Sunday, August 14, 2022

Imigran Mediterania Tumbuh Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pantas bila sayuran itu digandrungi penikmat salad di Pulau Dewata. Rahasianya, seluruh sayuran dibudidayakan secara organik. Selain kesegarannya dinikmati, konsumen pun terbebas dari ancaman residu berbahaya.

Sayuran rempah dan selada yang diimpor dari Italia itu dibudidayakan di lahan 1,5 hektar. Satu hektar di antaranya ditanami aneka jenis selada seperti mizuna, lolo rosa, baby romain, dan iceberg. Sisanya ditanami sayuran rempah eksklusif seperti basil, sage, rosemary, tarragon, dan thyme.

Dari lahan seluas itu, perusahaan milik Marco de Leonardis-warga keturunan Italia-menghasilkan setidaknya 500 kg aneka jenis selada dan 250 kg sayuran rempah setiap bulan. Sayuran-sayuran itu didistribusikan ke pasar-pasar swalayan dan hotel-hotel berbintang di Bali.

Kompleks

Sayuran-sayuran mediteran itu di negeri asalnya memang tak dibudidayakan secara organik. Yusuf memilih organik lantaran menginginkan rasa dan aroma yang lebih berkualitas. ‘Buktinya selada dan herb (sebutan sayuran rempah, red) produksi kami lebih diminati,’ katanya.

Menurut Ir Edhi Sandra MSi, dosen Institut Pertanian Bogor, kandungan nutrisi yang kompleks dalam pupuk organik memungkinkan sifat-sifat tanaman tumbuh ideal. ‘Selain unsur makro dan mikro, pupuk organik yang diuraikan oleh mikroba juga dapat menghasilkan hormon, enzim, dan asam-asam amino yang diperlukan oleh tanaman,’ katanya.

Senyawa-senyawa kompleks itulah yang mendorong terbentuknya senyawa metabolit sekunder pada tanaman seperti asiri pada tanaman aromatik. Oleh sebab itu, tanaman aromatik seperti mint terasa lebih pedas dan aromanya lebih kuat.

Tersedianya unsur kalsium dan kalium pada pupuk organik membuat dinding sel tanaman menjadi kaku. Kedua unsur itu merupakan pembentuk dinding sel. ‘Pantas bila daun selada organik lebih renyah,’ kata Edhi. Selain itu, tanaman juga menjadi lebih kebal terhadap gempuran penyakit.

Mudah

Meski sayuran itu didatangkan dari mancanegara, toh tumbuh subur di tanahair. Yusuf menuturkan, tak ada perlakuan khusus untuk mengadaptasikan benih-benih sayuran itu. Sepekan sebelum disemai, biji-biji sayuran direndam dalam larutan fungisida. Setelah kering lalu disimpan di dalam lemari es. Tujuannya, ‘Untuk mengaktifk an dormansi,’ tutur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Udayana itu.

Benih-benih sayuran kemudian disemai dalam media berupa campuran pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:5. Setelah muncul 4 daun-sekitar 10 hari setelah semai-masing-masing tanaman dipisahkan. Satu per satu tanaman diambil dari wadah semai lalu ditanam di tanah basah yang dikepal-kepal seukuran kelereng. Sepekan kemudian sayuran itu ditanam di guludan berukuran 1 m x 10 m.

Sehari sebelum ditanami, lahan berketinggian 1.100 di atas permukaan laut itu diberi pupuk kandang dari kotoran sapi yang difermentasi dengan effective microorganisms (EM). Untuk guludan seluas 10 m2, diberikan sekitar 5 kg pupuk kandang. Jika dalam satu hektar terdapat 1.000 guludan, jumlah pupuk kandang yang diperlukan sekitar 5 ton.

Untuk perawatan, semprotkan pupuk daun organik seminggu sekali hingga 3 kali setiap periode tanam. Satu periode tanam selada sekitar 1,5-2 bulan. Sedangkan untuk sayuran rempah, selain memberikan pupuk daun, Yusuf juga memberikan nutrisi tambahan berupa pupuk bokashi berdosis 50-100 g per tanaman. Interval pemupukan setiap 2 pekan. Pupuk bokashi dibuat dari limbah sayuran apkir yang difermentasi dengan larutan EM.

Pupuk tambahan diperlukan karena sebagian besar jenis sayuran rempah tergolong tanaman tahunan, seperti rosemary, mint, basil, dan thyme. Tanamantanaman itu dipanen dengan cara dipetik pucuknya saja. ‘Agar tanaman muncul tunas lagi perlu diberi nutrisi tambahan,’ kata Yusuf.

Sayuran-sayuran itu juga diberi naungan plastik untuk melindungi tanaman dari deraan air hujan. ‘Bila selada terkena air hujan, pasti busuk,’ kata Yusuf. Begitu juga dengan sayuran rempah. ‘Pertumbuhannya jadi terhambat,’ katanya. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, tanaman disemprot larutan ekstrak biji mimba Azadirachta indica berdosis 5 ml yang dilarutkan dalam 14 liter air. Untuk lahan 1 ha dibutuhkan 1,5 liter ekstrak biji mimba. Interval penyemprotan sekali sepekan; pada musim hujan, ditingkatkan menjadi 2 hari sekali.

Kendala

Meski tergolong mudah, budidaya organik bukan berarti tanpa hambatan. Bila mengandalkan limbah sayuran, ‘Pasokan pupuk bokashi seringkali kekurangan,’ kata Yusuf. Menurut Ir Koentjoro Adijanto, dari Institut Pengembangan Sumberdaya Alam (IPSA) di Bali, pekebun sebetulnya dapat memproduksi sendiri pupuk bokashi. Bahan baku yang digunakan pupuk kandang, serasah daun, serbuk gergaji, dedak, molase alias tetes tebu (dapat digantikan gula pasir atau merah), dan air.

Campur seluruh bahan baku kemudian siram dengan larutan EM hingga merata. Untuk satu ton bahan baku diperlukan seliter EM yang dilarutkan dalam 100 liter air. Setelah itu tutup dengan plastik. Tujuh hari kemudian, pupuk bokashi pun siap digunakan.

Yusuf menuturkan, tingginya harga pestisida nabati juga menjadi kendala. ‘Sepuluh liter ekstrak biji mimba harganya mencapai Rp900.000,’ kata pria asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu. Kebutuhan pestisida untuk 1 musim tanam mencapai 9-12 liter/ha. Artinya, untuk membeli pestisida organik saja harus mengeluarkan biaya Rp810.000-Rp1,2-juta. Ketut Jadiyasa, staf pengajar IPSA menuturkan, untuk membuat ‘Pestisida organik sebetulnya dapat dibuat dari tanaman yang beraroma menyengat seperti sirih. Aroma sirih tidak disukai ulat, ‘kata Ketut. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img