Oei melayang siasia. Setibanya di Tangerang, 90% ikan di dalam 12 boks didapati mati. Beberapa jenis ikan seperti Tigrinus merodontus dan bandit fi sh Gymnotus karapo sudah dipesan hampir 5 bulan lamanya. Ikan-ikan itu mencapai harga Rp750.000 per ekor. “Kalau sudah begini cuma bisa mengurut dada sambil minta packaging yang benar pada pengiriman berikutnya. Semua itu kan untuk dijual lagi,” tutur Herman. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img